Demiz: Gizi Buruk Ancam Terjadinya Lost Generation

Rabu, 13 Juni 2018 | 06:46:21 | Penulis : bb1 | 57 Kali dilihat

Cagub Jabar no 4 Deddy Mizwar saat kegiatan Kartini Perindo, di Kp. Telokdengklok Kel. Pasanggrahan, Kota Bandung, Selasa (12/6/18). by DMC

BANDUNG – Calon Gubernur Jawa Barat nomor urut 4 Deddy Mizwar (Demiz) mengatakan, Jawa Barat masih dihadapkan pada masalah pemenuhan gizi, khususnya pada anak usia balita.

“Gizi anak ini salah satu program prioritas kita. Oleh karena itu, salah satu program saya yaitu penyediaan pangan dan makanan tambahan bergizi untuk daerah rawan pangan dan masyarakat penyandang gizi buruk,” ungkap Demiz, usai kegiatan Kartini Perindo, di Kp. Telokdengklok Kel. Pasanggrahan, Kota Bandung, Selasa (12/6/18).

Lebih jauh Demiz menjelaskan, persoalan rawan gizi pada anak bukan hanya terjadi di Jawa Barat, tetapi merupakan masalah global. Disebutkan, di dunia ini masih ada 159 juta anak yang mengalami rawan gizi, dan di Indoneaia sekitar 9 juta anak. “Ini bisa lost generation kalau dibiarkan,” kata dia.

Menurutnya, secara kasat mata seorang anak yang mengalami kurang gizi bisa dilihat dari tiga indikator, pertama pertumbuhan fisiknya tidak normal, kecerdasan kurang, dan daya tangkap yang juga kurang. Demiz menegaskan, semua masalah itu jangan hanya mengandalkan negara, tapi butuh kesadaran masyarakat.

“Maka harus kita perhatikan kebutuhan gizinya. Kalau orang tua punya duit jangan beli pulsa melulu, ya gak nambah gizi anaknya,” selorohnya.

Lebih jauh Demiz mengatakan, pemenuhan gizi di Jawa Barat bukanlah masalah sederhana, di mana dari sisi geografis, infrastruktur, termasuk gaya hidup masyarakat sangat berpengaruh terhadap ketersediaan gizi anak.

“Ketika jembatan rusak atau tidak ada, pasokan bahan pangan jadi terganggu. Karena gaya hidup, orang lebih mendahulukan beli pulsa ketimbang makanan tambahan misalnya, itu semua mempengaruhi, ” ujarnya.

Dalam kegiatan Bazar Murah Kartini Perindo dan Penyuluhan Gizi itu, Demiz yang berpasangan dengan Dedi Mulyadi ini menyaksikan langsung proses penimbangan berat badan anak-anak balita. ***

Berita Terkait