Bale Jabar

Kisah di Balik Pengendali “All Jokowi’s Men”

ilustrasi kampanye Jokowi dan Ma’ruf Amin (desain: Hari Prast)

Balebandung.com – Setiap pemimpin selalu punya strategi komunikasi politik untuk menggapai tangga kekuasaan. Jika Hitler punya Joseph Goebbels sebagai pengatur strategi komunikasi, maka siapakah yang pertama kali mengatur strategi politik untuk Jokowi yang tadinya hanya seorang tukang kayu?

Banyak yang mengira, Jokowi adalah mutiara yang ditempa ahli strategi komunikasi politik keluaran program doktor di kampus-kampus luar negeri. Padahal, sosok pertama yang mengarahkan langkah politik Jokowi adalah seorang jurnalis, alumnus arkeologi UGM.

Karier dan CV-nya mungkin tidak seberapa mentereng. Tapi dia membuat sejarah dengan mengorbitkan seorang tukang kayu menjadi walikota dua periode, gubernur satu periode, lalu jadi presiden dua periode.

Pada pria itu, kita menemukan beberapa pelajaran strategi komunikasi politik yang belum tentu kita dapatkan di kampus-kampus.

***

Tadinya, Jokowi bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang pengusaha mebel asal Solo yang bisnisnya mulai membaik setelah diterpa krisis. Dia pun tak punya latar belakang pengalaman organisasi. Bersama rekannya, dia ikut mendirikan Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia (Asmindo) sebagai wadah bersama.

Suatu hari, dia berjalan-jalan menyusuri kota Solo. Dia menyaksikan banyak kesemrawutan. Dia mulai gelisah saat memikirkan bahwa banyak hal yang seharusnya bisa dikerjakan. Kepada rekan-rekannya, dia bercerita banyak. Diskusi itu mengerucut pada satu kesimpulan: dirinya harus maju menjadi calon walikota.

Secara suka rela, banyak orang mulai bergerak. Ada yang melobi partai. Ada pula yang mencari siapa yang akan menjadi pasangan. Bahkan ada pula yang mulai membuat fundrising atau pengumpulan dana.

Pada saat itu, Jokowi bertemu dengan pria bernama Anggit Noegroho. Anggit bekerja sebagai jurnalis di Solopos, yang kemudian menjadi pemimpin redaksi Joglo Semar. Jokowi yang tidak banyak paham politik mendapatkan banyak pencerahan dari Anggit, seorang jurnalis yang sering meliput politik. Kebetulan pula, di sela-sela kerja jurnalis, Anggit membuka jasa konsultan komunikasi.

Jokowi dan Anggit sering berdiskusi tentang strategi politik. Mereka membahas banyak topik, mulai dari hal simpel hingga hal yang agak berat. Saat mendiskusikan pakaian, Anggit menyarankan Jokowi untuk memakai batik motif godhong kates atau daun pepaya.

Anggit, alumnus arkeologi UGM ini, meyakini, daun pepaya adalah simbol rasa pahit yang membawa kesembuhan. Banyak manfaat kesehatan yang bisa didapatkan dari daun pepaya yang pahit. Bagi Jokowi, simbol daun pepaya ini membawa pesan kalau perjuangannya di Solo akan penuh kepahitan demi menyembuhkan kota itu.

Anggit tak cuma merumuskan filosofi dan pilihan pakaian. Dia juga membuat survei awal yang menunjukkan keterpilihan Jokowi hanya 10%. Mereka menjadikan itu sebagai titik awal untuk membuat berbagai langkah politik.

Dalam buku Jokowi Menuju Cahaya yang ditulis Alberthiene Endah, Jokowi bercerita dirinya sangat menyukai diskusi dengan Anggit. Pemikiran Anggit sederhana, berorientasi rakyat, serta ngena. Jokowi dan Anggit adalah dua sisi mata uang koin yang saling melengkapi. Anggit merumuskan strategi, dan Jokowi menjalankan strategi itu.

Anggit Nugroho

Pemikiran Anggit yang sederhana ini bersesuaian dengan filosofi Jawa mengenai ilmu godhot yakni mencari pemecahan masalah dengan berpikir sederhana. Salah satu solusi yang ditemukan adalah temui masyarakat, ajak berbicara, serta dengarkan kata hati mereka.

Jokowi menjadikan turun langsung bertemu masyarakat itu sebagai strategi. Saat ditanya jurnalis, apa nama strategi itu, Jokowi kebingungan. Dia lalu menemui Anggit dan berdiskusi.

“Masuk dan mengitari sampai ke tempat terdalam itu namanya blusuk, Pak. Begini saja, kita kasih nama gaya kampanye ini blusukan. Sementara itu dulu. Nanti kalau kita sudah ketemu kata yang lebih tepat tinggal kita revisi,” kata Anggit.

Ternyata Jokowi malah suka nama itu. Dia mendatangi warga dan bersalaman. Seorang anggota tim menghitung kalau Jokowi telah bersalaman dengan 37% jumlah penduduk Solo. Berkat strategi blusukan, dia terpilih menjadi walikota.

Anggit tidak lantas meninggalkan Jokowi. Dia tetap membantu Jokowi untuk merumuskan banyak hal penting. Solo berbenah. Nama Jokowi tidak hanya bergema di Solo saja, tetapi seluruh Indonesia. Perlahan kemajuan Solo menjadi kisah yang tersebar ke mana-mana. Nama Jokowi bergema hingga DKI Jakarta.

***

Hari itu, 17 Maret 2012, ponsel Jokowi berdering saat sedang menonton Opera Van Java yang digelar di Stadion R Maladi, Solo. Sebuah SMS masuk ke ponselnya. Pengirimnya adalah Megawati Sukarnoputri, mantan presiden yang kini jadi ketua umum partai. Isinya, Jokowi mesti tiba di Jakarta tepat pagi hari.

Bersama Anggit, serta ajudannya Hanggo, mereka berangkat dengan pesawat paling pagi. Ternyata di DPP PDIP, dia disambut meriah. Semua jurnalis dan politisi yang hadir bertepuk tangan ketika dirinya datang. Semua orang sudah tahu kalau Jokowi akan didorong PDIP menjadi calon Gubernur DKI Jakarta.

Seusai pertemuan, Jokowi mencari hotel untuk menginap bersama Anggit dan Hanggo. Jokowi sekamar dengan Anggit sehingga mereka bisa leluasa berbincang. Jokowi berkata: “Anggit, sekali lagi ini terjadi. Semakin saya menolak, semakin jalan saya dimudahkan.”

Esoknya, Jokowi yang dipasangkan dengan Ahok hendak mendaftar ke KPU. Jika di Solo, Jokowi memakai batik godhong kates, maka harus ada identitas di Jakarta. Terbersit ide tentang kemeja kotak-kotak.

ilustrasi Jokowi saat blusukan di Bali (desain: Hari Prast)

Jokowi bersama Anggit dan Hanggo berkeliling toko pakaian di Tebet, dekat kantor DPP PDI Perjuangan untuk mencari baju kotak-kotak. Lantaran rapat, Anggit bergerak sendirian. Dia pun memesan dua pasang dalam berbagai ukuran untuk Jokowi dan wakilnya.

Tak cuma itu, Jokowi mendengar masukan Anggit agar mendaftar ke KPU dengan mengendarai Bus Kopaja. Singkat kata, kerja keras Jokowi terbayar. Dia terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta. Kembali, sejarah baru tercipta.

Bahkan sejarah baru tak berhenti di situ. Jokowi maju sebagai calon presiden, dan dicatat sejarah sebagai orang sipil pertama yang memenangkan pemilihan langsung di Indonesia. Kariernya melesat bak meteor. Dimulai dari walikota, kemudian gubernur, setelah itu presiden.

Dalam semua kerja-kerja politik itu, Anggit selalu terlibat. Bersama beberapa orang, Anggit membentuk tim yang dinamakan Alap-alap. Tim ini bertugas untuk menentukan ke mana saja Jokowi hendak melakukan blusukan. Tim ini mengolah semua informasi dan merekomendasikan apa saja keputusan yang sebaiknya dipilih Jokowi.

Dalam Majalah Tempo, edisi 21-27 Januari 2012, Tim Alap-alap ini dinamakan “All Jokowi’s Men.” Tempo mencatat, tim itu menggodok semua isu, menyediakan data, dan memperkirakan dampaknya. Dalam tim ini, tak ada satu pun orang partai. Semuanya adalah orang dekat Jokowi yang dibawa dari Solo.

Peran Anggit tidak saja sebagai pengolah semua informasi. Dia juga menjadi orang kepercayaan Jokowi yang mengurusi segala hal. Bahkan Anggit mengatur perabot di rumah jabatan Jokowi. Bahkan tempat tidur didatangkan khusus dari Solo, yang pernah dibuat sendiri oleh Jokowi. “Bapak merasa nyaman dengan tempat tidur ini,” kata Anggit.

