Bale Kab Bandung

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [5]; Rumah Senapati

Sebuah Novel Menyambut Hari Jadi Kab Bandung ke-378

–Setelah jatuhnya Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang mencoba menolak penjajahan, dipimpin seorang bernama Dipati Ukur.–

Balebandung.com – Tidak lebih dari tiga hari Ukur menginap di rumah Senapati Ronggonoto. Benar-benar sementara. Selain karena merasa tidak kerasan dengan suasana yang diciptakan empunya rumah, atasannya sendiri itu, keraton pun sudah menemukan sebuah rumah yang layak untuk seorang bekel seperti dirinya. Letaknya hampir di sudut benteng, dekat dengan istal kuda dan lapangan tempat para prajurit berlatih olah kanuragan dan seni kemiliteran.

Ukur benar-benar menyukai tempat itu. Tempat yang cocok, tak hanya buat seorang lajang, juga untuk seorang pemuda dengan kepribadian sedikit pemalu seperti dirinya. Di rumah itu, setiap sore usai tugasnya sebagai seorang bekel di keraton, ia akan menemukan keheningan yang benar-benar menenteramkan jiwanya.

Bahkan sebelum magrib pun lapangan di depan rumah itu sudah sesunyi layaknya tengah malam di bagian keraton lainnya. Hanya suara jangkrik, kodok, atau nyanyian seranggga malam lainnya, itu pun hanya di waktu-waktu tertentu. Selebihnya, bunyi-bunyi yang didengar Ukur kadang hanya suara-suara yang ia hasilkan sendiri dalam aktivitasnya.

Seperti juga petang itu. Selesai mandi dengan tumbukan daun lamtoro di pancuran belakang rumah, Ukur merasa amat segar. Tumbuk daun lamtoro itu begitu ampuh menghilangkan keringat dan minyak-minyak tubuhnya yang keluar deras setelah seharian beraktivitas. Dengan kain sarung kumal yang dibawanya dari Timbanganten, wilayah di lereng Gunung Malabar yang dicintainya. Wilayah yang asri, hijau dengan beragam pepohonan, makmur dengan deretan ladang yang luas sejauh kata memandang.

Saat di Timbanganten Ukur tinggal di Tegal Luar, wilayah perbatasan antara Dukuh Banjaran dan Kampung Cipeujeuh. Dulu kala Timbanganten termasuk wilayah Kerajaan Pajajaran. Dengan bijaksananya Pajajaran memperlakukan wilayah-wilayah bawahannya, kemakmuran segera melingkupi warga-warga seantero Pajajaran. Apalagi Timbanganten yang memang berada di kawasan pegunungan yang subur.

Sering ingatannya menerawang kembali ke Tanah Pasundan yang membesarkannya. Selalu tanah subur berpemandangan alam indah itu mengusik batinnya, menegurnya untuk segera pulang. Sekian banyak leuwi dan curugnya selalu saja membuat Ukur merasa rindu untuk segera pulang dan mengabdi kepada bali geusan ngajadi itu.

Ingatan akan alam Sunda itu selalu membawa Ukur mengingat-ingat petikan syair Kacapi Suling yang selalu membuat hatinya basah akan kasih.

Sunda surup kana tangtung,
Sunda sieup, nimbang kana wanda
Gunung-gunungna, cur-cor caina
Ngaplak pasawahannana…

Dengan sarung tua itu Ukur mengeringkan badannya. Diambilnya kemudian selembar kain cukup panjang yang akan dipakainya sebagai pakaian dalam. Salah satu ujung kain itu ditariknya melewati selangkangan, menutupi pantat. Setelah itu baru ia mengenakan celana pangsi hitam, juga bagian dari bekalnya saat berangkat beberapa bulan lalu ke Mataram.

Untunglah, seragam prajurit Mataram pun memakai celana pangsi hitam, hingga kepemilikannya akan celana jenis itu segera bertambah. Agar kuat, celana dan kain kancut itu pun diketatkan dengan sebuah ikat pinggang kulit selebar telapak tangan.

Barulah kemudian Ukur mengubek-ubek buntalannya, mengeluarkan selembar baju mulai lusuh dan dipakainya. Baju kampret putih hasil tenun tangan para pengrajin tenun di daerah Banjaran yang terkenal tak hanya di Timbanganten, Sumedang Larang atau pun Banten. Kehalusan kain tenun Banjaran juga terkenal sampai Mataram, bahkan Kerajaan Sampang dan Lampung di seberang pulau.

Sebelumnya, baju yang seharian ini ia kenakan telah direndamnya dalam baskom kayu bersama beberapa butir buah lerak. Ukur bermaksud mencucinya selepas isya nanti.

Di tengah rumah, sambil bersila Ukur membuka kiriman dapur umum yang diterimanya setiap pagi dan sore. Dibukanya daun jati yang menutup gerabah tanah itu, dan segera didapatinya sepotong besar ayam di atas tumpukan nasi merah. “Hm, garang asem. Lumayan dibanding pagi tadi,” ujarnya membatin. [bersambung/gardanasional.id]

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [4]

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close