Tag Archives: Peparnas

Jabar Juara Umum Peparnas XV

Wakil Wali Kota Bandung, Oded M. Danial turut hadir menyaksikan Upacara Penutupan Peparnas XV Jabar yang sukses digelar di Stadion Siliwangi Bandung, Senin (24/10). by Meiwan Humas Pemkot Bandung
Wakil Wali Kota Bandung, Oded M. Danial turut hadir menyaksikan Upacara Penutupan Peparnas XV Jabar yang sukses digelar di Stadion Siliwangi Bandung, Senin (24/10). by Meiwan Humas Pemkot Bandung

BANDUNG – Meski diguyur hujan, Upacara Penutupan Peparnas XV di Jawa Barat sukses digelar di Stadion Siliwangi Bandung, Senin (24/10/16). Para atlet dan seluruh pendukung acara tetap mengikuti acara dengan khidmat. Wakil Wali Kota Bandung, Oded M. Danial turut hadir menyaksikan acara tersebut.

Selaku pimpinan daerah tempat dilaksanakannya seluruh pertandingan dalam Peparnas XV ini, Oded mengaku merasa bangga. Terlebih lagi kepada atlet Paralympic Kota Bandung yang telah berjuang di ajang empat tahunan itu.

“Alhamdulillah, hari ini kegiatan Peparnas telah berakhir dengan sukses. Selaku pimpinan daerah Kota Bandung saya merasa bangga dan apalagi atlet-atlet Kota Bandung turut berkontribusi terhadap kemenangan Jawa Barat,” ungkap Oded saat ditemui usai acara.

Kota Bandung telah menyumbangkan 40% atlet Paralympic pada Peparnas tahun ini yang bertanding di 10 cabang olahraga. Sebagaimana dilaporkan, Provinsi Jawa Barat berhasil menjadi juara umum Peparnas XV dengan perolehan total 356 medali, terdiri dari 178 medali emas, 104 medali perak, dan 74 medali perunggu.

“Saya berharap mudah-mudahan ini bisa dipertahankan ke depan dan Kota Bandung bisa tetap menjadi penyokong keberhasilan Jawa Barat dalam semua kegiatan olimpiade seperti ini,” tambah Oded.

Para atlet dari seluruh Indonesia banyak menuai prestasi dalam Peparnas XV di Jawa Barat ini. Tercatat, 104 rekor baru tercipta di ajang ini, tidak hanya rekor nasional tetapi juga rekor ASEAN Para Games. Rekor tersebut diperoleh dari cabang angkat berat sebanyak 15 rekor, cabang atletik sebanyak 12 rekor, dan cabang renang sebanyak 77 rekor.

Kampanyekan Kesetaraan

Ketua Panitia Besar Peparnas XV, Ahmad Heryawan mengatakan, ajang olahraga terbesar se-Indonesia khusus penyandang difabel ini ingin menyuarakan sebuah pesan universal kepada seluruh masyarakat Indonesia, yakni kesetaraan dan kesempatan yang sama. Bagi Aher Peparnas telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang seseorang untuk berprestasi. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi yang terbaik.

Selain Catur Sukses yang dicanangkan Aher, menurutnya ada satu kesuksesan lain yang diraih pada ajang ini. “Yaitu sukses edukasi yang mana pada penyelenggaraan Peparnas ini diperoleh pembelajaran berharga. Ajang ini telah menghasilkan kesadaran kolektif untuk menghadirkan ruang yang sama pada penyandang disabilitas dengan memberikan fasilitas-fasilitas penunjang bagi mereka. Keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi selama ada kemauan,” jelas Aher.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang hadir untuk menutup rangkaian Peparnas XV ini juga menyuarakan hal senada. Ia sangat mengapresiasi perjuangan para atlet yang telah menunjukkan segenap kemampuannya sehingga mampu melampaui rekor-rekor nasional dan ASEAN.

Ia pun mengaku telah mengusulkan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga untuk tidak membeda-bedakan pemberian hak dasar para atlet, salah satunya terkait bonus atlet yang berprestasi.

“Saya sudah meminta kesetaraan pemberian apresiasi kepada olahragawan-olahragawati yang telah bertanding di Peparnas XV. Saya minta kepada seluruh gubernur di Indonesia bahwa apresiasi pemerintah provinsi baik di PON maupun Peparnas tidak boleh dibedakan. Saya berharap mudah-mudahan tidak ada perbedaan apresiasi,” ucap Khofifah.

Duet Pelatih Juara Kalsel Minta Sepakbola CP Terus Dikembangkan

Tim juara Kalsel setelah memperoleh medali emas dari Menpora Imam Nahrawi dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan di Lapangan Progresif, Jl Soekarno Hatta, Bandung, Minggu (23/10). by MCPeparnas
Tim juara Kalsel setelah memperoleh medali emas dari Menpora Imam Nahrawi dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan di Lapangan Progresif, Jl Soekarno Hatta, Bandung, Minggu (23/10). by MCPeparnas

BANDUNG – Duet pelatih tim juara Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV Jawa Barat, Sarno dan Berni Munkar berharap sepakbola celebral palsy (CP) bisa terus dikembangkan. Menurut mereka, semua daerah harus terus mensosialisasikan cabang olahraga ini karena potensi di banyak daerah kuat.

“Kami juga berharap NPCI (National Paralympic Comittee Indonesia) mau membuat pengurus sepakbola CP di banyak daerah agar lebih enak mengembangkannya,” kata Sarno di Lapangan Progresif, Kota Bandung, di sela pertandingan Peparnas XV.

Menurut mereka, hal ini juga penting karena paralimpian sepakbola CP sebenarnya tidak berbeda dengan umumnya. Mereka punya kemampuan dan kelebihan yang harus ditunjukan melalui ajangnya seperti Peparnas ini.

Sedikit perbedaan, kata Sarno, lebih kepada kehati-hatian. Kalau atlet biasa, ada gerakan lari secepatnya lalu berbalik itu tidak apa-apa. Tapi lain halnya dengan pesepakbola CP, resiko cedera misal pada organ tubuh yang terbatas harus diperhitungkan betul sang pelatih.

“Kalo orang Jawa bilang kan geregetan kalo melatih sepak bola, artinya kalo atlet normal nggak terlalu ribet. Kalo ini harus ada tahapan-tahapan karena kemampuan mereka terbatas. Jadi perlu kesabaran saja,” ungkapnya.

Menurut dia, sokongan Pemprov Kalsel yang luar biasa (mulai memfasilitasi latihan, berangkat, hingga bertanding), sudah seharusnya ditiru pemda lain seluruh Indonesia. Agar kesetaraan terus tercipta di tanah air. by AFN

Duta Utama Peparnas Kritik Pemda Agar Lebih Dukung Paralimpian

Duta Utama Peparnas XV Evan Lysandra saat Konpers di Media Center, Ibis Hotel,Kota Bandung, Rabu (19/10). by MC Peparnas Jabar
Duta Utama Peparnas XV Evan Lysandra saat Konpers di Media Center, Ibis Hotel,Kota Bandung, Rabu (19/10). by MC Peparnas Jabar

BANDUNG – Duta Utama Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV 2016 Evan Lysandra meminta pemerintah daerah (pemda) se-Indonesia agar lebih peduli paralimpian. Pemda didorongnya meniru Pemprov Jawa Barat/PB Peparnas XV 2016 yang dinilainya sudah memuliakan paralimpian.

Menurut Evan, setelah berkeliling sejumlah arena pertandingan (venue) pagi ini, ternyata jumlah atlet tak merata dari semua provinsi. Tidak semua provinsi mengirimkan paralimpian secara merata, ada ketimpangan satu kontingen dengan lainnya.

“Saya kritik karena belum semua pemda memberikan anggaran memadai. Ini bikin selain provinsi tak semua cabang ikut, juga menyulitkan paralimpian. Padahal prestasi itu butuh pembinaan, pembinaan butuh biaya,” ungkap Evan dalam Konfrensi Pers Harian di Media Center, Ibis Hotel, Jl Gatot Subroto, Kota Bandung, Rabu (19/10/16) sore.

Evan menilai hal itu menyiratkan diskriminasi perlakuan kepada olimpian dan paralimpian di Indonesia masih dirasakan. Padahal kebutuhan dan perjuangan kedua atlet itu tidak ada bedanya. Toh, latihan keduanya sama berat. Bisa memakan waktu berbulan-bulan sebelum bertanding. Demikian pula saat di arena pertandingan yang juga sama kompetitif dan kerasnya.

“Untuk itu, sebagai aktivis difabel, saya harapkan perhatian pemda ke depan makin baik. Jangan ada lagi perbedaan, apalagi karena alasan jumlah difabel sedikit, maka anggaran lebih kecil dari olimpian. Harusnya setara saja,” ujar Putri Indonesia 2016 dari Jawa Barat itu.

Duta Difabel di Rumah Autis, Kota Bandung ini juga mengucapkan terima kasih kepada media massa yang dianggapnya mampu membuat publik memberi perhatian khusus kepada helatan Peparnas. Infomasi paralimpian dinilainya menjadi penting belakangan ini.

“Semoga Peparnas menjadi pintu awal, terutama bagi seluruh Pemda di Indonesia agar tak hanya perhatikan paralimpian secara khusus. Tapi kaum difabel secara umum agar terus memperoleh perlakuan setara di tanah air,” ucapnya.

Yuk, Ikut Lomba Foto Peparnas Jabar Berhadiah Rp32 Juta

lomba-foto-peparnasBANDUNG – Dalam rangka pelaksanaan pesta olahraga penyandang disabilitas Peparnas XV 2016, Panitia Peparnas mengadakan lomba foto bertema “Lampaui Keterbatasan, Jadilah Juara” berhadiah total sebesar Rp32 juta. Juara I akan mendapat hadiah Rp10 juta, Juara II mendapat Rp7 juta, Juara III mendapat Rp5 juta. Lebih dari itu akan ada 10 nominasi terbaik yang akan mendapat hadiah @Rp1 juta.

Lomba ini terbuka bagi seluruh Warga Negara Indonesia berumur 15 tahun ke atas dan berdomisili di Indonesia tanpa kewajiban mendaftar dan bebas biaya. Foto yang boleh diikutkan dalam lomba adalah foto yang dijepret saat Peparnas XV berlangsung di lokasi pelaksanaan, yaitu pada 15-24 Oktober 2016.

Panitia Lomba Foto Peparnas Jabar Putri Nastiti menyatakan panitia akan mendiskualifikasi foto di luar ketentuan itu. “Fotografer dilarang menggunakan flash atau blit saat memotret,” tandas Putri dalam rilisnya, Selasa (18/10/16).

Setiap peserta wajib melampirkan data diri lengkap; yaitu nama, alamat lengkap, dan nomor telepon rumah atau telepon seluler yang bisa dihubungi. Lampirkan juga hasil scan atau hasil foto KTP. “Tanpa memenuhi persyaratan ini, peserta akan digugurkan,” imbuh Putri.

Karya yang dilombakan adalah foto tunggal, bukan foto story atau seri, dengan ukuran sisi terpanjang minimal 3.000 pixel dan resolusi minimal 300dpi dalam format JPG (soft file). “Panitia tidak menerima kiriman foto tercetak.

“Peserta dapat mengajukan maksimal lima (lima) foto dengan disertai judul dan lokasi pengambilan foto,” terang Putri. Lantas foto dikirim ke lombafotopeparnas@gmail.com paling lambat Rabu, 26 Oktober 2016.

Teknis penamaan foto adalah: Judul foto_lokasi pengambilan foto_nama lengkap peserta_nomor telepon/HP. Contoh: Maju Terus Pantang Mundur_Arena Saparua Sport Parka, Bandung_Pandji Soerjo_0888-888-888.

“Karya foto yang dikirim merupakan karya asli dan milik sendiri, tidak rekayasa, dan belum pernah meraih penghargaan,” sebut Putri.

Karya foto juga bukan merupakan hasil manipulasi digital, penyuntingan minor diperbolehkan sebatas cropping dan penyesuaian pencahayaan “brightness/contrast/level/curve untuk gelap/terang. Editing berlebihan yang dianggap telah mengubah bentuk atau warna asli foto akan digugurkan.

“Pengambilan foto harus menggunakan kamera DSLR atau kamera mirrorles. Pengambilan foto dengan kamera HP, Go Pro atau sejenis dan kemera “drone” tidak diperkenankan ikut lomba. Tidak diperkanankan menambahkan tulisan atau gambar pada foto,” kata Putri.

Menurutnya, karya foto yang sudah dikirimkan jadi hak milik panitia dan tidak akan dikembalikan. Panitia Peparnas XV berhak menggunakan foto peserta sebagai bagian dari publikasi non-komersil, seperti brosur program atau informasi pelayanan dan publikasi terbatas pada media sosial lembaga.

Ketentuan penggunaan foto akan diatur kemudian dengan tetap mencamtumkan nama fotografer. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Putri Nastiti (081313411113) atau kunjungi www.pon-peparnas2016jabar.go.id, antarafoto.com atau antarajabar.com.

Nih, Kisah Haru Kakak Beradik Atlet Angkat Berat Paralimpik

Atlet angkat berat paralimpik kontingen Bali kakak beradik I Gede Suwantaka-Ni Nengah Widiasih saat Peparnas XV Jabar. by MC Peparnas Jabar
Atlet angkat berat paralimpik kontingen Bali kakak beradik I Gede Suwantaka-Ni Nengah Widiasih saat Peparnas XV Jabar. by MC Peparnas Jabar

BANDUNG – Entah rasa haru macam apa yang melingkupi I Gede Suwantaka saat sang adik mampu mempersembahkan medali perunggu bagi Indonesia dalam ajang Paralimpik yang dihelat di Rio de Janiero, Brasil.

Satu hal yang pasti, ia tidak akan pernah melupakan perjuangannya sejak kecil bersama sang adik. I Gede adalah atlet angkat berat yang mewakili kontingen Bali. Sementara sang adik, merupakan pemecah rekor nasional kelas 41 kilogram, dan peraih medali perunggu di Paralimpik, yang tak lain adalah Ni Nengah Widiasih.

Baik I Gede maupun Ni Nengah sama-sama terjangkit polio saat kecil. Di kampungnya, di Nusa Dua, Bali, hanya keduanya yang kala itu terjangkit polio. “Awalnya, kami merasa lemas dan demam. Karena kami hidup di kampung, tidak ada dokter di sana. Maka kami pun berobat ke mantri. Di sana, salah satu kaki kami disuntik,” cerita I Gede. I Gede disuntik kaki kanannya, sementara sang adik kaki kirinya.

Tidak berselang lama, bukannya sembuh dari penyakit, keduanya justru merasakan ada yang berubah pada salah satu kaki mereka yang perlahan mulai mengecil. Sejak saat itulah, keduanya kesulitan berjalan dengan menggunakan kedua kaki. I Gede, yang waktu itu masih kelas 3 sekolah dasar, merasa kesulitan dengan musibah yang menimpanya. Biasanya, ia berjalan kaki ke sekolah yang jaraknya tiga kilometer.

“Kaki kanan saya mengecil sehingga saat berdiri menjadi tidak rata. Saya pun menggunakan kayu sebagai penopang agar bisa jalan,” kata anak pertama dari empat bersaudara ini. Kayu yang dimaksud I Gede adalah kayu apapun yang bisa ia temui di jalanan, asalkan bisa menopang tubuhnya. Masalahnya adalah karena jalanan menuju sekolah berpasir. Hal ini membuat langkahnya kian berat. Terlebih, ia tidak menggunakan sepatu sebagai alas kaki.

“Jujur, saya malu kalau pakai sepatu cuma satu. Pakai sendal pun sama karena kaki kanan saya yang terangkat. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak menggunakan alas kaki,” tutur I Gede. Namun, I Gede tak berhenti bersyukur karena selalu ada orang yang menolongnya. Seperti saat ia pulang dari sekolah, misalnya, ia kerap diajak pulang bersama oleh supir truk pasir.

Turun Mental
Tentu, proses penyesuaian I Gede setelah musibah yang menimpanya terbilang sangat lama. Pada satu waktu, ia kerap merasa mendapatkan ketidakadilan karena kondisinya tersebut.

“Saya melihat teman-teman yang lain di sekolah bisa bermain, berlarian ke sana kemari. Di situ, saya sempat merasakan bahwa musibah yang menimpa saya merupakan ketidakadilan,” kata I Gede.

Ia pun bercerita bahwa dulu, saking parahnya, sang adik tidak bisa berjalan, melainkan merangkak. Bahkan, Ni Nengah tidak bersekolah karena kondisi tersebut.

Harapannya lantas muncul saat akan menyusul Ni Nengah ke Yogyakarta untuk dioperasi dan dipasangkan kaki palsu. Sebelumnya, Ni Nengah sudah terlebih dahulu pergi ke Yogyakarta, sementara I Gede baru berangkat setelah lulus SD. Di Yogyakarta, cara pandang I Gede pun berubah 180 derajat. Ia tidak lagi malu atau minder dengan kondisinya tersebut.

“Di sana, banyak yang lebih parah dari saya, jauh lebih parah,” ucap I Gede. Setelah selama sembilan bulan tinggal di Yogyakarta, I Gede kembali ke Bali dengan semangat yang tinggi. Ia telah percaya diri dengan apa yang telah menimpanya. “Saya langsung melanjutkan sekolah, meskipun sempat cuti selama setahun,” kata I Gede.

Pilih Kerja atau Atlet?
I Gede pernah ikut dalam Peparnas 2008 yang digelar di Kalimantan Timur. Namun, pada Peparnas 2012 di Riau, dirinya absen. “Waktu itu, saya dihadapkan pada dua hal: pekerjaan atau menjadi atlet,” tutur I Gede.

Kedua hal ini terbilang sulit bagi I Gede. Alasan utamanya adalah ia kadung mencintai profesinya sebagai seorang atlet. Apalagi, ia telah mengenal dunia angkat berat sejak SMP dan mengikuti sejumlah kejuaraan. “Tapi, pada akhirnya saya lebih memilih pekerjaan karena waktu itu baru diterima. Tidak enak kalau langsung cuti,” ucap I Gede.

Ia menjabarkan sulit bagi difabel untuk bisa diterima di pekerjaan, terlebih untuk kerja di perhotelan. Sementara itu, I Gede baru saja diterima di sebuah hotel. “Susah untuk difabel diterima di perhotelan, apalagi di Bali,” kata dia.

Meskipun berat, ia pun memutuskan untuk memilih pekerjaan dan merelakan untuk tidak mengikuti Peparnas 2012. “Kalau saya memang berprestasi dan rezekinya di situ, suatu saat saya bisa mengikuti Peparnas lagi,” ucap atlet kelahiran 1990 tersebut. Nyatanya, harapan itu pun benar terwujud, karena I Gede masuk ke dalam kontingen Bali untuk Peparnas XV Jabar.

