Jabar Butuh 5.000 Ruang Kelas Belajar

Tuesday, 10 October 2017 | 18:00:52 | Penulis : bb1 | 116 Kali dilihat

Wagub Jabar Deddy Mizwar menyalami para mahasiswa baru tahun ajaran 2017/2018, di Stadion Jati Padjadjaran Unpad Jatinangor, Senin (21/8). by Humas Pemprov Jabar
Wagub Jabar Deddy Mizwar menyalami para mahasiswa baru tahun ajaran 2017/2018, di Stadion Jati Padjadjaran Unpad Jatinangor, Senin (21/8). by Humas Pemprov Jabar

SOREANG – Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menyebut angka kebutuhan ruang kelas belajar di Jabar minimal 5.000 unit untuk tingkat SMA dan SMK. Bahkan kini banyak sekolah di beberapa kabupaten di Jabar yang masih menumpang ruang belajarnya ke sekolah lain.

Saat meninjau SMKN 1 Soreang yang kekurangan ruang kelas, Deddy menuturkan anggaran untuk pembangunan kelas akan dicanangkan tahun 2018. Ditemani istrinya, Giselawati Wiranegara, Deddy melihat-lihat beberapa ruangan kelas dan ruang praktek siswa.

SMKN 1 Soreang sendiri, masih memberlakukan dua shift jadwal belajar. Meski memiliki 24 rombongan belajar, hanya 13 kelas yang tersedia. Selain, itu bengkel atau ruang praktek siswa (RPS) masih kekurangan dua. Pasalnya, RPS untuk teknik kendaraan ringan (TKR) dilakukan secara filial atau kelas yang dibuka di luar sekolah induk karena keterbatasan ruang kelas.

Melihat hal itu, Deddy mengatakan, kondisi tersebut tak hanya terjadi di SMKN 1 Soreang saja. Namun juga di sejumlah SMP dan SMK yang jumlah keseluruhannya mencapai 4.400 sekolah.

“Kemarin pun kita tetap sama (membangun) 5.000 unit ruang kelas untuk tingkat SD hingga, SMA dan SMK. Untuk tahun depan karena kewenangan SMA dan SMK berada di provinsi, kita akan lebih fokus lagi membangun dengan jumlah yang sama, tapi penganggarannya tahun-tahun berikutnya,” kata Deddy.

Oleh karena itu, Deddy mendorong agar pihak sekolah tidak segan-segan untu membuat pengajuan ke provinsi. “Bisa jadi karena lahannya kurang, nah provinsi siap membantu membelikan lahan dan membangun ruangannya,” ungkap Demiz.

Prioritas provinsi saat ini adalah menyebarkan pendidikan seluas mungkin agar anak bisa menunaikan haknya untuk bersekolah. “Ada tiga faktor integrasi, bagaimana pendidikan bisa diraih secara dini, meraih pendidikan setinggi-tingginya, dan kemudian seluas-luasnya, makanya multi kampus ini harus disegerakan,” urainya.

Kepala Sekolah SMKN 1 Soreang, A.R Sumirat mengatakan pihaknya pun telah menyampaikan kekurangan sarana dan prasarana yang dialami sekolahnya. “Kalau bangunan kelas dan RPS bisa terpenuhi, insya Allah tahun depan bisa pagi semua, jadi tidak ada dua shift,” kata Sumirat.

Ia mengatakan setiap tahunnya jumlah peminat terus bertambah. Diprediksi tahun depan bisa mencapai 1.000 siswa dari jumlah 885 saat ini. “Alat-alat untuk TKJ sudah ada, tapi TKR-nya masih belum dibandingkan dengan angka ideal. Saat ini kita sedang membangun 4 bangunan kelas, 1 kantor dan 1 bengkel,” sebutnya.

Kendati begitu, Sumirat mengklaim proses kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung kondusif. “Hanya ada pengurangan lima menit, kalau 45 menit nanti sampai jam 10 malam. Shift siang bisa baru keluar jam 17.00 – 19.00,” kata dia.

Berita Terkait