Bale Kab Bandung

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [24]: Seorang Bupati Pemelihara Rawa Rontek

Badannya yang gemuk membuat langkah kakinya pendek-pendek dengan gaya malas, khas seseorang yang kelebihan berat badan

Balebandung.com – Esoknya sebagaimana waktu yang ia janjikan, pecat sawed, Ukur telah berdiri di Balairung Kabupaten Tatar Ukur. Ukur sempat merasakan keganjilan manakala tadi bisa masuk begitu saja ke halaman Pendopo, hingga kini ia berada di balairung. Para penjaga membiarkannya masuk begitu saja, seolah ada perintah dari Bupati Sutapura untuk membiarkannya. Justru hal seperti itu membuat Ukur heran dan waspada. Bukan tak mungkin ia seolah ikan yang dibiarkan masuk bubu karena sebentar lagi pun akan dipotong, direcah menjadi makanan pesta.

“Hebat, boleh juga nyali Si Sutapura, membiarkan aku melenggang ke mari,” pikir Ukur. Ia menduga-duga seberapa hebat wewesen [1] Bupati Sutapura sampai berani membiarkannya datang begitu saja tanpa mencoba merintanginya dengan jebakan apa pun di luar.

Tak berapa lama ia mendengar bunyi selop dalam langkah-langkah pendek. Ukur yakin, itu langkah Bupati Sutapura. Badannya yang gemuk membuat langkah kakinya pendek-pendek dengan gaya malas khas seseorang yang kelebihan berat badan. Saat sumber bunyi itu sampai di ujung balairung tempat singgasana berada, ternyat benar adanya.

Ia Bupati Sutapura diiringkan dua orang ponggawa. Kali ini sang Bupati mengenakan baju kebesarannya, beludru warna hitam, dengan bendo citak [2] bermotif batik Merak Ngibing khas Sukapura [3]. Selain celana serawal gelap yang ia kenakan, Bupati Sutapura pun memakai kain batik sebagai bawahan, dengan motif rereng sintung, masih dari daerah yang sama.

Manakala dilihatnya Ukur berada di sana, terkejutlah Bupati Sutapura. Wajahnya pias menunjukkan betapa sangat terperanjat.

“Pengawal!” teriaknya keras. “Bagaimana ini bisa ada di sini? Sudah kukatakan, jangan biarkan dia masuk. Bunuh dia!”

Namun tak seorang prajurit kabupaten pun yang bergerak, apalagi menghampiri Ukur, mengepung dan menangkapnya. Semua diam di tempatnya masing-masing.

Bupati Sutapura kian kalap. Barangkali saja ia pun bingung, sehingga kebingungan itu membuatnya kian gusar.

“Patih!” teriaknya memanggil patihnya. Seorang lelaki setengah baya berpakaian resmi segera menghampiri Bupati dan unjuk sembah.

“Sendika, Kanjeng Bupati,” katanya.

“Bagaimana Si Ukur bisa sampai kemari, hah? Dan kalian biarkan dia di sini, tak ada usaha untuk menangkapnya. Bunuh dia sekarang juga!” kata Bupati.

Sikap Patih tetap tenang. Setelah kembali unjuk sembah, ia menjawab. “Satria Ukur datang sebagai utusan Keraton Mataram, Kanjeng Bupati. Ia datang membawa keris tanda amanat kalungguhan dari Mataram untuk menjabat bupati di sini menggantikan Gamparan[4],” kata Patih. “Satria Ukur juga membawa surat dari Kanjeng Sultan, menerangkan dengan jelas penugasannya.”

Ukur terkejut. Dari mana Patih itu tahu bahwa ia membawa surat? Ah, mungkin dari keris yang ia sisipkan di pinggangnya. Di kedua sisi pinggang, karena selain keris bukti kalangguhan bupati yang diberikan Sultan Agung, ia pun membawa serta Ki Panunggul Naga, siap sedia seandainya ada bancang pakewuh [5].

Patih itu pasti telah bertahun-tahun bertugas di sini sejak pangkatnya apalah. Setiap pengganti bupati sebagaimana kebiasaan membawa surat dan keris tanda kalungguhan dari Sultan Agung. Kerisnya yang berhulu sama dengan yang tersisip di pinggang Bupati Sutapura menjelaskan bahwa klaimnya tadi subuh bukan omong kosong belaka.

Dan wajar Patih itu tak memerintahkan ponggawa untuk menelikungnya. Itu bisa dianggap pemberontakan oleh Mataram yang bisa berujung kematian si Patih. Mugkin saja ia bisa melenggang kangkung ke area balairung pun tak lebih karena Patih memerintahkan ponggawa untuk tidak mengganggunya.

Wajah Bupati Sutapura merah menembaga. Gusar sungguh ia, marah tak alang kepalang.

“Aih, Kehed! Asal calangap sia, siga lain pangagung! Hai Bajingan, asal ngomong kamu seperti bukan pejabat! Dia rek baruntak ka kami? Kau mau memberontak? Ponggawa, rempug dua bedebah ini, Si Ukur dan Patih!” teriaknya penuh amarah. Namun para ponggawa bergeming, diam di tempat masing-masing.

Ukur melangkah mendekati Bupati Sutapura. Dirogohnya bagian dalam bajunya, mengeluarkan sebuah gulungan surat yang ditulis di atas kulit kambing muda, putih bersih. Dia baca isinya yang meneriakan perintah Sultan Agung untuk menjabat Bupati Tatar Ukur, menggantikan Bupati Sutapura. Usai itu, ia bentangkan kulit itu, berkeling ke setiap pejabat kabupaten yang ada untuk menunjukkan keaslian gulungan surat. Tak berapa lama, semua pejabat kabupaten bersujud kepada Ukur.

“Dawuh, Kanjeng Bupati Ukur!” kata mereka dalam koor yang cukup panjang, bergema dalam ruang balairung. Ukur terkejut, hookeun alias terkesima. Namun tak lama. Ia segera meminta mereka bangun.

Ketenangan itu segera pecah oleh teriakan mengguntur. Bupati Sutapura yang kini telah menjadi mantan terlihat diliputi amarah.

“Kurang ajar sia Ukur! Aing tidak terima dengan apa yang kau lakukan. Kau jilat pantat Kanjeng Sultan sehingga beliau menggantikanku. Sekarang, jangan bawa-bawa Keraton Mataram. Mari secara adat kalalakian kita bertarung, sampai salah satu perlaya meregang nyawa di luar!”

Ki Sutapura menarik kain batik yang dikenakannya. Tampaklah kini ia lebih ringkas dengan serawalnya. Dibukanya dua kancing bajunya yang paling atas, lalu dengan cepat menarik keris yang tersisip di pinggang dari sarungnya.

“Kaluar sia, Ukur. Urang begalan nyawa jeung aing!” Lalu dengan sebuah lompatan besar tiba-tiba ia sudah berada di halaman, menghadap ke balairung tempat Ukur masih diliputi sedikit kebingungan.

Bagaimana Ukur tidak heran. Ia saksikan sendiri bagaimana langkah pendek-pendek dan malas bupati itu memasuki balairung. Kini, tiba-tiba saja orang itu telah menjelma laiknya kijang yang lincah, gesit dan tangkas.

“Ambuing, nyata orang ini tak bisa aku pandang enteng,” pikir Ukur.

Mengikuti contoh Ki Sutapura, Ukur merapal aji Kidang Kancana. Satu lompatan saja ia akan berada di depan Sutapura. Belum lagi kaki Ukur menyentuh tanah, Ki Sutapura sudah menusukkan kerisnya ke arah Ukur. Jelas, ia berharap keris bereluk tujuh dengan pamor yang terlihat garang itu menghunjam jantung musuh yang amat dibencinya. Ukur tak mungkin punya waktu untuk menghindar. Bagaimana caranya, sementara kakinya sendiri belum menapak?

Dengan cepat ditariknya keris Panunggul Naga dari pinggangnya. Dengan keris itu Ukur menangkis tusukan Ki Sutapura.

“Jeder!”

Terdengar suara seperti halilintar, mengiringi benturan kedua benda logam itu. Tak hanya suara, kilatnya juga keluar, membuat mata orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu sontak menutup karena silau. Kedua keris itu ternyata keris berisi. Entah setan, jin atau genderuwo mana yang masing-masing mengisinya.

Yang jelas, Ukur melihat yang digenggam di tangan Ki Sutapura bukanlah keris kalungguhan yang diberikan Sultan Agung. Tapi memang demikian pula yang digenggamnya, bukan keris produksi massal untuk sekadar keperluan seremonial.

“Hiaaat!” Ki Sutapura melesat dengan kaki siap menjejak dada Ukur. Ukur merespons dengan gerak giwar, membuat Ki Sutapura akan menjejak angin. Sementara itu Ukur telah membalikkan tubuh sekencangnya seraya menusukkan Panunggul naga ke lambung Ki Sutapura.

“Bleeeees!” terdengar bunyi logam menyelusup ke dalam daging.

“Wuaaaaa!” Ki Sutapura menjerit. Tubuhnya limbung. Saat Ukur menarik Si Panunggul tadi, elukan keris itu telah membawa serta usus dan segala jenis jeroan lambung Ki Sutapura. Para emban menjerit ketakutan melihat pemandangan itu. Para pejabat, bahkan juga sebagian prajurit yang masih olol leho [6] mengatupkan mata ketakutan.

Tubuh Ki Sutapura berdebam menubruk tanah. Sebentar tubuh itu meregang nyawa, sebelum akhirnya diam kehilangan nyawa.

Tak nyana, tiba-tiba seluruh warga dan pejabat kabupaten bersorak penuh suka cita. Sebagian malah bertangis-tangisan dengan sesama mereka. Ternyata jelas sudah, Ki Sutapura bukanlah pejabat yang dicintai rakyatnya. Ia mati, dan tak ada rakyat yang menangisi. Mereka gembira karena orang yang paling bertanggung jawab membuat hidup mereka tersiksa, kini perlaya.