Dukung Sang Adik

I Gede telah menekuni angkat berat sejak SMP. Ia mengatakan kebiasannya ini menginspirasi sang adik untuk juga menggeluti angkat berat. “Awalnya dia terinspirasi dari saya. Karena kan saya yang duluan, terus dia ikut-ikutan olahraga. Lalu, saat itu ada kejuaraan nasional dan Bali jadi tuan rumah. Nah, dia ikut karena sudah pernah latihan bareng-bareng. Akhirnya dia dapat juara pertama. Langsung dia ditarik oleh pelatihnya untuk fokus berlatih,” cerita I Gede.

Di Peparnas XV, Ni Nengah sempat gagal mengangkat beban 96 kilogram. I Gede pun memasang wajah tenang. “96 masih enteng, biasanya 100 juga terangkat kok,” ucapnya, “Lagi kurang fokus saja dianya,” ucap I Gede.

Lantas, pada percobaan yang kedua kalinya, beban 96 kilogram pun berhasil di angkat. Semua penonton bertepuk tangan, termasuk I Gede, yang menjadi saksi pecahnya rekor nasional.

“Waktu di Brasil, dia dapat perunggu dengan mengangkat 95 kilogram. Dia hampir berhasil di angkatan 100 kilogram, tapi karena goyang jadi di-dis,” kata pria yang turun di kelas 59 kilogram tersebut.

Pada akhirnya, Ni Nengah berhasil meraih medali emas. Ia menjadi rebutan untuk difoto bersama. Di luar arena, I Gede pun berfoto bersama sang adik. Barangkali, ia menjadi orang dengan senyum yang paling sulit dimengerti: antara senang, terharu, dan bahagia. Terlebih mengingat kembali perjuangan keduanya dari mulai terserang polio bersama-sama, sampai kini punya cita-cita yang sama ingin mengharumkan nama Indonesia di dunia.

Lumpuh Kaki Tak Surutkan Laura Berprestasi

Atlet renang paralimpik asal Kalimantan Timur Laura Aurelia Dinda saat ajang Peparnas XV di Bandung, Jawa Barat. by MC Peparnas Jabar

BANDUNG – Saat Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda), kondisi kedua kaki Laura Aurelia Dinda masih normal. Namun terjadi musibah yang mengakibatkan Laura harus menggunakan kursi roda.

Setelah musibah tersebut, tantangan demi tantangan harus dihadapi Laura. Akan tetapi, tak ada kata menyerah bagi atlet renang asal Kalimantan Timur ini. Kerja keras Laura akhirnya membuahkan hasil dengan meraih medali perak pada ajang Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV di Jawa Barat.

Saat didorong menuju podium, wajah Laura masih menunjukkan raut kelelahan. Namun, hal tersebut tak menghentikannya untuk selalu tersenyum kepada setiap orang yang ditemuinya. Setelah pengalungan medali, Laura tak bisa segera beristirahat. Perempuan 17 tahun tersebut dengan sabar melayani permintaan foto bersama baik dari rekan sesama atlet, ofisial, maupun wartawan. Senyuman yang mengembang tak pernah lepas dari wajahnya.

Bagi Laura ini merupakan kali pertama dirinya ikut Peparnas. Laura bercerita, ia telah menekuni olahraga renang sejak kelas 3 SD. “Namun, saat Popda saya terjatuh. Ya terus, jadi seperti ini,” ucapnya sembari menunjuk ke arah kursi roda.

Laura bercerita alasan pertama menekuni sebagai atlet karena ia mengidap asma. Lama kelamaan, olahraga jadi hobi untuknya. Talentanya yang kemudian membawa Laura bisa mengikuti Peparnas. Selain itu, sebagai anak tunggal, ia pun didukung penuh oleh keluarganya untuk jadi seorang atlet.

“Teman-teman saya yang atlet normal sering bertanya, ‘Ngapain sih ikutan yang kaya gitu? Kenapa gak berhenti aja,” ucap Laura menirukan pertanyaan temannya. “Tantangan itu justru dari luar diri saya.”

Motivasi utamanya dari orang tua membuat Laura tetap semangat seperti sekarang ini. “Dulu, saat saya gak bisa jalan itu sempat nge-drop. Tapi, karena terus dimotivasi saya pun jadi mau,” kenangnya.

Laura saat ini masih bersekolah di SMA. Ada pengorbanan besar baginya untuk menjadi seorang atlet, terutama dalam hal waktu. “Pengorbanan uang, waktu, tenaga, sekolah, juga,”sebutnya.

Gadis yang punya harapan tampil di tingkat internasional ini menyatakan dirinya beruntung karena sekolahnya mau mengerti terutama saat ia mengambil cuti panjang selama satu semester. Ia mengaku berlatih terus sepanjang hari selama 1,5 jam sampai dua jam.

