Tag Archives: Perhutani

Perhutani Ambil Peran untuk Kedaulatan Pangan

Dirut Perhutani Mustoha Iskandar (kanan) bersalaman dengan jajaran BOD Perhutani saat Halal Bihalal Perhutani di Graha Rimba Harmoni, Perhutani Divre Jabar-Banten, Bandung, Rabu (20/7). by Humas Perhutani
Dirut Perhutani Mustoha Iskandar (kanan) bersalaman dengan jajaran BOD Perhutani saat Halal Bihalal Perhutani di Graha Rimba Harmoni, Perhutani Divre Jabar-Banten, Bandung, Rabu (20/7). by Humas Perhutani

BANDUNG – Perhutani terus melakukan penguatan di sektor non kayu, terutama pangan. Di samping dalam rangka mendukung program kedaulatan pangan yang digaungkan pemerintah, dari aspek bisnis sektor pangan memiliki nilai keuntungan yang cukup besar.

“Perhutani harus ambil peran dalam upaya membangun kedaulatan pangan. Kita harus berkontribusi untuk negeri dalam urusan pangan,” tandas Dirut Perhutani Mustoha Iskandar saat Silaturahmi dan Halal Bihalal Perhutani di Graha Rimba Harmoni, Perhutani Divisi Regional Jawa Barat-Banten, Jl Sukarno Hatta no 628, Bandung, Rabu ( 20/7/16).

Pengayaan pangan yang dilakukan Perhutani,kata Dirut, utamanya melalui penanaman padi dan jagung yang ditanam di kawasan hutan melalui sistem tumpang sari. Berdasarkan data Perhutani tahun ini yang cukup menonjol adalah produksi jagung. Dari jumlah yang ditargetkan 1,2 juta ton per tahun, sampai dengan semester I tahun ini produksi jagung sudah mencapai 54 persennya.

Selain ada permintaan dari pemerintah, sektor pangan yang digarap Perhutani bisa mendatangkan keuntungan, baik dari sisi pendapatan serta perbaikan cash flow Perhutani.

Mustoha mengungkapkan sektor non kayu sebenarnya sudah digarap Perhutani sejak lama. Penguatan di sektor non kayu merupakan pilihan logis lantaran memiliki daya jangkau bisnis ke depan yang baik, dan bisa menambah pundi-pundi pendapatan Perhutani di luar kayu.

“Kita tidak bisa mengandalkan pendapatan dari satu keranjang saja. Untuk itu Perhutani harus bisa memiliki semangat corporate lifecycle dengan terus berinovasi, tapi tetap berpijak pada kaidah-kaidah kelestarian. Saat ini tak bisa dipungkiri pasar kayu jati hanya untuk kalangan tertentu saja karena harganya mahal, akhirnya pasar mencari subtitusi jenis lain,” ujarnya.

Optimalkan Fungsi Hutan, ITB-Perhutani Tandatangani MoU

itb-perhutani3BANDUNG – Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi DEA bersama Direktur Utama Perum Perhutani Dr. Ir. Mustoha Iskandar SH, MDM menandatangani Naskah Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding) antara Perum Perhutani dengan Institut Teknologi Bandung, di Ruang Rapim A Gedung Rektorat ITB, Kamis (19/5/16).

MoU tersebut merupakan pedoman (payung) untuk pelaksanaan kerja sama lebih lanjut dan lebih rinci dari para pihak, yang akan dituangkan di dalam suatu Perjanjian Kerjasama, terutama dalam pengelolaan hutan yang optimal sesuai fungsinya.

“Kita berharap kerjasama ini tidak berhenti sampai penadatanganan Kesepakatan Bersama, tetapi harus segera ditindaklanjuti dengan kegiatan operasionalnya yang dirumuskan melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS),” ucap Dirut Perhutani Mustoha Iskandar dalam sambutannya.

Karenanya Dirut Perhutani menginstruksikan Kepala Divisi Regional Perhutani Jabar dan Banten Ellan Barlian agar merumuskan konsep kerjasamanya bersama tim ITB paling lambat satu bulan setelah MoU ini ditandatangani.

