Bale Kab Bandung

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [4]

Sebuah Novel Menyambut Hari Jadi Kab Bandung ke-378

– Setelah jatuhnya Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang mencoba menolak penjajahan, dipimpin seorang bernama Dipati Ukur.-

Balebandung.com – Sungguh pun begitu, pemuda itu kagum kepada juru tulis militer yang membantunya tetap berada dalam catatan pengajuan uji coba itu. Mungkin juru tulis itu sadar, beberapa perkelahian yang melibatkan pemuda yang mengajukan diri itu terjadi di luar kehendak si pemuda. “Aku memang berkali-kali diganggu secara berlebihan. Tak pernah sekali pun aku menjadi pembuka perkelahian,” pikir pemuda itu.

“Bangunlah Prajurit ! Aku benar-benar kagum akan kedigjayaanmu,” kata Sultan, mengagetkan lamunan si pemuda. Ditepuk-tepuknya bahu pemuda tadi dengan hangat. Sultan sendiri kemudian menarik tangan pemuda itu, membuat si pemuda bergegas bangun dari posisi bersilanya.

“Hamba, Gusti Prabu..”

“Siapa namamu, Prajurit?” kata Sultan. Ia bertanya seakan tidak pernah mendengar nama pemuda itu sebelumnya. Padahal tadi pun sebelum ujian itu dilangsungkan, Sultan telah melontarkan pertanyaan yang sama kepada pemuda itu.

“Wangsa Taruna, Paduka. Hamba berasal dari Tanah Ukur.”

“Oh, iya, benar. Itu namamu, dari Ukur. Kini aku ingat. Andika yang berasal dari kulon, kan? Dari sisa kerajaan Pajajaran, tentunya. Dulu itu kerajaan besar. Kini sudah tak ada lagi. Sudah lenyap, menghilang dikalahkan kekuatan, punah ditelan zaman,” kata Sultan. “Saat ini zaman Mataram. Mataramlah yang akan menggetarkan Nusantara.”

Lalu dengan pandangan jauh menembus Wangsataruna, bahkan menembus benteng tebal yang mengelilingi area lapangan luas dan seluruh wilayah keraton, Sultan Agung mendesis. Tak keras, tetapi keheningan yang diciptakan sabda dirinya membuat suaranya masih jelas di telinga Wangsataruna.

“Tak lama lagi nama Mataram akan membuat merinding kerajaan-kerajaan yang ada di tanah Jawa, tanah Sunda, Swarnadwipa, bahkan menggentarkan orang-orang Portugis di Benteng Porta de Santiago Malaka. Apatah lagi hanya orang-orang bule penjarah yang kini membangun markas di Batavia itu.”

Sambil berkata demikian Sultan sempat memandang lekat-lekat bola mata Wangsataruna, seolah tengah mencoba membaca apa yang sebenarnya berkata di jantung dan bergemuruh di dada pemuda itu. Ia ingin tahu, sejujur apa niat pemuda yang enam bulan lalu datang dan berkata hendak mengabdikan dirinya demi Mataram, mengabdi pada dirinya sebagai Sri Sultan itu. Sultan tahu, selalu terbuka peluang musuh-musuhnya menanam orang-orang mereka di sini, dan dia sama sekali tak akan pernah lengah.

Sultan kemudian berjalan mengelilingi Wangsataruna, seperti meneliti sekujur tubuh prajurit barunya itu. Mencermati bongkah-bongkah otot yang menempel dan berkembang ideal di tubuh si pemuda, seolah Sultan tak hendak di tubuh itu terdapat sebuah kelemahan yang akan mengurangi kualitas prajurit barunya itu. Tak hanya mengagumi otot-otot tangan dan betis pemuda, melainkan juga otot belikat, selangka dan bahu yang kukuh membangun tubuh pemuda itu menjadi begitu tegaknya.

“Hamba, Gusti Prabu,” kata Wangsataruna, tak ingin Sultan Agung menganggapnya tak merespons pernyataan rajanya itu. Ah, kata-kata itu lagi yang diucapkannya. Bukan karena pemuda itu gagap atau tak piawai bersilat lidah. Hanya memang kata-kata semacam itu saja yang bisa ia ucapkan di hadapan penguasa Mataram itu, sesuai ajaran yang berkali-kali ditanamkan kepadanya oleh para atasannya, senapati dan hulubalang Kerajaan Mataram. Kecuali, kata mereka, memang Sultan menghendakinya berbicara.