Terkait penyelenggaraan Peparnas, Laura pun memberikan apresiasi. “Untuk penyelenggaraan ini terbilang rapih karena saya sudah mengikuti berbagai event. Jadi kelihatan sekali, penyelenggaraannya rapih,” ungkap Laura.

Medali perak yang diraih di Peparnas bukan satu-satunya prestasinya. Sosok Laura menginspirasi kita bagaimana sesungguhnya seseorang yang hebat itu bukan yang berdiri saat menang, tapi juga mampu bangkit saat terjatuh.

Kursi Roda Tenis Paralimpian, Mengembang untuk Melesat

Aksi paralimpian kursi roda pada salah satu pertandingan di Peparnas XV 2016 Jabar di Graha Siliwangi, Kota Bandung, Senin (17/10). by MC Peparnas
Aksi paralimpian kursi roda pada salah satu pertandingan di Peparnas XV 2016 Jabar di Graha Siliwangi, Kota Bandung, Senin (17/10). by MC Peparnas

BANDUNG – Kalau melihat kursi roda, benak kita mungkin akan seragam. Tapi begitu melihat di lapangan tenis Graha Siliwangi, Kota Bandung, selama Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV 2016, 15-24 Oktober 2016 ini, ada kursi roda istimewa.

Musababnya karena kursi dalam cabor kursi roda tenis membantu paralimpian bergerak cepat, lincah bergerak dari satu sudut ke sudut lain, menyatu dari satu poin ke poin lainnya, hingga pertandingan memukau pun bisa kita saksikan.

Menurut pelatih tim tenis kursi roda Jawa Barat Mamat Widya, kursi tersebut memungkinkan terjadi pergerakan ritmis paralimpian karena bentuknya memang mengantisipasi kemungkinan jatuh.

Kursi lebih membeber ke samping, semacam mengembang ke kanan kiri kursi roda. Sebut saja, kedua bannya lebih melebar ke arah luar. Sementara di bagian belakang kursi ada semacam buntut besi.

Bentuk ini membuat selain lebih kokoh, juga paralimpian tidak akan terjengkang sekiranya jatuh. Kursi juga tidak akan bergerak natural mengikuti permukaan lantai, namun cenderung statis tergantung pergerakan paralimpian.

“Ban kursi roda berukuran lebih kecil, itu lebih bagus dipakai bertanding. Beda dengan yang sehari-hari. Ban ini lebih ringan untuk memutar-mutar jadinya. Ukuran ban ada yang 24, 26, dan 27, ini berbeda disesuikan bentuk bokong paralimpian,” terang Mamat di Lapangan Tenis Graha Siliwangi, Kota Bandung, Senin (17/10/16).

Menurutnya, kursi roda paralimpian ini rerata masih barang impor karena berbahan alumunium ringan yang berkualitas. Ada yang buatan Jepang, ada yang produk Singapura. Harga bervariasi Rp4 s.d Rp10 juta per buah.

Merek yang banyak digunakan paralimpian dalam Peparnas kali ini antara lain merek Quickie dan Arman. Produk lokal sebenarnya sudah ada, kisaran harga Rp2 juta. Memang lebih murah namun karena berbahan besi, fleksibilitasnya tak begitu terasa.

Saat ini, sembilan paralimpian tenis kursi roda Jawa Barat berasal dari Kabupaten Bogor sebanyak sembilan orang dan satu orang dari Kota Bandung. Mereka terpilih setelah masing-masing Pengcab NPCI mengirimkan wakilnya untuk diseleksi.

Mamat mengatakan, seperti tema Peparnas kali ini yakni Melampaui Keterbatasan, melatih paralimpian nyaris tiada bedanya sekalipun mereka harus duduk di kursi roda tadi.

“Latihannya sama dengan cara saya melatih atlet biasa. Kami suruh lari, muter-muter lapangan di awal. Tangan mereka kami latih dengan keras, karena tumpuannya di sana. Megang raket harus sama dua tangan, atau bisa satu tangan,” ungkapnya.

Jadi, fisik, taktik, dan mental sekaligus dilatih olehnya. Mamat bahkan pernah mencoba melatih dengan juga ikut gunakan kursi roda agar menghayati. Namun karena tak pengalaman, dia malah sempat terjungkal jatuh sehingga kini melatih dengan berdiri.

Menurut dia, paralimpian umumnya serius berlatih sehingga memudahkan dirinya. Terutama semangat mereka lebih menyala, motivasi untuk maju melesatnya sangat terasa.

Apalagi mereka tahu bahwa biaya Pelatda (Pelatihan Daerah) ditanggung Pemprov Jawa Barat. Selama lima bulan lamanya, kata dia, atlet tinggal di hotel pelatda dengan seluruh biaya ditanggung. Bahkan mereka dikasih uang saku bulanan.

