Tekan Emisi Karbon Perlu Partisipasi Masyarakat

Sabtu, 12 September 2015 | 19:14:57 | Penulis : bb1 | 323 Kali dilihat

lapisan-ozon-dan-pemanasan-globalBANDUNG – Indonesia merupakan negara terbesar ketiga yang menyumbang emisi karbon untuk dunia setelah Amerika dan China. Total emisi karbon yang diproduksi Indonesia sebesar 3,014 miliar ton.

Hingga kini Indonesia baru berhasil menekan 13% emisi karbon dari target pengurangan hingga 26% di tahun 2020. Salah satu kendala untuk pengurangan emisi karbon di sektor energi tersebut juga perlu adanya partisipasi masyarakat.

Seperti diketahui sektor energi merupakan penyumbang terbesar emisi gas rumahkaca di atmosfir bumi. Namun belakangan ini kerap masyarakat bereaksi terhadap upaya pengembangan energi lanternatif baru yang terbarukan yang tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca. Padahal pengembangan sumber energi baru tersebut diperlukan karena ramah lingkungan dan demi ketahanan energi dan kesejahteraan masyarakat sendiri seperti suplai listrik.

Penasihat Teknis Sekretariat Perubahan Iklim dan Ketahanan Energi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Budhi Setiawan menandaskan perlu partisipasi masyarakat dalam upaya pengurangan emisi karbon di sektor energi.

“Masih diperlukan sosialiasi agar masyarakat ini sadar dan paham akan pentingnya energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan,” kata Budhi kepada Balebandung.com usai seminar Kontribusi Indoneia dalam Pengurangan Emisi Karbon di Sektor Energi di Wisma Sejahtera, Jln Dago Bandung, Jumat (11/9/15).

Budhi menyatakan merupakan tugas dari pemerintah melalui instansi terkait untuk lebih gencara mensosialisasikan energi terbarukan seperti halnya energi panas bumi (geothermal), mikrohidro, maupun biomassa.  Pemanfaatan geothermal dipandang sebagai salah satu langkah paling menjanjikan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca secara global dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar asal fosil.

“Contoh kecilnya masyarakat bisa membantu dengan penanaman pohon kalau memang mereka menganggap eksploitasi panas bumi itu selalu di hutan dan pegunungan,” kata Budhi.

Selain geothermal, Budhi menyebut sumber energi lain untuk ketahanan energi bisa dikembangkan energi biodiesel, biogas, bioetanol atau biomassa, hidrogen, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSA), pembangkit listrik tenaga micro hidro (PLTMA).