Lebih lanjut Mustoha menyebut ruanglingkup kerja sama ini meliputi :
(1) Pengembangan sumber daya manusia yang profesional dalam pengelolaan hutan lestari melalui penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan;
(2) Pengembangan dan peningkatan potensi sumber daya alam hutan melalui penyelenggaraan penelitian dan pengembangan ilmu, teknologi dan rakayasa hutan dan hasil hutan;
(3) Perencanaan dan pembangunan hutan yang produktif, kompetitif, efisien, sehat dan lestari melalui kegiatan konsultasi, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Menyinggung soal kerjasama Pengelolaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Gunung Geulis untuk Hutan Pendidikan ITB, Mustoha berharap agar KHDTK Gunung Geulis dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium eksperimentasi untuk pendidikan dan penelitian mahasiswa.

Lebih dari itu juga bisa menghasilkan model Pengelolaan Hutan Lindung dan Kawasan Lindung yang lestari dan memberikan daya dukung bagi kawasan di sekitarnya. Mustoha pun berharap KHDTK Gunung Geulis menghasilkan model unit manajemen yang memiliki Hutan lindung dan Kawasan Lindung yang menghasilkan produktivitas yang tinggi sesuai dengan fungsinya terutama dalam pengelolaan Hutan Lindung di Pulau Jawa.

“Saya juga berharap agar segera membentuk Tim Gabungan ITB dan Perhutani untuk bersama menyusun Rencana Pengelolaan KHDTK Gunung Geulis tersebut,” ucap Mustoha.

Rektor ITB Prof. Dr. Ir Kadarsah Suryadi menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setingginya kepada Dirut Perhutani beserta jajaran yang sudah bersedia menjalin kerjasama dengan ITB. Menurut Kadarsah, tanah hutan tetap jumlahnya, sementara pemanfaatannya terus bertambah. Ketika pemanfaatan terus bertambah tanpa ada rekayasa produktivitas, maka kita akan mengalami kepunahan.

“Beruntung ITB punya para pakar bidang kehutanan yang ahli di bidangnya dan memiliki komitmen yang tinggi. ITB memiliki program studi baru, yaitu Prodi Rekayasa Kehutanan yang memiliki SDM profesional, siap melakukan kerja sama untuk mengoptimalkan hutan yang harus dilindungi,” ungkap Kadarsah. Karenanya, imbuh rektor, ITB akan segera membentuk tim untuk bergabung dengan tim Perhutani guna menyusun Rencana Pengelolaan KHDTK Gunung Geulis.

Acara penandatanganan MoU ini dihadiri pula Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Alumni dan Komunikasi Dr Miming Miharja ST.MSc.Engg, para dosen SITH serta Kepala Divisi Regional Perum Perhutani Jabar dan Banten Ellan Barlian beserta jajarannya. Acara diakhiri denganacara pertukaran cinderamata antara Rektor ITB dan Dirut Perhutani.

Tingkat Serapan Kerja Perhutani Tetap Stabil

Pemberdayaan-Kaum-Perempuan-Hutan3BANDUNG – Di usianya yang menginjak 55 tahun, PT Perhutani tetap tangguh memberikan daya dukungnya terhadap kehidupan sosial. Terutama dalam hal serapan tenaga kerja dan dukungan terhadap pengayaan sektor pangan.

Direktur keuangan Perhutani Mohamad Soebagja menyebutkan, untuk serapan tenaga kerja, Perhutani juga mendapat tumpahan dari tenaga kerja yang terkena PHK. Soebagja menunjuk contoh untuk tenaga sadapan getah pinus di Sukabumi itu per bulan bisa dapat penghasilan Rp4,5 juta.

“Selain itu juga di bidang pengayaan pangan di kawasan hutan itu termasuk dalam rangka mendukung program kedaulatan pangan dan banyak menyerap tenaga kerja. Tenaga kerja yang terserap mayoritas petani hutan yang berasal dari masyarakat desa hutan,” kata Soebagja di sela Peringatan HUT Perhutani ke-55 di Kantor Perhutani Unit III Jabar Banten, Jl Soekarno Hatta 628 Bandung, Selasa (29/3/16).

Sementara untuk tanaman pangan tahun ini pihaknya menargetkan penanaman seluas 167 ribu dan sebagian besar ditanami jagung. “Tahun ini target panen jagung 1,2 juta ton. Hasil panennya akan diserap oleh Bulog,” ujarnya..

