Ketersediaan Perangkat Murah Percepat Migrasi Pengguna 2G ke 4G

Tuesday, 19 September 2017 | 16:27:23 | Penulis : bb1 | 99 Kali dilihat

Pengamat Telekomunikasi, Mastel Institute, Nonot Harsono (baju putih), saat Diskusi "Memaksimalkan Utilisasi 4G Melalui Keterjangkauan Perangkat," di Cafe Madame Jl. Cendana Bandung, Selasa (19/9). by iwa/bbcom
Pengamat Telekomunikasi, Mastel Institute, Nonot Harsono (baju putih), saat Diskusi “Memaksimalkan Utilisasi 4G Melalui Keterjangkauan Perangkat,” di Cafe Madame Jl. Cendana Bandung, Selasa (19/9). by iwa/bbcom

BANDUNG – Keinginan pemerintah untuk mempercepat proses migrasi pengguna jaringan 2G ke jaringan 4G diperkirakan masih akan melalui jalan yang cukup panjang. Masalah terbesar saat ini yang dihadapi adalah masih banyaknya pengguna yang memakai jaringan 2G di Indonesia.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara beberapa waktu lalu mengakui bahwa ongkos produksi sebuah jaringan 2G sangat mahal. Menteri menilai beban biaya telekomunikasi itu bisa lebih ringan jika terjadi peralihan teknologi ke 3G maupun 4G.

Tak dapat dipungkiri, tren digital yang makin massif di Indonesia menjadi bukti bahwa kebutuhan akan internet cepat semakin dibutuhkan. Konten digital yang menjamur dan semakin tumbuh membuat kebutuhan data semakin pun meningkat. Tren digital ini lama kelamaan membuat orang makin banyak yang beralih dari jaringan 2G ke 3G atau 4G.

Namun kenyataannya, saat ini sekitar 60% – 70% masyarakat Indonesia masih menggunakan layanan 2G, yang hanya digunakan untuk voice dan SMS saja. Diperkirakan, pasar layanan 2G akan migrasi ke 3G atau 4G membutuhkan waktu hingga lima tahun.

Untuk memuluskan proses migrasi pengguna 2G menuju 4G, maka perlu diperhatikan ketersediaan handset 4G yang murah. Menurut Nonot Harsono, Dosen PENS dan Pengamat Telekomunikasi, Mastel Institute, untuk menyikapi kemajuan teknologi seluler dari 2G, 3G, hingga 4G, sungguh bijak jika dimulai dengan melihat permasalahan yang dihadapi di lapangan pada saat mau mengambil langkah ke depan.

“Apakah masyarakat memang harus didorong agar menggunakan teknologi terbaru 4G? Jika memang perlu, maka pemerintah dan pelaku usaha harus berupaya menciptakan kebutuhan sehingga masyarakat perlu menggunakan 4G,” ungkap Nonot saat Diskusi “Memaksimalkan Utilisasi 4G Melalui Keterjangkauan Perangkat,” di Cafe Madame Jl. Cendana Bandung, Selasa (19/9/17).

Nonot mengungkapkan, bila angka 60% hingga 70% pengguna ternyata belum beralih ke 4G itu benar adanya, maka itupun masih mungkin karena ada dua penyebab. Pertama, karena supply layanan 4G penetrasinya masih kecil, baik coverage maupun kepemilikan handset 4G pada pengguna yang mungkin karena willingness to buy atau daya beli dari mayoritas lapisan masyarakat masih kurang.

Kedua, kebutuhan masyarakat akan layanan 4G memang belum tumbuh. Menurutnya, penyebab yang kedua masih lebih besar dari yang pertama, yakni kebutuhan masyarakat akan layanan 4G memang belum tumbuh. Kalau disimak lebih cermat, sebenarnya bagi pengguna, nilai tambah yang didapat dari 4G dibanding 3G adalah peningkatan kenyamanan dan kepuasan dari user experience (UX), atau biasa diistilahkan dengan “convenience and satisfaction”.

“Jangan-jangan orang Indonesia sebagian besar belum butuh 4G, yang penting bisa komunikasi verbal. Belum lagi ada yang merasa gaptek dan enggan untuk mencoba hal yang baru,“ seloroh mantan komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia ini.

