Bale Kab Bandung

Dipati Ukur; Pahlawan Anti Kolonisasi Tanah Pasundan [1]

Sebuah Novel Menyambut Hari Jadi Kab Bandung ke-378

Setelah jatuhnya Kerajaan Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang mencoba menolak penjajahan, dipimpin seorang bernama Dipati Ukur.

Balebandung.com – Mata kerbau jantan itu merah membara. Urat-urat kecil di bola mata yang biasanya sebening kelereng kaca itu kini padat dialiri darah, membentuk muka binatang itu menjadi garang menyeramkan. Berlaku seperti kuda liar, kaki-kaki depannya dikibas-kibaskan menggali tanah dengan kuku-kukunya yang tebal kokoh, sekuat ladam terbuat dari tulang keras.

Hanya dengan tiga-empat garukan, tanah di depannya telah tercakar membentuk semacam parit-parit kecil memanjang. Sementara dengus hidungnya tak hanya memperdengarkan suara keras, tapi diperjelas dengan terbangnya debu-debu tersemprot angin yang menghembus kuat dari kedua lubang hidung yang basah itu.

Kesemua itu membuat sang kerbau kini lebih serupa monster bertanduk, dibanding hewan ternak yang sehari-hari membantu pak tani membajak sawah, menarik garu, sebelum dilepas di tegalan untuk merumput dengan tenang sembari menikmati alunan bunyi seruling anak gembala yang duduk di punggungnya. Bukan. Kerbau jantan itu kini tak lagi makhluk jinak yang menikmati elusan tangan gembalanya waktu dimandikan.

Binatang itu telah menjelma hewan buas seiring rontaan jangkrik yang berlari kian kemari mencari jalan keluar dari saluran lubang telinganya. Seseorang telah memasukkkan seranggga kecil itu. Sengaja membuatnya gila.

Muak oleh perasaan aneh, geli dan sakit di kupingnya, membuat kerbau itu mencari pelampiasan. Dan itu tak lebih dari sekitar lima hasta di hadapannya. Seorang lelaki muda yang tegak berdiri dengan kuda-kuda tegar seolah terpatri dengan bumi yang dipijaknya. Di mata kerbau jantan yang dibuat setengah edan itu, sikap sang lelaki muda itu sudah melewati batas jumawa.

Kerbau itu kembali mendengus. Batu-batu kerikil di depan lubang hidungnya kontan berhamburan kena semprot. Setelah menggeleng-geleng keras dan jengkel, mata kerbau itu seolah hendak loncat memelototi pemuda di hadapannya.

Si pemuda tahu, tak lama lagi kerbau itu akan menyerangnya. Kini pandangan mata kedua makhluk berbeda jenis itu bertumbukan. Tatapan si pemuda menghunjam jauh ke belakang sikap nyalang yang diperlihatkan sorot mata kerbau jantan itu, seolah ingin merogoh langsung niat si kerbau jauh di dasar hati binatang itu. Semua harus ia lakukan agar bisa mengantisipasi apa yang akan kerbau edan itu perbuat, bahkan sebelum binatang itu melakukannya.

Kerbau itu kembali mendengus, kedua kaki depan yang sebelumnya tak henti menggaruk tanah dengan buas, kini diam kaku. Binatang bodoh itu dengan jelas memberikan tanda kepada lawannya bahwa ia siap menyerang. Si pemuda menggeser kuda-kudanya dari ajeg rengkuh menjadi ajeg suliwa yang lebih memungkinkannya bergerak bebas tanpa sedikit pun mengurangi kekokohan sikapnya menapak bumi.

Kerbau bukanlah harimau yang seringkali mengawali serangan dengan auman keras. Akan aneh pula bila untuk menerjang kerbau lebih dulu menguak kencang. Jadi tanpa peringatan apa pun, kerbau gila itu menubrukkan dirinya ke si pemuda.

Meski hanya berbekal naluri binatang dan sekian tahun pengalaman, dengan bobot tubuh yang ia jatuhkan sepenuhnya ke kedua bahu dan ujung-ujung tanduknya, kerbau itu tahu, dengan cara itu tanduknya bisa menembus dada si pemuda hingga punggungnya. Jadi dengan cara itulah ia menyeruduk pemuda itu, terarah langsung ke dada.

Tenang namun dengan kecepatan yang sulit diikuti mata orang biasa, si pemuda menggerakkan kakinya dua langkah, menyamping tusukan tanduk. Tangan kanannya yang leluasa segera menyarangkan pukulan menyamping, pada sebuah titik sekitar lima jari di bawah tanduk kanan kerbau itu. Keras menghantam kuping. Deg!

Pukulan itu membuat si kerbau limbung. Seakan bercanda, pemuda yang kini telah berada di belakang kerbau itu menambahkan satu tendangan keras ke pantat, yang mendorong binatang besar itu tersungkur mencium tanah. Kerbau itu melenguh kesakitan. [bersambung]

Tags
Show More

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker