Tag Archives: Pergerakan Tanah

BPBD KBB Terus Dorong Bantuan Huntap ke BNPB

ilustrasi dampak pergerakan tanah by ist
ilustrasi dampak pergerakan tanah by ist

NGAMPRAH – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus mengusahakan bantuan perumahan hunian tetap (huntap) ke BNPB, bagi Kampung Cikatomas RT 05/10, Desa Citatah, Kecamatan Cipatat, KBB.

“Warga di sana adalah korban pergerakan tanah yang terjadi pada pertengahan November 2016,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD KBB Dicky Maulana, Sabtu (9/9/17).

Menurut Dicky, bantuan perumahan itu akan didapatkan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang sudah melakukan verifikasi ke lapangan secara langsung. Bantuan proposal perumahan sudah disampaikan ke Deputi Kedaruratan BNPB. “Kami berharap tidak lama lagi bantuan itu segera turun,” ucap Dicky.

Sejauh ini lahan untuk relokasi sudah disiapkan oleh Pemerintah Desa Citatah, yakni tanah carik seluas 3.000 meter persegi untuk permukiman baru. Tercatat ada sebanyak 151 warga atau 44 kepala keluarga (KK) yang menjadi korban bencana pergerakan tanah tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian Badan Geologi, Kampung Cikatomas memang tidak layak huni sehingga seluruh penduduknya harus direlokasi. “Verifikasi oleh BNPB dilakukan beberapa bulan lalu, sehingga diharapkan itu menjadi sinyalemen bantuan pembangunan perumahan huntap bisa segera terealisasi,” tandasnya. (dul)

Aher Himbau Waspada Pergerakan Tanah

ilustrasi bencana tanah bergerak
ilustrasi bencana pergerakan tanah

BOGOR – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menghimbau peningkatan kewaspadaan semua pihak di 27 kota/kabupaten akan pergerakan tanah dalam beberapa pekan depan.

Menurutnya, kewaspadaan diperlukan terutama pada daerah dengan historis pergerakan tanah. Pun demikian, daerah yang tak punya jejak rekam jangan terlena, karena bencana imbas pergerakan tanah bisa terjadi di mana saja.

Gubernur mengatakan tersebut setelah menerima laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi awal pekan ini terkait aktivitas gunung api dan gerakan tanah di beberapa wilayah di Indonesia termasuk Jawa Barat. Laporan mengacu pergerakan pada periode Januari hingga Februari 2017 serta rekomendasi mitigasi.

“Berdasarkan laporan Kepala Pusat Vulkanologi Kasbani, tujuh gunung api di Jawa Barat berstatus normal atau belum menunjukan adanya peningkatan aktivitas. Tapi sepanjang dua bulan terakhir di tahun 2017 ini, Jawa Barat telah mengalami sekitar 20 kali kejadian gerakan tanah. Karena itu, semua pihak waspada,” kata Aher di Bogor, Selasa (28/2/17).

Jawa Barat merupakan daerah yang paling sering terlanda gerakan tanah, yakni dengan angka 108 kejadian dari total 220 kejadian gerakan tanah di Indonesia pada tahun 2016.

Bahkan, Jawa Barat sempat mengalami kejadian gerakan tanah tertinggi di tahun 2010, yakni sebanyak 113 kali disusul oleh Jawa Timur dengan 22 kejadian dan Jawa Tengah dengan 16 kejadian. Gerakan tanah tersebut dipengaruhi oleh faktor geologi, morfologi, curah hujan, jumlah penduduk, dan kegiatan penduduk.

Menurut Aher, Badan Geologi pun sudah mengeluarkan early warning system untuk setiap kabupaten di Jawa Barat yang potensial mengalami gerakan tanah. Salah satu pemicu gerakan tanah adalah tingginya curah hujan dengan durasi lama.