Perangkat 4G dengan harga terjangkau memang sangat dibutuhkan untuk memuluskan rencana migrasi pengguna 2G ke 4G. Idealnya, range harga ponsel 4G agar bisa diterima pasar menengah bawah berkisar USD 250. Karena daya beli rata-rata pengguna 2G yang kebanyakan dari kelas menengah bawah hanya maksimal mampu membeli handset seharga USD 125.

Ponsel 4G murah di Indonesia bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Karena saat ini, beberapa vendor dan pabrikan ponsel telah mulai memproduksi ponsel 4G murah dengan kisaran harga Rp 500 ribu. Saat ponsel 4G sudah menjadi sangat terjangkau, maka akan bisa mengatasi keengganan pengguna 2G bermigrasi ke 4G karena alasan handset yang mahal.

Pengguna ponsel di Indonesia diharapkan dapat segera melakukan migrasi secepatnya ke 4G, sehingga tidak tertinggal jauh dari perkembangan teknologi di era digital saat ini. Namun harus diakui, melakukan perpindahan teknologi dari 2G ke 4G merupakan tantangan terbesar yang dihadapi oleh Indonesia untuk bisa melangkah ke tahapan teknologi berikutnya.

Besarnya jumlah pengguna teknologi 2G juga merupakan salah satu penyebab terhambatnya Indonesia dalam hal tren teknologi. Padahal Indonesia bisa menjadi sebuah pasar yang memiliki peluang yang besar untuk bisa mencoba merasakan perubahan telekomunikasi yang cepat.

“Agar migrasi dari 2G ke 4G bisa berlangsung cepat, maka harus dilakukan edukasi bagi para pengguna 2G mengenai kelebihan perangkat dengan teknologi 4G. Tentunya ini akan dijalankan dengan bantuan dari para operator,” kata dia. Namun ini juga bukanlah sebuah proses yang gampang untuk dilakukan, khususnya bila menghadapi pengguna dari pedesaan yang belum sanggup membeli ponsel 4G.

Masyarat harus mendapat edukasi tentang beberapa kelebihan teknologi 4G yang ada di feature phone. Seperti misalnya baterainya lebih tahan lama jika dibanding smartphone. Kemudian bisa menggunakan aplikasi WhatsApp Call dan chatting menjadi pengganti telpon dan SMS. Bisa menggunakan aplikasi jejaring sosial lebih cepat, seperti Facebook. Dan pengguna bisa menikmati video call lewat aplikasi WhatsApp.

Di sisi lain, imbuh Nonot, perlu adanya ketegasan dari pemerintah untuk membuat peraturan yang bisa membatasi atau menghentikan pemakaian frekuensi 2G. “Jika kedua point diatas tersebut bisa dilaksanakan, maka proses migrasi dari 2G ke 4G diyakini bisa lebih cepat.,” tandasnya.

Menurut Nonot, tantangan pemerintah dan para penyedia jaringan 4G adalah bagaimana menciptakan the real needs dari 4G yang bukan sekedar untuk convenience dan satisfaction. Misalnya untuk alat bantu dalam menjalankan bisnis.

“Bisa saja pemerintah membuat program pembinaan e-UKM yang lebih nyata dengan pelatihan literasi teknologi dan subsidi gadget. Konon ada lebih dari 100 ribu UKM yang bisa diprovokasi untuk menggunakan teknologi 4G hingga seramai demam batu akik,” tuturnya.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh GfK, penjualan ponsel di Indonesia sekarang ini sudah mencapai 60% di mana sejumlah perangkat sudah memiliki kemampuan 4G. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa Indonesia akan mampu dengan cepat beralih ke teknologi 4G.

Pada akhirnya, jika 2G perlahan beralih, maka kita akan mencapai kondisi telekomunikasi yang lebih baik. Apalagi jika sudah ada perangkat yang bisa menggantikan ponsel 2G murah yang ada sekarang.

“Dari sisi penyebaran jaringan juga akan lebih baik, karena semua wilayah yang selama ini hanya terjangkau jaringan 2G akan berubah menjadi jaringan 4G dengan daya tampung pengguna yang jauh lebih besar,” tutup Nonot.