Pasang Tarif Rp 250 Juta Masuk Kedokteran Unjani

Sabtu, 2 Juni 2018 | 17:37:44 | Penulis : bb1 | 103 Kali dilihat

Rektor Unjani Mayjen TNI Witjaksono bersama tim saat jumpa pers pengungkapan kasus praktik percaloan seleksi masuk Fakultas Kedokteran Unjani di Kampung Unjani, Jumat (1/6/18).

CIMAHI– Modus operandi pelaku dalam mencari korban yakni ketika calon mahasiswa melakukan registrasi dengan berpura-pura menghubungi orangtua korban dengan mengaku bisa membantu untuk meluluskan masuk fakultas kedokteran Unjani.

“Upah yang ditawarkan dari kelompok ini berkisar antara Rp 200 hingga 250 juta. Apabila pada penawaran awal ini orang tua setuju, biasanya langsung diadakan pertemuan,” ungkap Sekretaris Rektor Unjani Brigjen TNI Dedi Hernadi saat jumpa pers di Kampus Unjani, Jumat (1/6/18).

Setelah deal, lanjut dia, pelaku mengajarkan menggunakan sebuah alat seperti earphone yang digunakan ketika masuk ruang ujian, lalu alat tersebut dipasang setelah pemeriksaan, kemudian ponsel dihidupkan.

“Menurut mereka, selama 30 menit jawaban belum dikirim karena soal dalam proses pengiriman. Soalnya dikirim dengan cara meng-capture oleh E yang tugasnya memfoto soal,” bebernya.

Kemudian soal di kirim ke kelompoknya untuk dikerjakan, lalu setelah 30 menit atau sekitar satu jam jawabannya dikirimkan melalui earpiece atau alat semacam earphone.

Rektor Unjani, Mayjen TNI Witjaksono, menambahkan semua pelaku yang terlibat praktek percaloan tersebut telah diamankan di Polres Cimahi. “Sedangkan untuk mahasiswa yang terlibat dalam praktek percaloan tersebut, pihak kampus memastikan akan mengeluarkannya, karena kami memiliki kode etik,” tandas Witjacksono.

Sedangkan untuk calon mahasiswa yang mengikuti seleksi dengan menerima praktek percaloan tersebut, lanjutnya, pihak kampus pun tidak meloloskannya.

Menurut rektor, Fakultas Kedokteran merupakan fakultas yang paling banyak diminati. Dalam setahun saja calon mahasiswa yang mendaftar sebanyak 2.500, sedangkan yang diterima hanya 150 mahasiswa.

“Jadi karena adanya persaingan yang sangat ketat itu, ada yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pelanggaran (percaloan),” ungkapnya.***

Berita Terkait