“Kami terus kasih motivasi, nggak ada lagi. Kamu sudah dikasih duit, dikasih makan, tidur di hotel, uang ini uang rakyat, kamu pertanggungjawabkan harus dapat emas. Kamu harus buktikan kalo saya mampu seperti atlet umum. Walaupun ada keterbatasan, tapi perlihatkan kepada pemerintah dan masyarakat, bawa saya juga mampu,” pungkasnya, mantap.

Blind Judo; Dari Meraba Muncul Bantingan dan Kuncian

Aksi paralimpian judo tunanetra pria dalam Peparnas XV 2016 di GOR Pajajaran, Kota Bandung, Senin (17/10/16). by MC Peparnas
Aksi paralimpian judo tunanetra pria dalam Peparnas XV 2016 di GOR Pajajaran, Kota Bandung, Senin (17/10/16). by MC Peparnas

BANDUNG – Dari 13 cabang olahraga dalam Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV 2016 Jawa Barat, 15-214 Oktober ini, ada satu cabang beladiri yakni judo yang dihelat pertama sepanjang sejarah Perpanas.

Sebagai cabang satu-satunya, sangatlah menyentuh jika membahas bagaimana paralimpian judo tunanetra bisa piawai memainkan olahraga bantingan dan kuncian asal Negeri Sakura Jepang ini.

Setidaknya itulah yang dirasakan Budi Hidayat, pelatih paralimpian Judo Jawa Barat. Yang pertama adalah memberikan dulu gambaran lawan tanding berikut sistem permainannya. “Kami latih setahap demi tahap. Mereka diminta meraba dulu lawan, dibetulin dulu saat meraba. Jatoh, diberdiriin lagi, diraba lagi. Baru dua bulanan mereka sudah bisa jatoh-jatohan secara baik,” kata Budi di GOR Pajajaran, Kota Bandung, Senin (17/10/16).

Nah, di bulan ketiga, barulah teknik permainan seperti bantingan dan kuncian diajarkan. Intinya, orientasi lapangan melalui indra peraba dan pendengar ditekankan terlebih dahulu sebelum masuk esensi pertandingan. Kepekaan beladirinya dimunculkan paling awal, sehingga butuh waktu lumayan.

Sekalipun demikian, kata Budi, dirinya tidak pernah membedakan paralimpian dan olimpian. Sewaktu masuk lapangan, dia memperlakukan semua setara saja. “Saya lepas gitu saat melatih. Jadi jangan pernah membedakan oh saya normal, dia tunanetra, tidak seperti itu. Normal aja. Ini juga tantangan besar buat saya sebagai pihak yang pertama mencetuskan blind judo,” kata dia.

Menurut Budi, tantangan berasa ketika paralimpian tak awas lingkungan sekitar. Banyak yang ketika dia melek sedikit, sang atlet sudah terbentur tembok atau jatuh. “Kadang kalo dibanting, tangan bisa ke mana, bisa patah. Nah, itu resikonya cepet gitu. Tapi, kalo mereka sering latihan, banting-banting, otomatis dia udah relax banting jatoh gitu biasa,” ujar atlet judo dalam PON XIX Jabar ini.

Menurut dia, pendekatan bercanda saat melatih cukup efektif diterapkan. Selain tentunya terus memberi motivasi untuk mencetak prestasi. Bahasa dia, ayo judo, daripada diam, kalo berprestasi kan bisa dapat uang hadiah. Tapi paralimpian judo selalu ditekankannya jangan latihan karena uang, itu yang paling ditentangnya keras.

Ditanya harapan ke depannya, Budi mengaku berharap cabor beladiri paralimpian ini bisa makin menyebar ke daerah dan maju ke depannya agar nanti bisa mengirim perwakilan di Para Sea Games, Para Asean Games, dan Paralympics.

“Saya minta juga pemerintah makin perhatikan kaum tunanetra, khususnya judo blind. Karena ini kan cabor pertama beladiri di Peparnas. Menpora, orang orang yang di atas (pemerintahan) bisa support lagi orang-orang tunanetra,” pungkasnya.

2.500 Personil Ikut Apel Gabungan Pengamanan Peparnas

Apel gabungan dalam rangka Pengamanan Peparnas XV Jabar digelar di Mako Yon Arhanudri - 3 Jalan Menado Kota Bandung, Sabtu (15/10). by Pendam III/Slw
Apel gabungan dalam rangka Pengamanan Peparnas XV Jabar digelar di Mako Yon Arhanudri – 3 Jalan Menado Kota Bandung, Sabtu (15/10). by Pendam III/Slw

BANDUNG – Apel gabungan dalam rangka Pengamanan Peparnas XV Jabar digelar di Mako Yon Arhanudri – 3 Jalan Menado Kota Bandung, Sabtu (15/10/16).