“Prajurit Wangsataruna, dengar. Mulai saat ini kau kuterima berbakti kepadaku. Untukmu kuberikan nama baru, Ukur, sesuai asalmu. Pangkatmu sejak ini adalah bekel yang mengepalai satu kompi pasukan kavaleri Mataram. Di atasmu ada Senapati Ronggonoto, orang yang kau bertanggung jawab langsung kepadanya. Di atas itu pimpinanmu adalah Tumenggung Bahurekso, baru kemudian diriku,” kata Sultan.

“Sendika, Gusti Prabu!” jawab pemuda Wangsataruna yang kini telah berganti nama menjadi Ukur, disesuaikan dengan tempat asalnya itu. Jawaban tegas yang menyatakan kesiapan untuk menerima perintah junjungannya itu. Memang menjadi kebiasaan Sang Sultan untuk memberikan nama sebagai pengganti nama lama abdi-abdi barunya.

“Tahukah kau mengapa aku langsung memberimu pangkat yang tinggi di ketentaraan Mataram? Karena aku percaya, sebagai terah kulon, kau pasti memiliki kesaktian yang luar biasa. Dan itu telah kau buktikan lewat ujian yang kuberikan. Kesaktianmu itu pertanda bahwa dirimu terahing kusumah rembesing andanawarih—keturunan bangsawan, berdarah raja-raja, dari tanah kulon, Tanah Pasundan,” kata Sultan Agung.[1]

“Hamba hanya sekadar keturunan bulu taneuh[2], Gusti. Ayahanda hanyalah seorang petani di pinggiran gunung…”

“Cukup!” Suara menggelegar Sultan Agung serta merta menghentikan ucapan Bekel Ukur. “Aku tahu pasti adat istiadat kalian, orang kulon, yang senantiasa berusaha merendah. Silakan kau akui dirimu sebagai apa pun. Yang jelas, hanya keturunan bangsawan yang memiliki kedigjayaan seperti yang kamu punyai. Aku tak peduli dengan asal-usulmu, Wangsataruna. Yang paling aku pentingkan darimu adalah ketaatan dan baktimu kepadaku, rajamu, dan kepada Mataram yang kini menjadi negerimu. Kau mengerti?”

“Hamba, Gusti Prabu!”

“Senapati Ronggonoto!” teriak Sultan, mencari pimpinan pasukan berkuda yang sebenarnya tak jauh berada di belakangnya.

“Hamba, Gusti Prabu,”Ronggonoto tergopoh-gopoh menghampiri.

“Aku serahkan Wangsataruna kepadamu. Didik dan asuh dia sehingga menjadi prajurit Mataram sejati. Aku percayakan dia kepadamu.” Sultan memerintah. Sejurus kemudian ia meminta pembesar-pembesarnya pergi. “Ayo, kita ke balairung.”

“Sendika Gusti.” Ronggonoto menjawab kedua perintah itu dengan satu jawaban tadi. Alih-alih mengurusi Ukur, bekel baru bawahan langsungnya, ia malah meminta seorang prajurit untuk mengurusi keperluan Ukur dan mengenalkan seluk-beluk barak dan lingkungan keraton. Tanpa menyapa, ia langsung meninggalkan Ukur, mengejar rombongan Sultan ke balairung.

Tinggal pemuda Wangsataruna yang kini bernama Ukur itu berdiri sedikit merasa ganjil. Ia sempat mencuri pandang wajah Senapati Ronggonoto. Mata pemuda itu menengarai kilatan cahaya di sana. Bukan kilat kasih atau rasa pertemanan, melainkan lebih dekat kepada semacam ketidaksukaan. *** [bersambung/gardanasional.id]

[1] Mataram memiliki dua jalur pengangkatan prajurit professional, yakni melalui cara magang dan test penerimaan keprajuritan. Lihat HJ de Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram, Politik Ekspansi Sultan Agung, Graffitipers, Jakarta, 1990, hal. 127.

[2] Keturunan petani pengolah tanah.

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [3]

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close