Head of Corporate Communications Bio Farma Raih Doktor Ilmu Komunikasi

Jumat, 7 Desember 2018 | 17:55:51 | Penulis : bb1 | 80 Kali dilihat

N. Nurlaela Arief dinyatakan lulus sebagai doktor dengan predikat Pujian (Cumlaude), dalam sidang promosi doktor, di Gedung Pascasarjana Fikom Unpad, Jatinangor, Jumat (7/12/18).

JATINANGOR – N. Nurlaela Arief dinyatakan lulus sebagai doktor dengan predikat Pujian (Cumlaude), dalam sidang promosi doktor yang dipimpin Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Dr. Dadang Rahmat Hidayat di Gedung Pascasarjana Fikom Unpad, Jatinangor, Jumat (7/12/18).

Lala, sapaan Nurlaela, mempertahankan disertasi dengan judul “Kompleksitas Komunikasi Vaksin di Indonesia: Strategi Komunikasi Pro Vaksin Vs Anti Vaksin”. Lala berhasil meraih gelar doktor setelah sebelumnya meraih jenjang pendidikan S1 di UNPAD dan S2 di MBA ITB.

 

Sidang promosi tersebut dihadiri Direktur Utama Bio Farma, M. Rahman Roestan beserta jajaran direksi; sejumlah Guru Besar Unpad, Guru Besar UNISBA, Fakultas Kedokteran, perwakilan dari Kementerian Kesehatan, Kementerian BUMN, pimpinan organisasi Perhumas Indonesia dan Forum Humas BUMN, serta rekan-rekan praktisi Humas dari BUMN, swasta dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat .

Dalam pandangan Lala “Public Relations memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi dan edukasi untuk meyakinkan masyarakat akan isu kesehatan yang positif di tengah isu negatif vaksin palsu, kompleksitas berbagai isu vaksin, yang sempat melanda Indonesia di tahun 2016 dan tahun 2017.

“Public Relations di industri kesehatan sangat penting untuk menumbuhkan pemahaman dan persepsi positif akan sebuah produk hasil industri kesehatan untuk diterima oleh masyarakat. Maka diperlukan pemahaman yang tepat akan strategi, pesan dan media komunikasi untuk pencegahan penyakit menular, termasuk bagaimana merespon saat terjadi krisis komunikasi kesehatan saat darurat, serta bagaimana melakukan recovery setelahnya,” ungkap Lala.

Menurutnya hingga kini riset mengenai penanganan kesehatan preventif yang berbasis pada krisis komunikasi kesehatan dalam konteks kesehatan masyarakat, dalam perspektif Public Relations masih terbatas.

“Dengan berbagai permasalahan dan isu negatif anti-vaksin dan kejadian luar biasa terkait isu kesehatan di Indonesia sepanjang tahun 2016 dan 2017, diperlukan penelitian komprehensif untuk membahas tentang kompleksitas komunikasi kesehatan dalam mengedukasi vaksin di Indonesia,” kata dia.

Lala menambahkan, data riset terbaru di Polandia, Eropa (waszak, et al, 2018), sebanyak 45% berita yang beredar di media sosial merupakan fake news, berita palsu yang disebarkan sebanyak 450.000 kali di media sosial, topik yang paling banyak dibahas adalah konten tentang vaksin.

Sedangkan riset di Indonesia (Mastel, 2017) pada 2017, berita palsu terutama tentang politik, etnis, ras, agama, dan kesehatan merupakan lima tertinggi yang paling banyak diterima masyarakat.

Dalam riset disertasinya itu Lala menemukan empat model komunikasi sebagai solusi kompleksitas komunikasi vaksin di Indonesia. Dalam risetnya yang menggunakan metode kualitatif dan statistik deskriptif, serta social listening solution tools, juga menemukan, bahwa kelompok aktif dan pengikut gerakan anti-vaksin merupakan gerakan yang feminism, keunggulan dari riset ini selain mengungkap strategi kelompok anti-vaksin juga mengungkap strategi kelompok pro-vaksin dalam upaya mengimbangi informasi.

Lala pun menawarkan strategi komunikasi salah satunya dengan pendekatan Risk Communication Theory dari Covello, yaitu Negative Dominance. Bahwa hasil riset yang dilakukan pada kelompok pro-vaksin yang menunjukan upaya untuk mengimbangi.

Hal ini sesuai dengan model negative dominance bahwa untuk mengidentifikasi dua implikasi praktis dalam menyusun pesan bahwa audiens lebih cenderung mendengar pesan positif jika dilakukan “overbalance” atau “counterbalance” dibandingkan dengan pesan yang negatif. “Sehingga untuk mengimbanginya pesan harus disampaikan dengan frekuensi yang lebih besar,” tandas Lala.

Menurutnya penelitian ini memiliki nilai kebaruan dikarenakan kejadian penolakan vaksin terjadi di seluruh dunia, penelitian sebelumnya di Amerika, Australia, Canada, Eropa, Australia hanya membahas dari pendekatan kelompok anti vaksin.

“Namun penelitian ini secara kompleks membahas strategi komunikasi pro-vaksin, strategi komunikasi anti-vaksin dan menghasilkan model komunikasi untuk meyakinkan masyarakat tentang pentingnya vaksin,” terang Lala.***

Berita Terkait