Pelaku Industri Tak Sadar Lingkungan Hambat Perbaikan Kualitas Air Sungai Citarum

Thursday, 7 December 2017 | 09:00:14 | Penulis : bb1 | 76 Kali dilihat

Wakil Bupati Bandung Gungun Gunawan jadi narasumber “Upaya Perbaikan Kualitas Air Sungai di Jawa Barat,” di Aula Barat Gedung Sate, Rabu (6/12). by ist
Wakil Bupati Bandung Gungun Gunawan jadi narasumber “Upaya Perbaikan Kualitas Air Sungai di Jawa Barat,” di Aula Barat Gedung Sate, Rabu (6/12). by ist

BANDUNG – Program 300 doktor yang digulirkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sejak tahun 2012, telah menelurkan lulusan. Sebut saja Luthfiandi dan Arif Dhani, lulusan doktoral Redbud University Belanda dan Victoria Unversity Australia ini terpilih menjadi dua dari 10 riset terbaik yang disertasinya diangkat dan didiskusikan dalam acara gelar riset dan seminar bertema “Upaya Perbaikan Kualitas Air Sungai di Jawa Barat,” di Aula Barat Gedung Sate, Rabu (6/12/17).

Mewakili Pemerintah Kab. Bandung, Wakil Bupati Bandung Gungun Gunawan diundang sebagai narasumber guna membahas isu lingkungan di Kab. Bandung, utamanya mengenai persoalan Sungai Citarum yang diangkat dalam gelar riset tersebut melalui sub tema “Upaya Perbaikan Kualitas Air Sungai Citarum”.

Menurut Gungun, Kabupaten Bandung selalu dihadapkan pada permasalahan seputar air. Ketika hujan air mudah sekali meluap dan ketika musim kemarau justru malah kekeringan. Belum lagi, isu penurunan kualitas air juga kerap terjadi akibat masih banyak para pelaku industri yang tidak sadar lingkungan dengan membuang limbah cair yang dihasilkan ke sungai dan DAS Citarum.

Gungun lalu memaparkan data dari 169 industri yang menghasilkan limbah cair; 96 industri taat administrasi, 104 taat teknis dan 26 yang taat keseluruhan. “Jadi, ini masih PR bagi kami. Makanya tadi tidak akan ada bantah membantah. Memang itu adanya,” ujar Gungun.

Pemerintah Kabupaten Bandung pernah melakukan upaya pembinaan dan pendataan bagi industri polutif yang akan melalukan recycle. Beberapa industri tekstil di daerah Kab. Bandung juga pernah dihimbau untuk merelokasi pekerjaan dari tekstil ke garmen sehingga tidak ada limbah. Sementara untuk proses produksi tekstil harus dikhususkan berada di wilayah berkumpulnya industri tekstil sehingga IPAL-nya bisa diolah di IPAL terpadu.

Namun hal itu menjadi sangat sulit, karena bagi mereka para pengusaha tekstil akan menjadi cost yang tinggi dengan memindahkan pabriknya itu. “Sehingga mereka tidak mau lokasi kawasan tersendiri dan IPAL terpadu. Dan ancamannya bagi kami Pemerintah Kabupaten Bandung adalah terjadinya PHK besar-besaran. Itu yang paling berat. Mungkin perasaannya harus dirasakan juga oleh bapak ibu semuanya,” tutur Gungun.

Beberapa dari industri yang nakal dan tetap melakukan pelanggaran telah diberikan sanksi oleh Pemkab Bandung, bahkan diantaranya yang sudah terbukti melakukan perusakan lingkungan sudah dimejahijaukan.

“Namun terkadang berhasil di daerah, namun tidak lolos ketika naik banding ketika di pengadilan yang lebih tinggi. Sehingga kita dikalahkan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Pemkab Bandung sangat mengapresiasi dan berharap kepada para doktor atau mahasiswa yang masih berjuang menjadi doktor, agar ilmunya dapat diimplementasikan untuk perbaikan lingkungan di wilayah Jawa Barat, khususnya Kabupaten Bandung. “Ini sangat menentukan sekali, dan pasti akan kami pakai,” kata dia.

Bagi Gungun permasalahan lingkungan di Kab Bandung ini harus diatasi dengan sinergitas yang dibangun antara stake holder pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. Pemerintah provinsi dan pusat, harus memfasilitasi kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dan jangan sampai program kerja tidak bersinergi dengan realisasi perencanaannya.

“Walaupun keberadaan Sungai Citarum ada di Kabupaten Bandung, namun harus berkolaborasi dengan semua pemerintahan, baik kota, kota adminitratif, dan kabupaten,” ungkap Gungun.

Beberapa regulasi telah dibuat agar lingkungan di Kab Bandung lebih terjaga sehingga bisa dirasakan oleh generasi mendatang. Salah satu yang sedang dilakukan adalah pembuatan rekayasa teknik, pembangunan danau retensi Cieunteung. Hal tersebut menurut Gungun, diharapkan bisa mengurangi percepatan genangan air di beberapa titik di Kabupaten Bandung.

Gungun menilai pembuatan danau retensi ini akan memakai konsep air hujan yang turun ke anak sungai ditampung terlebih dahulu melalui penampungan yang disebut embung-embung. Sehingga air hujan tidak langsung mengalir ke Sungai Citarum.

“Sudah ada pembebasan wilayah sekitar Cieunteung yang kerap tergenang kalau kita lihat di tivi-tivi. Sekarang di sana sudah tidak ada penduduk, karena akan dibuatkan danau retensi,” urainya.

Luthfiandi salah satu peserta dengan riset terbaik rupanya sependapat dengan Gungun. Luthfi merekomendasikan kepada multi stake holder untuk melakukan kolaborasi antar stake holder dengan melakukan perbaikan data, ilmu pengetahuan, dan manusia. Lalu ia juga menyarankan agar pemerintah membuat monitoring sistem dan sharing data untuk menyelesaikan permasalahan sungai yang ada di Jawa Barat ini.

“Tidak ada satu institusi yang bisa melakukan perbaikan sendiri, karena memerlukan metode yang tepat dari data yang terkumpul,” tandas Luthfi.

Berita Terkait