Maka dari itu, diterbitkanlah peta prakiraan potensi gerakan tanah longsor dalam 1 bulan ke depan yang disebarkan ke setiap pemerintah daerah.

“Beberapa daerah di Jabar mengalami perulangan kejadian gerakan tanah, maka diperlukan peraturan daerah terkait penataan ruang, peningkatan pemahaman bahaya gerakan tanah, rekayasa teknis dalam penanganan kejadian gerakan tanah, dan penataan ruang berbasis peta zona kerentanan gerakan tanah,” sebutnya.

Aher meminta pemda dan masyarakat Jabar mengikuti rekomendasi mitigasi dari Badan Geologi dalam menindaklanjuti potensi gempa bumi. Antara lain membangun bangunan strategis yang tahan terhadap gempa untuk berkonsentrasinya banyak manusia, tidak membangun permukiman di atas dan di bawah tebing, dan tidak mendirikan bangunan di atas tanah tumbuan yang tidak memenuhi tingkat kepadatan yang sesuai.

Kemudian, pemetaan mikrozonasi, membangun kewaspadaan masyarakat dan pemerintah daerah melalui pelatihan antisipasi, meyiapkan alur dan tempat evakuasi bencana, menyelenggarakan pendidikan dini tentang gempa bumi, dan membangun alur evakuasi.

Untuk tingkat aktivitas gunung api di Jawa Barat, tidak terdapat peningkatan aktivitas dan tidak ada kejadian yang menimbulkan korban, baik dari pengunjung ataupun wisatawan.

Beberapa Gunung Api di Jawa Barat seperti Gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Galunggung, Gunung Ciremai, dan Gunung Tangkuban Perahu berada pada level 1 atau berstatus normal.

Tujuh gunung api di Jawa Barat memang normal, tetapi tentu juga akan mengeluarkan magma dan tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Ini dapat meletus kapan saja. Badan Vulkanologi tetap memantau kondisi di setiap gunung tersebut secara visual. Maka, pemprov mengeluarkan himbauan kepada publik sebagai upaya mitigasi.

Relokasi 187 Warga Kampung Dengkeng Sebelum Lebaran

pengungsiBATUJAJAR – Relokasi terhadap warga Kampung Dengkeng, RT 01/RW 12, Desa Wangunsari, Kecamatan Singdangkerta, Kabupaten Bandung Barat yang menjadi korban bencana alam pergerakan tanah akan dilakukan sebelum lebaran. Rencananya ada 57 kepala keluarga (KK) atau sekitar 184 jiwa yang nantinya akan direlokasi.

“Relokasi akan segera dilakukan paling lambat sebelum lebaran ini,” sebut Kepala Pelaksana BPBD KBB Rony Rudiana, Sabtu (11/6/16).

Untuk tempat relokasi, kata Rony, warga akan menempati rumah hunian sementara (huntara) yang berlokasi di Kampung Loji yang terletak di kawasan hutan milik Perhutani dengan luas lahan mencapai sekitar 4.500 meter persegi.

Meski huntara namun bangunan itu berupa bangunan semi permanen dan akan dilengkapi dengan fasiitas umum lainnya. Diharapkan warga bisa merayakan lebaran dengan nyaman ketika sudah pindah ke tempat relokasi tersebut.

Rony menyebutkan berdasarkan aturan penggunaan huntara maksimalnya hanya dua tahun sebelum mereka dibangunkan rumah hunian tetap (huntap). Anggaran untuk pembangunan itu dianggarakan dari pemerintah pusat sedangkan Pemkab Bandung Barat berkewajiban menyiapkan lahannya.

“Selama pengungsi tinggal di huntara kami akan mencari lahan untuk hunain tetap dengan meminta rekomendasi dari Badan Geologi agar jangan sampai lahan yang akan dibangun huntap kondisinya rentan terhadap bencana,” tutur Rony.