Kepala Perhutani Divisi Regional Jabar-Banten Ellan Barlian menambahkan untuk wilayah Jabar Banten sendiri banyak masyarakat desa hutan yang melakukan kegiatan tumpang sari sekaligus jadi tenaga pemasangan pal batas, persemaian sampai produksi kayu.

“Kita prioritaskan masyarakat desa hutan dalam hal ini kelompok tani hutan yang mendapatkan pekerjaan. Apalagi untuk kegiatan sadapan getah pinus dan kayu putih itu kegiatannya hampir sepanjang musim dan mereka kita lindungi dengan asuransi,” kata Ellan

Untuk kegiatan pengayaan pangan di Jawa Barat dan Banten menurut Ellan tahun ini targetnya 67 ribu hektar dengan 80% lahan ditanami jagung. [iwa]

Ketika TI Terobos Belantara (3) Green IT

Perum Perhutani memenangkan TOP Green IT 2015 Kategori Special Recognition dalam ajang TOP IT & TOP TELCO 2015 yang digelar Majalah Itech bekerjasama dengan Indonesian Consultant Company of Telematics Asscociation (ASPEKTI). Penghargaan diterima langsung Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar pada acara Indonesia Infrastructure Week 2015 di Jakarta Convention Center, Jumat (6/11/15).
Perum Perhutani memenangkan TOP Green IT 2015 Kategori Special Recognition dalam ajang TOP IT & TOP TELCO 2015 yang digelar Majalah Itech bekerjasama dengan Indonesian Consultant Company of Telematics Asscociation (ASPEKTI). Penghargaan diterima langsung Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar pada acara Indonesia Infrastructure Week 2015 di Jakarta Convention Center, Jumat (6/11/15).

Perum Perhutani memenangkan TOP Green IT 2015 Kategori Special Recognition dalam ajang TOP IT & TOP TELCO 2015 yang digelar Majalah Itech bekerjasama dengan Indonesian Consultant Company of Telematics Asscociation (ASPEKTI). Penghargaan diterima langsung Direktur Utama Perum Perhutani, Mustoha Iskandar pada acara Indonesia Infrastructure Week 2015 di Jakarta Convention Center, Jumat (6/11/15).

TOP IT 2015 adalah penghargaan kepada perusahaan dan pimpinan manajemen yang telah melakukan implementasi dan pemanfaatan teknologi informasi (TI) untuk meningkatkan kinerja, daya saing dan layanan bisnis. Sedangkan TOP TELCO 2015 adalah penghargaan untuk produk dan layanan telekomunikasi (TELCO) terbaik oleh masyarakat atau pengguna.

Penghargaan TOP Green IT 2015 diberikan karena BUMN Perum Perhutani ini berhasil mengimplementasikan pemanfaatan IT, salah satunya penggunaan Electronic Office (e-Office). Electronic office adalah bentuk perkembangan teknologi dan informasi perkantoran berupa surat menyurat elektronik dan diakui secara legal meskipun tanpa dibubuhi tanda tangan. Surat-surat e-Office berlaku sah karena proses kerja telah melalui pejabat terkait untuk koreksi maupun keabsahannya.

Direktur Utama Perum Perhutani, Mustoha Iskandar, mengakui bahwa aplikasi E-Office di Perum Perhutani berdampak positif bagi perusahaan, terutama dari aspek finansial dan lingkungan. Dengan e-Office perusahaan bisa hemat Rp. 45 Miliar pertahun terdiri dari penghematan kertas Rp. 372,6 juta pertahun, tinta printer Rp. 4,140 milyar pertahun dan biaya personel Rp. 41,25 milyar pertahun.

Selain penghematan finansial tersebut, dampak positif pengurangan penggunaan kertas akan mengurangi jumlah pohon yang ditebang untuk bahan baku kertas sebanyak lebih kurang 690 pohon pertahun.

Apabila satu lembar kertas yang digunakan memiliki berat minimal 5 gram, maka perusahaan menggunakan rata-rata 34 ton kertas pertahun untuk kebutuhan surat menyurat. Sedangkan 1 ton kertas membutuhkan 20 pohon dalam prosesnya, atau minimal 690 pohon ditebang untuk mencukupi kebutuhan kertas.