Apel pengamanan diikuti sekitarcdari Kodim 0618/BS, Gabungan Polisi Militer, Lanud Husein, Lanal, Skogar Tap II/Bandung, Yon Arhanudri-3, Yon Armed-4, Yon Kav-4/Tank, Yonif 300/Raider, Brimob Polda Jabar, Polda Jabar, Polrestabes Bandung, Satpol PP, Damkar, Basarnas, Dishub, Kesdam III/Slw dan unsur lainnya.

Karo Ops Polda Jabar Kombes Pol Leonidas menekankan seluruh personil harus tahu tugas, fungsi dan tanggung jawab dari tiap-tiap personil yang sudah di-floting, mampu
mengambil tindakan cepat bila ada perkembangan di lapangan dan laporkan kepada yang tertua di bagian masing-masing.

“Pengamanan harus lebih ekstra karena peserta yang diamankan adalah personil distabilitas, peliharan kekompakan dan kerjasama yang baik dari sesama antar kesatuan,” tandas Leonidas.

Seusai pel dilanjutkan pembagian tempat dan tugas yang akan dilaksanakan, hadir pada kegiatan ini Kasat Pol PP Provinsi Jabar Sigit, Kapolrestabes Kombes Pol Winarno, Pasiops Kodim 0618/BS Mayor Inf Sandi Yudha, Para Danramil Kodim 0618/BS, para Kapolsek dan unsur undangan lainnya.

Aher Ingin Berikan Pelayanan Terbaik Buat Peparnas Keterbatasan Bukanlah Penghalang

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan saat Gala Diner bersama atlet Peparnas, di The Trans Luxury Hotel Bandung, Jumat (14/10) malam. by Humas Pemprov Jabar
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan saat Gala Diner bersama atlet Peparnas, di The Trans Luxury Hotel Bandung, Jumat (14/10) malam. by Humas Pemprov Jabar

BANDUNG – Saat Gala Dinner menjamu para atlet Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV/2016 Jawa Barat, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan ingin memberikan pelayanan terbaik bagi para atlet yang pada dasarnya berkebutuhan khusus tersebut.

Salah satunya, diadakannya jamuan makan malam atau gala dinner, merupakan bentuk penyambutan para atlet Peparnas yang juga dilakukan terhadap atlet PON sebelumnya. Dalam artian, PB PON & Peparnas Jabar menjamu dan memperlakukan semua secara istimewa baik atlet Peparnas maupun PON.

PB PON XIX/Peparnas XV berusaha memberikan pelayanan yang ramah difabel, salah satunya adalah dengan penyediaan bus khusus untuk para atlet difabel selama perhelatan olahraga itu. Bus khusus tersebut dilengkapi dengan perangkat hidrolik untuk mengangkat kursi roda masuk ke bus. Selain itu, disediakan pula fasilitas yang spesifik bagi para atlet difabel, mulai dari hotel yang menyediakan fasilitas difabel, akses jalan khusus menuju venue pertandingan, dan hal-hal khusus lainnya.

“Kami berusaha sekuat tenaga untuk menghadirkan yang terbaik untuk kenyamanan para atlet (Peparnas). Kami juga berinovasi, ada bus-bus yang khusus untuk kebutuhan teman-teman difabel. Kita pilih juga hotel yang menyediakan akses untuk para difabel ini,” kata Aher saat Gala Diner bersama atlet Peparnas XV/ 2016, di The Trans Luxury Hotel Bandung, Jumat (14/10/16) malam.

Terkait penginapan, Aher menuturkan hotel yang akan digunakan untuk para atlet ada 15 hotel, sementara untuk official disediakan 14 hotel. Sehingga total seluruhnya ada 29 hotel. Fasilitas yang disediakan tersebut sudah siap digunakan para atlet dan official.

Semua pelayanan terbaik itu disediakan tak lain karena Peparnas merupakan sebuah penghargaan terhadap rekan sebangsa setanah air, yang tentu sama-sama makhluk Tuhan. Terkait hal tersebut, Peparnas menyediakan ruang bagi kaum difabel untuk dapat pula menorehkan prestasi, mengembangkan jiwa sportif lewat kompetisi olahraga, sama seperti atlet yang meraih prestasi di ajang Pekan Olahraga Nasional, atau PON.

“Peparnas tak terpisahkan dengan PON. Keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi gemilang. ‘Berjaya di Tanah Legenda, Lampaui Keterbatasan, Jadilah Juara!” Seru Aher.

Hadir pada Gala Diner, Sekertaris Daerah Provinsi Jabar Iwa Karniwa, Ketua TP PKK Netty Heryawan, Ketua Pengurus Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) Provinsi Jabar R. Giselawati Wiranegara Mizwar, para kepala OPD dan Biro lingkup Pemprov Jabar, jajaran MPCI pusat dan Jawa Barat, para atlet Peparnas.