Seperti diketahui akibat kejadian bencana alam pergerakan tanah yang terjadi dua bulan lalu sebagian besar rumah warga di Kampung Dengkeng, RT 01/RW 12, Desa Wangunsari, Kecamatan Singdangkerta, KBB mengalami kerusakan. Sejak saat itu warga sampai sekarang terpaksa diungsikan ke lokasi pengungsian sementara. [fik]

Warga Korban Pergerakan Tanah di Sindangkerta Diminta Mengungsi

ilustrasi pengungsi
ilustrasi pengungsi

NGAMPRAH – Bencana pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Dengkeung, RT 01/12, Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mendapatkan perhatian serius dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB. Bahkan rencananya BPBD akan meminta tim dari Badan Geologi untuk meneliti tanah di kawasan tersebut.

Kepala BPBD KBB Rony Rudyana mengatakan saat ini pihaknya sudah melakukan upaya penanganan sementara dengan mengungsikan warga ke tempat yang aman. Warga juga diminta untuk tidak berada di rumah mereka yang terdampak pergerakan tanah ini saat kondisi sedang hujan.

“Kami sudah melarang agar warga tidak berada di rumah saat hujan turun, karena dikhawatirkan terjadi longsor akibat tanah yang sudah retak-retak,” kata Rony, Selasa (5/4/16).

Dirinya beralasan saat ini curah hujan masih tinggi sehingga sangat riskan dan berpotensi terjadi longsor ketika air hujan masuk ke celah-celah tanah yang sudah mengalami retak-retak itu. Untuk itu pihaknya sudah membangun dua tenda pengungsian bagi warga untuk tinggal sementara.

Dari data yang diterimanya, akibat bencana ini telah menyebabkan 6 rumah rusak berat, 3 rumah rusak sedang, dan 3 rumah rusak ringan, serta 45 rumah terancam. Di permukiman itu ada total sebanyak 57 KK dengan jumlah jiwa mencapai 191 jiwa.

Rony juga mengaku sudah mengirim surat kepada Badan Geologi untuk melakukan penelitian di kawasan tersebut apakah tetap aman untuk permukiman atau tidak. “Nantinya rekomendasi dari Badan Geologi akan menjadi acuan kami dalam mengambil langkah selanjutnya,” kata dia. [fik]

Pergerakan Tanah di Sindangkerta, 12 Rumah Rusak

ilustrasi rumah rusak
ilustrasi rumah rusak

SINDANGKERTA – Sebanyak 12 rumah rusak dan beberapa rumah lain kondisinya terancam akibat bencana pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Dengkeng, Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat.

Menurut Sekertaris Desa Wangunsari Asep Toha, pergerakan tanah itu terjadi sejak awal Februari 2016 dan terus mengalami pergerakan. Awalnya terjadi pada lahan persawahan, tetapi akibat insensitas hujan yang cukup tinggi membuat pergeseran tahan merembet ke permukiman warga.

“Ada 12 rumah yang mengalami rusak sedang dan berat yang puncaknya terjadi pada Maret 2016,” sebut Asep, Senin (4/4/16).

Dia menyebutkan awalnya warga menganggap pergerakan tanah itu sebagai kejadian biasa. Tapi dengan makin besarnya luas pergeseran membuat warga memutuskan untuk mengungsi. Terlebih rumah yang mereka tempati mengalami kerusakan dan sebagian kecil wilayah pergeseran telah mengalami longsor.

Rumah yang menjadi korban berada di RT 01 dan 02, RW 12, di mana terdapat 57 Kepala Keluarga, dengan total 184 warga. Berdasarkan hasil peninjauan, luas pergeseran tanah mencapai lima hektare dengan lebar retakan sekitar 10 sentimeter dengan kedalaman 1-2 meter.

Saat ini sebagian dari mereka sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman, tetapi sebagian lagi memilih untuk bertahan dirumah masing-masing. “Untuk kerusakan rumah bervariasi tapi ada juga yang hampir rubuh,” kata Asep. [fik]