Capaian Perum Perhutani ini semakin menjadi tantangan transformasi bisnis perusahaan ke depan dengan target implementasi pada semua unit kerja perusahaan. Perum Perhutani sebagai pengelola 2,4 juta Ha hutan di Jawa Madura dan sebagai induk holding perusahaan kehutanan Indonesia berkomitmen untuk terus meningkatkan layanan terbaik bagi para pemangku kepentingan dengan mengutamakan kelestarian hutan dan lingkungan.

Ketika TI Terobos Belantara (2) Pemasaran Online

hutan2Termasuk dalam hal pemasaran produk di mana ke depan Perhutani akan lebih mengandalkan pemasaran secara online. Dalam sistem pemasaran online ini Perhutani bekerja sama dengan Telkom dalam sinergi pemanfaatan sumberdaya perusahaan.

Nota kesepahaman atau MoU (Memorandum of Understanding) antara dua perusahaan BUMN ini meliputi pemanfaatan jasa telekomunikasi, informasi, media, edutainment dan services (TIMES) yang dikelola, dikembangkan dan disediakan Telkom. Penandatanganan MoU dilakukan di Hotel Peninsula, Jakarta, (16/2/15).

“Kerja sama dengan Telkom juga akan meliputi pengembangan arsitektur sistem informasi lainnya, implementasi dan pembuatan program-program aplikasi operasional Perum Perhutani,” sebut Mustofa.

Pemanfaatan TI ini menurutnya agar pemasaran bisa dilakukan secara transparan, akurat dan efektif. Termasuk dalam pengembangan pemasaran produk Perum Perhutani secara online dan pengelolaan sumberdaya pendukung secara terintegrasi,” kata dia.

Mustoha berharap dengan kerja sama ini akan menimbulkan efisiensi dan pertumbuhan bisnis antar perusahaan. Telkom sendiri bisa memanfaatkan lahan Perhutani di pelosok untuk membangun infrastruktur dengan sistem pembagian penghasilan.

“Dengan program aplikasi yang telah dibuat hingga dapat dilakukan konsolidasi data secara online dan hal hal yang dipandang perlu dalam rangka sinergi BUMN,” katanya.

Sebelumnya, Perhutani dan Telkom juga telah bekerja sama dalam e-PHT 1 (2009) tentang pengembangan sistem manajemen (khususnya ERP modul keuangan). Kemudian kerja sama e-PHT 2 (2012) tentang pengembangan sistem manajemen (khususnya ERP pemasaran). Selanjutnya kontrak berlangganan sambungan VPN IP (2014) yaitu dalam rangka percepatan pelayanan pelanggan Perhutani untuk pembelian kayu secara online.

Dagang Kayu Online

Ingin memudahkan transaksi perdagangan sambil menjaga akuntabilitas, Perum Perhutani menyeriusi sistem transaksi perdagangan kayu secara online sejak pertengahan 2014 hingga kini.

“Bahkan ke depan, kita sangat mencegah transaksi jual beli kayu secara langsung, jangan langsung lewat kantor,” kata Mustoha Iskandar, (3/3/15).

Uji coba transaksi dalam jaringan pertama kalinya dilakukan Perhutani di wilayah Bogor Jawa Barat. Bekerja sama dengan PT Telkom, sistem tersebut tahun ini akan diperluas ke wilayah Indonesia yang lain. Tujuannya agar Perhutani dapat lebih detail memonitor jalur perdagangan kayu Indonesia dari satu tempat saja, selain mengurangi pembayaran tunai.

Ditegaskannya, penting bagi Perhutani untuk melakukan transaksi jual beli kayu secara transparan akuntabel. Sistem dalam jaringan pun akan menghilangkan kesan dan mencegah pembelian kayu untuk orang-orang tertentu saja.

Terkait menggandeng Telkom, sebab Perhutani menilai perusahaan tersebut telah memiliki jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia. “Sehingga tinggal connect ke Perhutani saja, ini sinergi antar BUMN, nanti ada semacam bagi hasil misalnya atas tiket masuk wisata perhutani. Nanti juga ada e-ticket atau e-hotel,” tuturnya.

