POPM Cacingan Berkontribusi 30% Penurunan Stunting

Senin, 2 April 2018 | 18:51:23 | Penulis : bb2 | 276 Kali dilihat

Pelaksanaan POPM Cacingan, Senin (2/4). by Humas Pemkab Bdg

SOREANG – Mengantisipasi stunting (kerdil) pada pertumbuhan anak, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung segera melakukan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Cacingan pada bulan April dan Oktober 2018.

“Pemberian obat cacing berkontribusi pada 30% penurunan stunting,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung dr. H. Achmad Kustijadi.,M.Epid di Soreang, Senin (2/4/18).

Kadinkes menyebutkan ada 10 Desa di 8 Kecamatan jadi prioritas stunting di Kabupaten Bandung, yakni Desa Rancatungku Kecamatan Pemeungpeuk, Desa Dampit, Narawita dan Tanjungwangi Kec Cicalengka, Desa Mekarlaksana Kec Cikancung, Desa Babakan Kec Ciparay, Desa Girimulya Kec Pacet, Desa Cihawuk Kec Kertasari, Desa Karangtunggal Kec Paseh dan Desa Cibodas Kec Pasirjambu.

Selain itu, berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2013, prevalensi stunting di Kab Bandung sebesar 40,7% dan data ini digunakan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) sebagai dasar penentuan 100 kabupaten kota untuk intervensi standing stunting.

“Kabupaten Bandung termasuk daerah prioritas stunting oleh Kementrian Kesehatan. Berdasarkan hasil BPB (Bulan Penimbangan Balita) tahun 2017, terlaporkan dari 253.078 anak yang ditimbang, 8,06% mengalami stunting,” ungkap dr Dedi, sapaan Kustijadi.

Obat cacing yang diberikan kali ini, kata Dedi, menyasar 752 ribu anak-anak dari usia 1 hingga 12 tahun. Pelaksanaan POPM Cacingan ini mulai dilakukan pada hari Senin (2/4) di beberapa sekolah dan posyandu. Bentuk obat cacingnya berbentuk pil manis rasa jeruk, sehingga sangat cocok untuk anak-anak.

“Pemberian obat cacing sudah dimulai sejak hari ini, bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan dan Kemenag di wilayah Kabupaten Bandung. Rasanya jeruk manis seperti permen, jadi tidak seperti obat lain yang rasanya pahit. Periode pertama pada bulan April dan periode kedua bulan Oktober yang akan dilakukan selama 5 tahun,” terang Dedi.

Sementara Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinkes Kab Bandung dr. Rikmasari menjelaskan, kerdil (stunting) pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (di bawah 5 tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi kronis terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun.

“Dengan demikian periode 1.000 hari pertama kehidupan seyogyanya mendapat perhatian khusus, karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas anak,” tandas Rikma.

Untuk intervensi penanganan stunting, diperlukan adanya kerjasama lintas instansi yakni Dinas PUPR, Dinas Perkimtan, Disperindag, DP2KBP3A juga para kader dan Kemenag, di samping 62 puskesmas di wilayah Kab Bandung.

“Semuanya memiliki peran penting dalam menekan angka stunting di Kabupaten Bandung. Bukan hanya perbaikan pola hidup sehat masyarakat, lingkungan yang bersih dengan sanitasi yang memadai, serta infrastruktur lainnya yang menunjang kesehatan,” pungkasnya. []

Berita Terkait