Karakter Budaya Masyarakat Perkuat Sektor Pariwisata

Wednesday, 9 August 2017 | 16:28:00 | Penulis : bb2 | 75 Kali dilihat

Sekda Kab Bandung, Ir. H. Sofian Nataprawira, MP saat Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan Urusan Pariwisata dan Kebudayaan di Bale Winaya Soreang, Rabu (9/8/17). by Kominfo Kab Bdg
Sekda Kab Bandung, Ir. H. Sofian Nataprawira, MP saat Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan Urusan Pariwisata dan Kebudayaan di Bale Winaya Soreang, Rabu (9/8/17). by Kominfo Kab Bdg

SOREANG – Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung, Ir. H. Sofian Nataprawira, MP mengatakan sektor pariwisata bisa berkembang tidak hanya dari pembangunan fisik, tapi yang lebih utama adalah dengan memperkuat karakter budaya masyarakatnya.

“Umumnya wisatawan terutama wisatawan mancanegara itu bukan sekadar mencari keindahan, tapi juga ingin melihat karakter budaya asli suatu masyarakat, maka manajemen karakter budaya inilah yang memerlukan inovasi,” kata Sekda saat Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan Urusan Pariwisata dan Kebudayaan di Bale Winaya Soreang, Rabu (9/8/17).

Pariwisata dikatakan menonjol, terang Sofian, karena adanya kunjungan dari wisatawan mancanegara dan bisa dihitung dalam angka-angka statistik dalam kurun waktu tertentu. Jika melihat daerah lain yang perkembangan pariwisatanya lebih dulu menonjol, seperti Bali, Yogya dan yang lainnya, menurutnya karena adanya komitmen kerjasama dan kesadaran dari masyarakat setempat.

“Pariwisata itu tidak hanya menjadi urusan Dinas Pariwisata saja, tapi menjadi urusan semua perangkat daerah, swasta dan masyarakat, di sini dibutuhkan kerjasama semua pihak untuk mengakselerasi fasilitas pendukung sektor ini,” paparnya.

Kultural dalam visi Kabupaten Bandung mengandung pengertian bahwa nilai-nilai budaya sunda yang melekat dan menjadi jati diri masyarakat, harus tumbuh, berkembang dan lestari, menjadi perekat keselarasan dan stabilitas sosial, serta menjadi benteng pertahanan masyarakat terhadap dampak negatif arus perubahan global.

“Sosialisasi dan diskusi ini saya harap tidak hanya menghasilkan ketentuan-ketentuan perundang-undangan atau hanya sekedar melahirkan kebijakan saja, tapi bagaimana perencanaan pariwisata ke depannya, kerjasama pemerintah dengan masyarakatnya dan juga dengan para praktisi pariwisata dan budayanya,” ucap Sofian.

Acara yang digagas Bagian Pemberdayaan ini menghadirkan beberapa narasumber yaitu Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, H. Agus E. Hanafiah, S.Sos., Praktisi Budaya, Dr. Bambang Arayana Sambas dan Praktisi Pariwisata, Felix Feitsma.

Sekdis Parbud Jabar Agus Hanafiah dalam pemaparannya mengatakan dalam konteks pembangunan nasional, pariwisata merupakan sektor unggulan keempat setelah pangan, energi dan maritim, disusul pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

“Pariwisata merupakan urusan pilihan, sementara budaya merupakan urusan wajib, karena tidak semua daerah memiliki potensi pariwisata. Akan tetapi bisa dipastikan semua daerah memiliki potensi budaya, potensi budaya inilah yang bisa menjadi unggulan masing-masing daerah,” ujar Agus.

Ia mengungkapkan hasil dari sebuah survey menunjukkan mayoritas wisatawan mancanegara mengunjungi Indonesia dengan alasan tertarik dengan kebudayaan di Indonesia yang beraneka ragam.

“Garapan di destinasi wisata itu ada tiga, atraksi (alam, buatan dan budaya), aksesibilitas (infrastruktur dan transportasi) dan amenitas (fasilitas umum). Maka dari itu jangan hanya mengandalkan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan saja, karena aksesibilitas dan amenitas bukan ruang garapan dinas ini,” pungkasnya.