Ketika TI Terobos Belantara (1)

hutan1BUMN Kehutanan Indonesia, PT Perum Perhutani, pada 2014 lalu ditetapkan pemerintah sebagai induk holding BUMN Kehutanan Indonesia dengan lima anak perusahaan holding PT Inhutani I, PT Inhutani II, PT Inhutani III, PT Inhutani IV, PT Inhutani V melalui Peraturan Pemerintah No. 73/2014 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara RI ke Dalam Modal Perusahaan Umum (Perum) Kehutanan Negara.

Tanggungjawab perusahaan semakin besar, karena sebagai BUMN Perhutani dituntut untuk menjadi 1) instrumen ketahanan nasional di bidang pangan, energi, dan air; 2) pendorong pertumbuhan ekonomi nasional; 3) kepeloporan dan kebanggaan nasional.

“Untuk itu, Perhutani mulai menerapkan sistem teknologi informasi pada semua bidang kerja, termasuk perpindahan sistem pengelolaan keuangan dari tradisional ke modern dengan membatasi transaksi tunai, dan e-commerce,” ungkap Dirut Perhutani Mustoha Iskandar, (29/3/15). Salah satu contoh yang tampak yaitu dengan adanya situs tokoperhutani.com. Di situ kita bisa berbelanja berbagai macam produk Perhutani.

Beberapa sistem manajemen dan produk baru di launching antara lain, Sistem Informasi Karyawan Terintegrasi (IKAT PHT), Sistem Informasi Manajemen Aset Perhutani (SIM-A), Sistem Informasi Getah Pinus, Sistem Marketing Kayu e-Commerce.

“Pemanfaatan teknologi informasi merupakan keniscayaan bagi kami bahwa ke depan TI lah yang bermain. Karena itu Perhutani menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan TI seperti PT Telkom untuk membangun sebuah sistem TI yang terintegrasi,” terang Mustoha.

Lebih lanjut ia menguraikan pemanfaatan TI tersebut antara lain diaplikasikan dengan membangun sebuah operation room sebagai dashboard. Segala aktivitas Perhutani dapat dimonitor di suatu ruangan dengan dilengkapi CCTV.

Mustoha menginginkan agar bisnis Perhutani dikelola secara modern dengan dukungan TI mutakhir. Untuk itu, Perhutani juga telah menyiapkan anggaran sebesar Rp50 miliar. “Pemasaran produk harus secara online, kami sudah menunggu lama sekali. Saya berharap tiga bulan ini bisa diselesaikan. Semuanya harus pakai elektronik, e-ticketing, e-tourism,” ujarnya.

Ia membeberkan sebelumnya Perhutani juga telah merogoh anggaran sebesar Rp10 miliar guna memasarkan produk kayunya via online. “Kemarin kami untuk sistem pemasaran kayu saja Rp 10 miliar. Sekarang banyak produk lain kembangkan. Ini tentu saja dalam rangka tidak lagi kontak antara orang Perhutani dan buyer, pesan secara online menghindari fraud tidak efisien. Dengan online kemudahan dan kecepatan dan lebih efisien,” terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Perum Perhutani resmi jalin kerja sama dengan PT Telkom dalam rangka pemanfaatan sumberdaya perusahaan. Hal itu ditandai dengan Nota kesepahaman atau MoU (Memorandum of Understanding) antara dua perusahaan BUMN ini.

Sebagai informasi, MoU tersebut meliputi pemanfaatan jasa telekomunikasi, informasi, media, edutainment dan services (TIMES) yang dikelola, dikembangkan dan disediakan Telkom. “Ini dilakukan secara transparan, akurat dan efektif. Kita juga bekerja sama dalam mengembangkan pemasaran produk Perum Perhutani secara online dan pengelolaan sumber daya pendukung secara terintegrasi,” ucap dia.

Begitu juga dalam hal pemasaran produk di mana ke depan Perhutani akan lebih mengandalkan pemasaran secara online. Dalam sistem pemasaran online ini Perhutani bekerja sama dengan Telkom dalam sinergi pemanfaatan sumberdaya perusahaan.

