Syaikhu; Hidupkan Jamaah, Songsong Kejayaan Islam

Sabtu, 27 Januari 2018 | 13:52:37 | Penulis : bb1 | 173 Kali dilihat

Balonwagub Jabar dari PKS Ahmad Syaikhu saat sholat subuh berjamaah di Masjid Al-Jihad, Kel Kencana, Kec Rancaekek, Kab Bandung, Sabtu (27/1/18). by Humas PKS Kab Bdg
Balonwagub Jabar dari PKS Ahmad Syaikhu saat sholat subuh berjamaah di Masjid Al-Jihad, Kel Kencana, Kec Rancaekek, Kab Bandung, Sabtu (27/1/18). by Humas PKS Kab Bdg

RANCAEKEK – Masjid Al-Jihad, Kelurahan Kencana, Kecamatan Rancaekek, Sabtu (27/1/18) subuh didatangi ratusan jamaah dari berbagai wilayah di Rancaekek untuk mengikuti shalat subuh berjamaah bersama Ahmad Syaikhu calon Wakil Gubernur Jawa Barat dari PKS.

Bertema, “Hidupkan Jamaah, Songsong Kejayaan Islam”, Syaikhu jadi narasumber dalam kegiatan subuh berjamaah tersebut. Ia pun menyampaikan tausiyah yang berkenaan dengan pentingnya menegakan empat pilar yang jadi tonggak bangkitnya kejayaan umat islam.

Pilar pertama, sebut Syaikhu, ditempati oleh pilar keimanan. Ia melihat pilar ini adalah cikal bakal terbentuknya persatuan antar umat. Saat semua orang berada dalam masjid, sekat-sekat akan hilang dan semua orang sudah tidak mempedulikan golongan. “Di masjid, umat akan duduk bersama, bermakmum bersama, menghilangkan sekat antar pribumi dan pendatang,” kata Syaikhu.

Lalu ia mengambil contoh kisah pada zaman Rasulullah Saw di mana suku Aus dan Khajraj yang bermusuhan selama 120 tahun pada akhirnya bisa dipersatukan di masjid saat Rasulullah SAW datang ke Madinah.

“ Aus dan Kahjraj bermusuhan tidak sehari-dua hari, tidak semingu atau sebulan. Bahkan mereka bermusuhan sampai anak cucu. Namun mereka bisa dipersatukan dan membangun kebersamaan di masjid setelah datangnya Rasulullah SAW,” tuturnya.

Syaikhu meyakini bahwa memakmurkan masjid adalah bentuk pengabdian hamba kepada Allah SWT. Dengan pengabdian tersebut, Allah SWT akan menghindarkan hambanya dari berbagai kelaparan dan kemelaratan.

“Dan inilah yang menjadi sandaran tegaknya pilar kedua dalam menyongsong kebangkitan umat, yakni pilar kesejahteraan. Karena Islam tidak menginginkan terjadinya kekurangan,” imbuhnya.

Namun tukas Syaikhu, betapapun pentingnya sebuah kesejahteraan, jika suatu wilayah dilanda kekacauan dan peperangan, maka kebangkitan ekonomi umat akan sangat sulit diwujudkan.

“Kita lihat saudara kita di Rakhine Myanmar, jangankan membangun ekonomi, mereka saja terusir dari tanah airnya. Mereka mendapat kekejian yang luar biasa, bahkan keimanan pun kadang terancam,” kata dia mencontohkan keadaan umat Islam di Myanmar.

Syaikhu menilai ketiga pilar yang sudah diuraikannya itu harus dijalankan secara proprosional dan seimbang walaupun pada kenyataannya dalam kehidupan selalu ada tarik-menarik antara salah satu pilar.

“Ada orang yang menjalankan pilar keimanan saja dengan terus-terusan berada di masjid, itu tidak boleh. Atau ada orang yang nyari materi dunia terus, tidak lihat haram-halal, itu juga tidak boleh. Atau ada suatu negara yang hanya mengedepankan keamanan saja, maka terjadilah tindakan represif di negaranya, itu juga tidak dibenarkan dalam islam. Jadi semua harus seimbang,” tandasnya.

Untuk menyeimbangkan ketiga pilar tersebut, maka diperlukan pilar keadilan sebagai pilar keempat dan pilar penopang yang kemudian menjadi penyempurna dari tiga pilar sebelumnya.

“Bersikaplah adil, karena adil itu lebih dekat dengan ketakwaan,” serunya mengutip salah satu ayat quran dalam surat Al-Maidah. []

Berita Terkait