Komisi X DPR RI Minta PSSI Revisi Sanksi terhadap Persib

Sabtu, 6 Oktober 2018 | 07:41:40 | Penulis : bb1 | 211 Kali dilihat

Caleg DPR RI dari Partai Nasdem Dapil Kab Bandung H Dadang Rusdiana SE M,Si, saat konsolidasi relawan Darus di RM Kurma Jl. Raya Bypass Bandung-Garut KM 26, Desa Tenjolaya Kec.Cicalengka Kab. Bandung, Jumat (5/10/18). by iwa/bbcom

CICALENGKA – Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dianggap tidak adil dan tidak proporsional dalam memberikan sanksi terhadap Persib Bandung atas insiden tewasnya suporter Persija di Stadion GBLA pada Minggu 23 September lalu. Padahal harus diakui, PSSI selama ini tidak melakukan pembinaan terhadap suporter sepakbola.

“Kalau pendapat saya, insiden ini kan melibatkan suporter. Dan harus diakui PSSI selama ini belum membuat sebuah sistem pembinaan suporter. Artinya, nggak boleh kesalahan suporter itu kemudian ditimpakan ke club,” tandas anggota Komisi X DPR RI Dadang Rusdiana kepada Balebandung.com, Sabtu (6/10/18).

Jadi, menurut Kang Darus, sapaan Dadang Rusdiana, sanksi yang dijatuhkan PSSI itu harus proporsional. Jangan sampai karena ulah sekelompok atau oknum suporter itu, kata dia, kemudian secara umum ditimpakan kepada club atau Persib.

“Mana kesalahan club, mana kesalahan panitia pertandingan, mana kesalahan suporter, mana kesalahan pengendalian pengamanan tidak kondusif misalkan. Maka PSSI harus bisa memilah-milah itu,” imbuh politisi Partai Nasdem ini.

Karena itu menurutnya wajar saja kalau sekarang muncul kekecewaan para suporter terhadap sanksi yang diberikan PSSI yang dinilai tidak adil.

“Tindakan yang dilakukan PSSI itu seakan-akan tidak proporsional dan tidak profesional. Jadi, saya sebagai anggota Komisi X DPR RI yang berasal dari Bandung, meminta agar PSSI untuk segera melakukan review atau revisi terhadap sanksi yang diberikan. Saya kira ini tidak bisa dibiarkan,” kata Darus.

Caleg DPR RI Dapil Jabar 2 Kab Bandung ini pun menyatakan agar PSSI bisa berbenah dan melakukan introspeksi. Menurutnya, semua suporter sepakbola Indonesia harus terorganisir dengan baik dalam sebuah sistem pembinaan dan sebuah regulasi yang jelas.

“Pembinaannya itu bisa dilakukan dengan penertiban atas organisasi-organisasi yang membawahi suporter, berbadan hukum, kriteria keanggotaan suporter yang jelas, pembinaan intensif dari organ-organ bentukan PSSI yang khusus menangani masalah suporter, dan hal lainnya,” sebut Darus.

Dia bilang selama ini kan suporter bermunculan dengan membuat nama yang dibuat masing-masing secara spontan dan alami. “Tapi kemudian adakah pembinaan dalam bentuk kegiatan atau apapun dari PSSI terhadap supoter? Selama kan ini nggak ada,” kilahnya.

Padahal menurutnya suporter itu potensi yang sangat luar biasa. Begitu pula dengan respon masyarakat terhadap sepakbola. Indonesia termasuk negara dengan jumlah suporter sepakbola terbanyak. Menurutnya pun sepakbola itu bisa menjadi daya perekat, walaupun sekaligus di situ ada peluang-peluang terjadinya konflik antar suporter.

Lebih dari itu, kata Darus, adanya suporter bukan sekadar punya potensi dukung mendukung olahraga, tapi juga bisa jadi potensi ekonomi dan potensi sosial. Namun sayangnya selama ini PSSI belum mampu memberikan pembinaan.

“PSSI nggak bisa menyalahkan Persib saja.Karena tadi saya katakan, bahwa selama ini juga PSSI belum mampu melakukan pembinaan terhadap para suporter sepakbola. Insiden ini adalah kegagalan kita bersama, nggak boleh hanya menimpakannya kepada Persib,” pungkas Darus.

***

Sebelumnya diberitakan, pertandingan Liga 1 Gojek, antara Persib dan Persija di Stadion GBLA memakan korban. Satu orang suporter Persija The Jak Mania tewas dikeroyok massa sebelum laga Persib-Persija dimulai.

Korban bernama Haringga Sirila (23) warga Jl. Bangunusa RT 13 RW 03 Kel. Cengkareng Timur Kec. Cengkareng, Jakarta Barat, tewas dikeroyok oknum Bobotoh Persib di luar Stadion GBLA, tepatnya di area parkiran Gerbang Biru, sekitar pukul 13.00 WIB, Minggu (23/9/18).

Kasus ini berujung dengan sanksi PSSI terhadap Persib. Persib Bandung harus menggelar partai kandang usiran di luar Pulau Jawa (Kalimantan), tanpa penonton sampai akhir musim kompetisi 2018. Hukuman itu dilanjutkan dengan menggelar laga kandang tanpa penonton di Bandung sampai setengah musim kompetisi tahun 2019.

Adapun untuk suporter dan penonton, Komdis juga memberikan sanksi berupa larangan menyaksikan pertandingan Persib Bandung, baik kandang maupun tandang, serta pertandingan Liga 1 lainnya sejak putusan ini ditetapkan sampai pada setengah musim kompetisi 2019. ***

Laga Persib-Persija Telan Korban