SIKIBBLA Sabilulungan Tekan Angka Kematian Ibu dan Anak

Selasa, 5 Juni 2018 | 06:10:19 | Penulis : bb1 | 117 Kali dilihat

Pemkab Bandung pastikan tidak akan ada pasien ibu hamil yang terlantar.

Pemerintah Kabupaten Bandung tidak ingin ada warganya yang terlewatkan mendapatkan layanan kesahatan. Seiring dengan hal itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung berupaya terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Salah satu caranya melalui inovasi “Sistem Informasi Kesehatan Ibu Bayi Baru Lahir dan Anak atau “Sikibbla Sabilulungan. Program ini merupakan jawaban atas kebutuhan pasien ibu hamil yang membutuhkan rujukan karena mengalami komplikasi saat masa persalinan.

Dalam situasi tersebut, bidan akan menghubungi call center untuk mengetahui rumah sakit mana yang memiliki ruangan kosong, tersedia dokternya, serta memiliki alat kesehatan yang lengkap. Petugas call center menindaklanjutinya dengan menghubungi rumah sakit. Jika semuanya lengkap, maka petugas akan menghubungi bidan kembali dan mengarahkan pasien ke rumah sakit tersebut.

Keberadaan call center Sikibbla akan mempercepat dan mempermudah proses rujukan pasien ibu hamil dari bidan ke rumah sakit. Sistem call center ini juga diharapkan dapat menekan angka kematian ibu dan anak di wilayah Kabupaten Bandung.

Bupati Bandung H. Dadang M. Naser, S.H, S.Ip, M.Ip didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung dr. H. Achmad Kustijadi, M.Epid, saat menerima Pastika Parahita, di Aula Siwabessy Kemenkes di Jakarta Selatan, Kamis (31/5/18). by Humas Pemkab Bdg.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung dr. H. Achmad Kustijadi, M.Epid mengatakan, Program Sikibbla Sabilulungan digulirkan berdasarkan sejumlah pengalaman dan kasus yang dialami bidan saat menangani pasien ibu hamil yang mengalami komplikasi. Mereka sering kebingungan menentukan rumah sakit yang akan dituju sebagai rujukan.

Tidak hanya itu, saat merujuk pasien ibu hamil, kamar di rumah sakit terkadang sudah penuh, alat kesehatannya juga tidak lengkap, serta tidak terdapat dokter jaga. Kondisi tersebut dapat berdampak buruk pada kesehatan pasien ibu hamil, sehingga dapat menyebabkan kematian.

“Tujuan dari program ini yakni untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi di wilayah Kabupaten Bandung,” kata dr Dedi, sapaan Achmad Kustijadi.

Dengan adanya Sikibbla, terang Dedi, maka bidan atau perujuk bisa mendapatkan kepastian rumah sakit, adanya advis stabilisasi sebelum melakukan rujukan, fungsi Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) meningkat, serta rumah sakit lebih siap dalam menerima pasien.

“Dengan Sikibla juga akan terbangun komunikasi dan rujukan ilmu antara rumah sakit perujuk, memiliki basis data, serta adanya umpan balik untuk rumah sakit dari bidan perujuk,” imbuh Dedi.

Sikibbla dapat diakses melalui nomor 0811-2000-220 (SMS) dan (022) 5894455 (telepon), atau melalui telepon seluler 0812-2484-3919.

Menurut dr Dedi, Sikibla atau cal center ini beroperasi 24 jam dan tujuh hari sepekan. Selama beroperasi, petugas Sikibbla akan memantau rujukan yang masuk, memfasilitasi komunikasi dua arah bidan dengan rumah sakit, serta memantau bidan dan perujuk dan status pasien yang dirujuk.

Selain itu, petugas Sikibbla juga terus memantau ibu hamil yang dinilai beresiko, memberikan konsultasi ibu hamil, mengelola laporan kematian, serta mengelola aspirasi dan pengaduan yang masuk.

Dalam sistem tersebut, infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki Dinkes Kab Bandung adalah server Sikibbla dan modem SMS Gateway, 1 internet broadband, IP Publik/Sub Domain, 1 PC dan TV di Kesga/KIA.

Sementara di call center ada delapan bidan, dua PC, satu TV, satu line telepon, dua handphone, dan internet broadband 10 Mbps. Sedangkan di rumah sakit ada satu unit PC dan TV VK, satu PC IGD, satu PC Perina, satu PC Nifas, satu handphone di VK, serta satu hotline IGD. [pariwara]

Berita Terkait