Jabar Punya Misi Pencak Silat Goes to Unesco

Selasa, 30 Januari 2018 | 06:43:19 | Penulis : bb5 | 272 Kali dilihat

Wagub Jabar Deddy Mizwar membuka helatan Mubes Maspi II di Hotel Prama Grand Preanger, Bandung, Minggu (28/1/18). by Humas Pemprov Jabar
Wagub Jabar Deddy Mizwar membuka helatan Mubes Maspi II di Hotel Prama Grand Preanger, Bandung, Minggu (28/1/18). by Humas Pemprov Jabar

BANDUNG – Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar (Demiz) membuka helatan Musyawarah Besar (Mubes) Masyarakat Pencak Silat Indonesia (Maspi) II di Hotel Prama Grand Preanger, Jl. Asia Afrika No. 81, Kota Bandung, Minggu (28/1/18).

Demiz mengungkapkan pihaknya punya misi besar untuk mengantarkan Pencak Silat sebagai Intangible Cultural World Heritage atau Warisan Budaya Dunia Tak Benda oleh Unesco (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Oragnization). Unesco adalah organisasi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang khusus menangani persoalan pendidikan, keilmuan, budaya.

“Selain membawa Pencak Silat ke panggung Olimpiade, kita juga memiliki misi besar lainnya, yaitu membawa Pencak Silat goes to Unesco,” ungkap Demiz dalam sambutannya.

“Hal ini tidak kalah penting, karena Pencak Silat mengandung nilai-nilai luhur universal, seperti pertemanan, persaudaraan, perdamaian, etos kerja, keberanian, semangat berkompetisi, kebersamaan, harmoni, keindahan, dan penghambaan kepada Sang Pencipta, sehingga sangat layak untuk menjadi Warisan Budaya Tak Benda asal Indonesia,” terangnya.

Untuk itu, Pemprov Jabar sangat mendukung upaya Masyarakat Pencak Silat Indonesia (Maspi) yang menargetkan Pencak Silat diakui Unesco sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda pada 2019.

“Menjadi tanggung jawab bersama untuk lebih meyakinkan Unesco dan publik internasional, bahwa Pencak Silat ini benar-benar milik bangsa Indonesia, dan bangsa Indonesia pun layak memilikinya. Dengan sinergitas kita bersama, diharapkan pada tahun tahun 2019 Pencak Silat dapat ditetapkan menjadi Intangible Cultural World Heritag,” tutur Demiz.

“Realistislah, juga jangan terlalu terburu-buru target tadi, sehingga nggak lengkap semua dokumen-dokumen yang diperlukan,” imbuhnya.

Maspi terus berupaya mendorong Pencak Silat menjadi lebih membumi dan mendunia. Diantaranya melalui kegiatan Temu Pendekar Internasional yang telah digelar dua kali, hingga menampilkan sendra Pencak Silat yang merupakan pergelaran perdana di Markas Besar Unesco, sebagai dukungan nyata Maspi terhadap proses pengajuan Pencak Silat untuk menjadi Warisan Budaya Dunia Tak Benda asal Indonesia.

Lebih lanjut Demiz menjelaskan, Pencak Silat sebagai khasanah budaya tradisi yang multi-aspek, meliputi aspek seni budaya, beladiri, olahraga, dan mental spiritual. Inilah yang membedakan dan menjadi kelebihan Pencak Silat dari seni beladiri populer lainnya, terlebih lagi Pencak Silat memiliki berbagai aliran dengan keunikannya masing-masing.

“Pencak Silat ini medium untuk mencetak pendekar-pendekar. Dari segi mental spiritual, untuk olahraga, seni. Terus bagaimana sikap kependekaran mesti tumbuh. Ini karakter. Membela yang benar, yang lemah, jujur, itu kependekaran. Sebetulnya ini (Pencak Silat) sarana untuk membentuk karakter anak-anak muda bangsa ini ke depan,” papar Demiz.

Saat ini Pencak Silat tidak hanya dikenal di negara-negara rumpun Melayu atau Asia Tenggara, tapi juga telah merambah ke lima benua. Selain telah dipertandingkan pada berbagai kejuaraan dunia dan ajang multievent internasional, seperti Sea Games. Untuk pertama kalinya Pencak Silat juga akan menjadi cabang olahraga resmi Asian Games 2018, di mana Indonesia akan bertindak sebagai tuan rumah. Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat) sebagai organisasi dunia yang menaungi Pencak Silat, juga telah memiliki lebih dari 50 negara anggota, sehingga ke depan bukan mustahil Pencak Silat pun masuk dalam ajang Olimpiade.

“Ya, kita target 2019 (Pencak Silat diakui Unesco),” kata Edwin Senjaya, Ketua Dewan Pembina Maspi ditemui usai acara pembukaan Mubes II Maspi. Edwin pun berharap ke depan Pencak Silat tidak hanya fokus pada empat aspek saja, yaitu seni budaya, mental spiritual, olahraga, dan prestasi. “Tapi juga bisa menjadi alat perjuangan untuk mengawal kedaulatan dan isu-isu kebangsaan ini, serta jalan dakwah,” tandas Edwin.[]

Berita Terkait