Kultur Petani Kopi Harus Lebih Maju

Sekretaris Gabungan Petani Kopi Hutan Indonesia (Gapekhi) Jawa Barat, Garlika Martanegara (kiri) tampak berdiskusi dengan Direktur Komersial Non Kayu Perum Perhutani Agus Setyaprastawa (kanan), usai saresehan “Berbagi Peran Perhutani dan Stake Holder untuk Sukses Kopi Hutan sebagai Produk Unggulan Agribisnis”, di Perum Perhutani Divre Jabar-Banten, Jln. Soekarno-Hatta, Bandung, Jumat (19/2).
Sekretaris Gapekhi Jabar, Garlika Martanegara (kiri) tampak berdiskusi dengan Direktur Komersial Non Kayu Perum Perhutani Agus Setyaprastawa (kanan), usai saresehan “Berbagi Peran Perhutani dan Stake Holder untuk Sukses Kopi Hutan sebagai Produk Unggulan Agribisnis”, di Perum Perhutani Divre Jabar-Banten, Jln. Soekarno-Hatta, Bandung, Jumat (19/2).

BANDUNG – Direktur Komersial Non Kayu Perum Perhutani Agus Setyaprastawa menambahkan, selain kelima upaya yang disebutkan Dirut Perhutani, faktor lainnya yang sangat berpengaruh yaitu meningkatkan sumber daya manusia dalam pengelolaan kopi.

Usai saresehan “Berbagi Peran Perhutani dan Stake Holder untuk Sukses Kopi Hutan sebagai Produk Unggulan Agribisnis”, di Perum Perhutani Divisi Regional Jabar-Banten, Jln. Soekarno-Hatta, Bandung, Jumat (19/2/16), Agus menandaskan dalam pengembangan agribisnis produk kopi ini Perhutani jelas harus bekerjasama dengan berbagai stakeolder terkait dan pihak yang berkompeten.

“Tentu saja kita juga harus bekerjasama dengan masyarakat, misalnya dengan harus kerjasama dengan masyarakat seperti melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), karena keterampilan pengelolaan tanaman kopi juga perlu ditingkatkan,” kata Agus kepada Balebandung.com.

Meskipun menurutnya bukan hal yang gampang pula untuk merubah kultur masyarakat yang tidak terbiasa menanam kopi, lantas harus bertanam kopi. Kendati begitu Agus menyebut peranan Perhutani sudah ditunjukkan dengan penyediaan kawasan kopi terutama kopi Arabika, membentuk kelompok tani serta memberikan pendampingan terhadap mereka.

Walau omset kopi Perhutani masih terbilang kecil, namun Agus optimis kelak Perhutani bisa meningkatkan omset agribinis dari produk kopi bahkan bisa berkontribusi terhadap ekspor kopi. “Jadi perlu penataan lagi bisnisnya, mulai dari hulu hingga ke hilir. Inilah yang sedang kita rintis,” tandasnya.

Senada dengannya, Sekretaris Gabungan Petani Kopi Hutan Indonesia (Gapekhi) Jawa Barat, Garlika Martanegara mengungkapkan yang dibutuhkan petani kopi saat ini bukan sekadar bisa bertani.

“Kami dari Gapekhi akan berupaya meningkatkan SDM petani kopi melalui program-program kegiatan Gapekhi ke depan,” kata Lieke, sapaan Garlika.

Menurut Lieke, kultur petani yang lebih maju perlu dibangun. Seperti petani kopi yang melek teknologi informasi (IT), berjiwa wiraswasta, menguasai cashflow produk kopi, tanpa mengesampingan kearifan lokal.

Petani kopi juga harus bisa memahami kualitas dari kopi itu sendiri sampai akhirnya produk kopinya bisa mendapatkan sertifikat dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka), sertifikat Produksi Pangan industri Rumah Tangga (PIRT), dan sertifikat halal. Lebih dari itu petani kopi juga harus memahami market dan menjaga kuantiti (qc) produknya.

“Kita juga terus berupaya untuk mengkampanyekan budaya minum kopi sehat dengan mencintai kopi produk lokal,” pungkas Lieke. [iwa]

Nih, 5 Upaya Perhutani Genjot Produksi Kopi

Dirut Perhutani Mustoha Iskandar

Dirut Perhutani Mustoha Iskandar

BANDUNG – Beberapa upaya dilakukan Perum Perhutani untuk meningkatkan produksi kopi hutan. Seperti yang dipaparkan Dirut Perum Perhutani, Ir. Mustoha Iskandar saat saresehan “Berbagi Peran Perhutani dan Stake Holder untuk Sukses Kopi Hutan sebagai Produk Unggulan Agribisnis”, di Perum Perhutani Divisi Regional Jabar-Banten, Jln. Soekarno-Hatta, Bandung, Jumat (19/2/16).

Mustoha mengatakan langkah awal yakni dengan meningkatkan produktivitas tanaman kopinya. Namun sebelumnya harus dilakukan penelitian terlebih dahulu terkait kecocokan lahannya. “Kalau lahannya cocok ditanami kopi, maka produktivitasnya tentu naik,” sebut Mustoha.

Kemudian, imbuh dia, terkait pendanaan harus ada akses ke bank. Dalam hal ini Perhutani akan berusaha memfasilitasnya dengan membuka kredit usaha rakyat. “Ini agar pengijon itu nggak masuk. Kalau pengijonan masuk kan kasihan harga kopi petani nanti dimainkan,” ujarnya.

Lebih dari itu, untuk menghindari para spekulan kopi yang merugikan petani kopi Indonesia, terutama di Jawa Barat, Perhutani juga akan dengan mengeluarkan kebijakan mekanisme penjualan dan pembelian kopi melalui satu pintu.

Dengan begitu, semua kopi yang dihasilkan para petani kopi dari lingkungan masyarakat desa hutan (MDH) hanya dapat dijual melalui Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Perum Perhutani di tingkat Kabupaten.

“Nantinya KPH akan bertindak sebagai off taker. Semua hasil panen kopi akan dibeli oleh Perhutani. Dengan demikian tidak akan ada lagi para spekulan yang bermain harga. Masyarakat petani juga akan terproteksi,” kata Mustoha.

Menurutnya, Perhutani memiliki 46.000 hektare lahan yang dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan sudah menghasilkan kopi. Tapi hingga kini hasilnya masil belum maksimal karena mekanisme penjualannya yang tidak terfokus.

“Dengan pembelian yang menggunakan mekanisme satu pintu, kita akan terus up-date fluktuasi harga kopi. Kami juga akan terbuka kepada para petani. Jika harga kopi bagus, maka ada cash back bagi masyarakat dan ada masukan buat Perhutani,” ujar Mustoha.

Untuk produk hilir turunan dari kopi, Mustoha juga berencana membuat sebuah perusahaan tersendiri yang sahamnya berasal dari para pengusaha kopi. Dengan demikian, ekonomi masyarakat petani kopi bakal makin meningkat.

“Ke depan tidak hanya menjual kopi, tapi menjual produk lain berbahan kopi. Dengan demikian peluang usaha masyarakat semakin terbuka,” ungkapnya. Dengan begitu, imbuh Mustoha, pihaknya optimis kopi bisa jadi salah satu produk unggulan agribisnis. [iwa]

Dirut Perhutani Ancam Pidanakan Oknum Terlibat Jual Beli Garapan Lahan

Dirut Perhutani Mustoha Iskandar
Dirut Perhutani Mustoha Iskandar

BANDUNG – Direktur Utama PT Perum Perhutani Mustoha Bisri mengancam akan mempidanakan oknum terbukti terlibat dalam praktik jual-beli maupun sewa menyewa garapan lahan di hutan milik Perhutani dalam program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM).

“Siapa saja oknum yang kedapatan terlibat jual beli lahan garapan, akan saya pidanakan. Termasuk kalau ada oknum Perhutani yang terlibat. Ini terutama saya ingatkan kepada para pendamping masyarakat hutan atau para petani hutan yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH),” tandas Mustoha kepada Balebandung.com saat ditemui di Kantor Perum Perhutani Unit II Divre Jabar-Banten, Jl. Soekarno Hatta, Bandung, Jumat (19/2/16).

Dirut mengaku kasus itu belum terjadi, namun indikasinya sudah ada mengarah ke hal itu. “Laporannya sudah ada, tapi kita belum ada bukti-bukti. Kalau ada bukti-bukti, pasti kita pidanakan, termasuk oknum yang membelinya juga,” tandas Mustoha.

PIhaknya kini tengah menertibkan dan melakukan investigasi jika saja ada kasus sewa menyewa dan pelimpahan atau pemindahtanganan garapan lahan tersebut sebab dilarang dan melanggar UU No 41/1999 tentang Kehutanan.