10 Kecamatan di Kab Bandung Terdampak Banjir

Selasa, 27 Februari 2018 | 16:46:23 | Penulis : bb1 | 217 Kali dilihat

Evakuasi warga terdampak banjir Baleendah. by ist

SOREANG – Bencana di Kabupaten Bandung meluas sampai meliputi 10 kecamatan, dengan potensi bencana dan dampak yang beragam. Bupati Bandung H. Dadang M Naser, SH,S.Ip.,M.Ip menegaskan, untuk penanganannya harus dilakukan secara komprehensif, sabilulungan semua unsur.

Beberapa waktu lalu, pemerintah sudah bersinergi dengan Pangdam III Siliwangi untuk menyelesaikan permasalahan bencana yang disebabkan oleh rusaknya Sungai Citarum, dengan pencanangan tanam pohon oleh Presiden Jokowi secara langsung.

“Persoalan Citarum ini menjadi perhatian dan sudah diintervensi program dari pemerintah pusat. Belum lama ini presiden melakukan peninjauan langsung ke hulu Sungai Citarum di Kertasari, sebagai dukungan program Citarum Harum,” ungkap Bupati di Gd. Moch Toha Soreang, Selasa (27/2/18).

Pada peninjauan oleh RI 1 tersebut, kata Dadang, pemerintah pusat dan daerah akan fokus pada pemulihan hutan, rekayasa sosial yang berkaitan dengan pemahaman masyarakat di daerah hulu Citarum, serta penanggulangan masalah utama yakni pengelolaan sampah.

“Permasalahan utama Sungai Citarum adalah sampah. Jadi, saya mengajak semua masyarakat dan lembaga agar menyadari pentingnya mengelola sampah yang benar. Dalam hal ini sampah industri dan rumah tangga, baik sampah atau limbah padat maupun cair,” seru Bupati.

Lebih lanjut dia menjelaskan, semua pihak sudah berupaya, namun masih belum komprehensif karena punya keterbatasan masing-masing.

Bupati mengungkapkan saat ini bencana terjadi di 10 kecamatan dengan kejadian bencana banjir, longsor dan angin kencang.

“Ada 10 kecamatan yaitu Baleendah, Bojongsoang, Dayeuhkolot, Ibun, Majalaya, Ciparay,Cileunyi, Solokanjeruk, Rancaekek banjir, sedangkan Kecamatan Paseh terjadi longsor. Jumlah korban saat ini mencapai 535 KK dan 1.615 jiwa mengungsi, sedangkan yang terdampak 3.570 rumah, 3.609 KK dan 12.148 jiwa. Ini data terkahir dan ada sebagian data belum terinput. Artinya, data ini bisa berubah sesuai dengan kondisi intensitas hujan dan ketinggian muka air,” urainya.

Penanggulangan Bencana (PB) tersebut lanjutnya, sudah diintervensi beberapa perangkat daerah terkait sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Dia berharap koordinasi dan kerja dengan sabilulungan terus dilakukan untuk tujuan kemanusiaan dan meminimalisir resiko bencana.

“Penanganan PB dengan semua stakeholder sudah dilakukan juga dengan para relawan, yang sebelumnya sudah diberikan pelatihan PB, mitigasi juga teknis penyelamatan diri sesuai dengan potensi bencana di wilayah masing-masing. Untuk itu saya berterima kasih pada semua lembaga juga para relawan. Mari kita tingkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan bencana di Kabupaten Bandung,” ungkapnya.

Mengenai dorongan pada pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum , Bupati menganggap BBWS sudah paham, namun tetap memilki keterbatasan.

“Kalau sabilulungan saling menyadari kelemahan, tapi punya potensi masing-masig, ayo kita sama-sama membuat grand design. Ketika kemarau saatnya menggali, saat hujan menanam. Perbaiki di hulu, kandang komunal sapi yang di pinggir sungai pindahkan itu baru 65% kita lakukan, nanti provinsi dan pusat kita dorong juga desa diwajibkan beli lahan untuk TPS rumah tangga,” kata Dadang.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Drs. Akhmad Djohara menyatakan dalam pelaksanaan PB, pihaknya sudah melibatkan stakeholder terkait kebencanaan seperti Dinas Sosial untuk intervensi logistik, Dinas Lingungan Hidup (DLH) mengenai penanganan sampah dan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) dengan dukungan personil dan alat berat.

“Selain itu kontribusi juga diberikan Dinas Kesehatan, yang bekerja sama dengan Dokpol melakukan pelayanan kesehatan secara mobile. Disperkimtan dan PDAM menyuplai air bersih, Satpol PP, TNI dan Polri, PMI, Basarnas, pemerintah kecamatan dan desa, serta para relawan juga masyarakat,” imbuh Adjo, sapaan Akhmad Djohara.

Adjo mengatakan pihaknya pun sudah menyiagakan seluruh personil dan ketersediaan logistik untuk kebutuhan pengungsi, seperti tikar, selimut, terpal, sekop, cangkul, air mineral, family kits serta makanan bagi dan siap saji. []

Berita Terkait