Belum lagi sorak sorai itu usai, tiba-tiba tubuh yang tadi diam itu bergerak-gerak. Tak lama antaranya, sesosok tubuh tambun telah kembali berdiri. Ki Sutapura hidup kembali!

Ukur yang sejak tadi tak pernah memalingkan pandangan dari sosok Ki Sutapura, kaget tak kepalang. Bagaimana mungkin orang yang tadi jelas-jelas meregang nyawa, kini berdiri kembali di hadapannya.

“Kenapa kamu Ukur, kaget? Aing tak akan mati dengan gampang, Kehed! Aing Si Sutapura, tak akan bisa menjadi bupati kalau tak punya pegangan. Ha ha ha ha ha!”

Tawa Ki Sutapura membahana, mendirikan bulu kuduk orang-orang yang ada, terlebih mereka yang tadi bersorak sorai gembira atas kematiannya.

Ukur mundur selangkah. Ia tahu, dirinya berhadapan dengan seorang penganut ajian rawa rontek. Ajian yang semula bernama Pancasona itu awalnya dimiliki Resi Wisrawa, ayah kandung Prabu Danaraja dan Prabu Rahwana. Ajian bagaimana pun hanya alat, tergantung siapa yang memakainya. Penganut ajian itu tak akan bisa mati, karena bumi tak pernah mau menerima jasad mereka. Setiap kali jasad mati mereka menyentuh bumi, mereka pun akan hidup lagi.

Kini Ukur lebih hati-hati. Ia segera taki-taki memasang kuda-kuda yang bisa memungkinkannya menyerang dengan gampang. Namun tidak, kembali Ukur menjadi pihak yang diserang. Sebuah sabetan keris mengarah ke lehernya, memastikan leher itu akan terpisah dari kepalanya manakala kena.

“Seeet!”

Untunglah Ukur bisa menunduk, membuat sabetan itu lewat setengah jengkal di atas kepalanya. Namun Ki Sutapura ternyata belajar juga. Tenaga yang ia gunakan tak semuanya untuk sabetan itu. Dengan gampang ia membalikkan arah sabetan, mengincar lagi leher Ukur.

Hanya dua jengkal lagi keris itu siap mengiris Ukur. Orang-orang yang menonton menjerit histeris, membayangkan bupati baru mereka yang dedeg sampe rupa hade [7] itu akan segera menjadi batang mayat tanpa nyawa.

Tidak. Ukur sempat menjatuhkan diri, menghindari maut yang sudah siap membawanya ke alam lain. Perut Ki Sutapura yang telah kembali menutup tak menyisakan luka itu kini kembali terbuka tanpa halangan. Dengan sekuatnya Ukur menusukkan kerisnya dalam-dalam. Bunyinya keras seolah suitan saat ia menekan kerisnya ke bawah, membuat luka dalam dan besar memanjang hingga ke bawah pusat.

“Bleeesss! Weeeeek!”

Kembali jeritan keras berkumandang. Ki Sutapura kedua kalinya limbung. Namun sebelum tubuh limbung itu menghunjam tanah, Ukur telah berada di belakangnya, memegang rambut ki Sutapura yang berkucir satu. Entah kemana sudah bendo penutup kepalanya kini berada.

Lalu diiringi jerit histeris penonton yang setengah gila melihat kengerian terjadi secara terbuka, Ukur membenamkan kerisnya memotong kepala Ki Sutapura. Sekejap saja tangannya kini menggenggam sebuah kepala kutung tanpa leher.

“Gantung! Gantung setinggi-tingginya!” katanya, melemparkan kepala itu ke arah Patih yang masih berdiri terpesona dengan kekejian yang terjadi. Hanya bagaimana pun ia tetaplah seorang hulubalang yang teruji waktu, matang oleh masa. Dengan sigap ditangkapnya kepala mantan majikannya, lalu berlari ke arah tiang tempat umbul-umbul kabupaten dikibarkan. Dengan sigap pula ia menurunkan umbul-umbul, mengikat kepala itu ke puncak tiang, sebelum tiang umbul-umbul kembali ditegakkkan. Kini kepala itu telah berada di ujung tiang, menatap dari ketinggian karena kelopaknya belum ditutupkan.

Ukur masih memegangi tubuh tambun Ki Sutapura. Diangkatnya tubuh itu ke atas, dibopongnya di atas bahunya. Lalu dengan merapal aji Kidang Kancana, tubuh Ukur mencelat, melompat lompat, berlari dengan jasad mati di bahunya. Ia menuju ke satu arah. Ke arah kidul kulon, tempat aliran Cimanuk tengah bergelora. [bersambung/gardanasional.id]

[1] Kesaktian pribadi seseorang
[2] Blangkon khas Sunda
[3] Kini wilayah itu disebut Tasikmalaya
[4] Arti harfiahnya terompah. Tetapi memiliki arti lain sebagai panggilan yang lebih tinggi dari ‘tuan’ dan ’juragan’.
[5] Katakanlah gampangnya, huru-hara
[6] Rookie, green horn, alias belum banyak pengalaman
[7] Berpostur tegap, berwajah tampan

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [23]: Sutapura Bupati Durhaka

Tags
Show More

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker