Kutawaringin Rintis Gerakan Satapok

Friday, 20 October 2017 | 16:00:46 | Penulis : bb2 | 137 Kali dilihat

Kepala DLH Kabupaten Bandung Asep Kusumah saat ‘soft launching’ Gerakan Satapok di Jalan Cipatik-Soreang, Kec Kutawaringin, Kab Bandung, Jumat (20/10/17). by Humas Pemkab Bdg
Kepala DLH Kabupaten Bandung Asep Kusumah saat ‘soft launching’ Gerakan Satapok di Jalan Cipatik-Soreang, Kec Kutawaringin, Kab Bandung, Jumat (20/10/17). by Humas Pemkab Bdg

KUTAWARINGIN – ‘Soft Launching’ Gerakan Sabilulungan Tanam Pohon Kesayangan (Satapok) yang diinisiasi Bupati Bandung H. Dadang M. Naser pada 1 Agustus 2017, ditindaklanjuti Kecamatan Kutawaringin dengan menanam 200 bibit pohon Jambu Air Jamaika di bahu Jalan Cipatik-Soreang, terutama di depan kantor kecamatan, Jumat (20/10/17).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Asep Kusumah, S.Sos., M.Si. mengapresiasi ‘trigger’ yang dilakukan camat beserta warga Kutawaringin sebagai yang pertama di tingkat wilayah yang menindaklanjuti ‘soft launching’ Gerakan Satapok.

“Biasanya yang pertama itu berangkat dari pemahaman kesadaran dan tanggungjawab yang besar karena kadang-kadang kita punya kebiasaan saling tunggu. Saya sangat bangga Pak Camat sudah merespon apa yang menjadi kebijakan bupati,” puji Kepala DLH.

Untuk meningkatkan upaya konservasi yang selama ini sudah dilakukan, kata Asep, ada pendekatan tematik dari Bupati Bandung yaitu Bandung 1.000 Kampung, ‘One Village One Product’.

“Program Satapok ini juga didorong menguatkan Program Bandung 1.000 Kampung, di Kutawaringin ini sudah ada zonasi Multi Purpose Tree Species (MPTS) diawali dengan tanaman Jambu Air Jamaika. Diharapkan Kutawaringin termasuk salah satu sentra pohon jambu air,” ungkap Asep.

Ia menghimbau semua masyarakat harus terlibat aktif, harus punya pohon, harus pernah menanam pohon dalam hidupnya, karena faktanya manusia memerlukan pohon sebagai penghasil oksigen.

“Satu orang minimal menanam dua pohon, satu pohon untuk memenuhi kebutuhan oksigen dua jiwa. Nah, yang satu pohon lagi untuk ibadah, meskipun pemiliknya sudah meninggal. Sedangkan pohon itu masih hidup akan menjadi pahala yang tidak akan berhenti mengalir. Dan satu hal lagi DLH sudah menyediakan sertifikat bagi setiap orang yang sudah menanam pohon. Di situ dimuat keterangan nama dan alamat pemilik serta pemeliharanya, jenis pohon serta lokasi penanamannnya,” urai Asep.

Menanam pohon adalah ibadah, menanam pohon itu wajib, bahkan ke depan Asep minta menanam pohon itu harus gaul, camat dan warganya harus menjadikan kegiatan tanam pohon sebagai tren.

“Setelah kita menanam pohon, tolong didokumentasikan, viralkan sebagai gerakan masyarakat Kabupaten Bandung, update status di media sosial dengan tagline ‘Ini pohon kesayanganku, mana pohon kesayanganmu?’ Jangan hanya update status galau saja,” selorohnya.

Perihal keterkaitan gerakan ini dengan Adipura, Asep mengatakan Adipura merupakan bagian dari pelestarian lingkungan. Kalau gerakan Satapok ini berhasil, maka dengan sendirinya penilaian Adipura akan bagus.

“Harapan ke depan semua warga masyarakat Kabupaten Bandung selama hidupnya minimal pernah menanam dua pohon. Trigger’ di Kutawaringin ini mudah-mudahan menjadi motivasi bagi daerah lain sebelum nanti ‘Grand Launching’ Gerakan Satapok bulan November bersamaan dengan Hari Menanam Pohon Indonesia,” pungkas Asep.

Berita Terkait