Dalam buku Menuju Cahaya, Jokowi bercerita suasana saat dirinya terpilih sebagai presiden. Dia memanggil Anggit dan memintanya secara khusus untuk tetap mendampinginya. Anggit diberi jabatan resmi sebagai Sekretaris Presiden yang menentukan semua jadwal serta kunjungan Jokowi ke mana pun.

“Dia telah mendampingi saya selama kampanye dan memimpin Solo, serta Jakarta. Dia tak pernah mau mendapatkan jabatan khusus, padahal pemikirannya sangat berarti. Setelah jadi presiden, saya tidak menginginkan hubungan tidak resmi. Saya memanggilnya secara khusus dan memintanya untuk memangku jabatan resmi,” kata Jokowi.

***

Tentunya, ada banyak pihak yang mendampingi dan berkontribusi pada kemenangan Jokowi. Untuk kontestasi sebesar pilpres, pasti ada banyak tim yang terlibat langsung di lapangan. Mulai dari tim desain, tim komunikasi politik, hingga tim pemenangan lainnya.

BACA: Bukan Jokowi di Media Sosial

Tapi, tim Anggit adalah tim yang konsisten mendampingi Jokowi sejak maju menjadi walikota, hingga gubernur dan pemilihan presiden. Kita bisa katakan, inilah tim sukses yang paling berhasil dalam sejarah republik ini. Inilah tim dan konsultan politik, yang tadinya bergerak dan menang di pilkada lokal, kemudian bertarung dan tetap menang di level pilpres.

Seorang walikota di satu daerah di kawasan timur Indonesia tak habis pikir mengapa Jokowi yang tadinya sesama walikota kok tiba-tiba menjadi presiden. Bagi praktisi komunikasi, rahasianya terletak pada kemampuan mengemas branding dengan baik, serta konsisten menjaga branding itu.

Jika kita percaya bahwa politik adalah kerja-kerja kolektif yang bermula dari bawah serta direncanakan dengan matang, maka kerja-kerja politik tim Anggit adalah kerja yang paling efektif dalam mempersiapkan seorang kandidat, mulai dari level lokal, hingga nasional. Tim ini menepis isu, melawan hoaks, kemudian menentukan apa wacana positif yang dibagikan kepada publik.

Banyak orang penasaran dengan chemistry mengapa Jokowi begitu percaya pada tim ini, serta totalitas kerja yang ditunjukkan tim ini. Padahal dengan melihat bagaimana Jokowi, maka jawabannya mudah ditemukan.

Jokowi adalah tipe pengusaha yang tidak mudah percaya kepada siapa pun. Tapi sekali dirinya percaya, maka kepercayaan itu akan dipegang teguh sampai kapan pun, sepanjang yang dipercayai bisa menjaga kepercayaan itu.

Jokowi bersama enam presiden RI lainnya (desain: Hari Prast)

Selain itu, Anggit dikenal sebagai figur yang tidak pernah meminta apa pun kepada Jokowi. Dia dan timnya bekerja ikhlas, dengan hasil yang efektif. Simbiosis mutualisme yang dibangun dengan Jokowi menjadikan kerja tim itu menjadi sangat terorganisir dan rapi.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kerja-kerja tim kecil yang selama ini mendampingi Jokowi adalah Anda bisa punya berbagai gagasan hebat, tapi gagasan itu harus dibumikan dengan sederhana, dalam langkah-langkah politik yang tampak sederhana, tapi punya visi besar yang bisa bergema di semua wilayah.

Setiap orang bisa membuat konsep dan branding. Anda tak perlu lulus dari kampus besar dunia untuk sekadar bisa membuat konsep dan branding. Tapi, tidak semua orang tahu bagaimana membumikan serta menjaga ritme sehingga branding itu tetap hidup, berkembang, dan menyebar ke mana-mana.

Di titik ini, kita mesti belajar pada simbiosis antara Anggit dan Jokowi. Anggit punya kontribusi ide, dan Jokowi menjalankannya di lapangan. Sinergi keduanya adalah awal dari harmoni dan efektivitas kerja-kerja tim. Sinergi keduanya adalah bagian dari sejarah bangsa Indonesia yang telah memilih seorang presiden dari kalangan rakyat jelata.

Sebegitu besarnya peran Anggit, namun saat ditanya salah satu media online tentang perannya selama ini mendampingi Jokowi, dia hanya menjawab singkat: “Ah, siapalah saya.” *** by Yusran Darmawan, timur-angin.com, 26 June 2019.

Ketika Jokowi Bangkrut

 

 

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close