Tragedi Cukanghaur, Matinya Jalur Si Gombar di Bandung Selatan Rupa Carita di BaleBandung

Thursday, 18 February 2016 | 15:10:29 | Penulis : Mang Bale | 7396 Kali dilihat

Jembatan rel KA di Ciwidey
Jembatan rel KA di Ciwidey

CIWIDEY – Sejak akhir tahun 1975, Stasiun Ciwidey dan stasiun lainya di jalur kereta api Bandung-Ciwidey ditutup operasionalnya akibat dipicu peristiwa luar biasa hebat (PLH) yang menimpa “Si Gombar”, lokomotif uap yang biasa berdinas pada jalur ini. Lokomotif diesel belum pernah menginjakkan rodanya di jalur ini, kecuali antara Bandung – Soreang.

Saat perjalanan pulang dari Ciwidey menuju Bandung, lokomotif nahas tersebut tertabrak oleh sebuah truk hingga terjungkal keluar dari relnya, tepatnya di Kampung Tjukanghaoer (Cukanghaur), Desa Cisondari, Kecamatan Ciwidey (sekarang Kec Pasirjambu), pada tahun 1972.

Muatan Si Gombar berupa kayu dan hasil pertanian seperti sayur dan teh, berhamburan dari gerbong muatan barang. Kepala Stasiun KA Ciwidey yang turut serta dalam perjalanan ini tewas di tempat. Konon, setelah terjadinya kecelakaan ini, jalur Ciwidey-Soreang dimatikan dan beberapa tahun kemudian jalur Soreang-Bandung turut dimatikan hingga jalur ke Bandung selatan resmi ditutup pada 1982.

Peristiwa ini membuka mata para petinggi KA pada jaman itu bahwa pemeliharaan di jalur-jalur cabang sangat minim, karena dana pemiliharaannya juga minim, di tengah makin menuanya rel dan bantalan. Apalagi jalur antara Soreang – Tjiwidej gradien tanjakannya cukup tinggi.

Sedangkan kondisi jalurnya pada saat itu dinilai tidak cukup kuat untuk dilalui kereta barang yang mayoritas mengangkut gelondongan kayu dan hasil kebun dari St. Tjiwidej dan St. Pasirdjamboe (Tjisondari); sampai akhirnya diputuskan untuk menutup jalur KA yang memang cukup berbahaya ini.

“Pada saat kejadian itu, rangkaian dengan sebuah lokomotif uap, meluncur tak terkendali karena masalah pada sistem pengeremannya sejak lepas Pasirdjamboe. Tetapi masih berada di atas rel karena radius beloknya belum terlalu kecil. Tetapi sesaat, kurang lebih 400 meter sebelum memasuki halte Tjukanghaoer, ada belokan ke kanan yang cukup tajam dan di situlah perjalanan KA tersebut berakhir,” tutur Intrias Herlistiarto dari Forum Diskusi Kereta Api Indonesia.

Sampai tahun 2007, bekas rel sebelah kiri yang tercerabut lepas akibat PLH ini masih teronggok di sela-sela gang rumah penduduk di sekitar lokasi (di sebelah sisi kiri rel jika dari arah Ciwidey).

Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (PT Granesia), jalur ini dibangun dua tahap, tahun 1918 Bandung-Kopo dan diteruskan ke Ciwidey pada tahun 1921 oleh “Staats Spoorwegen (SS) untuk keperluan alat angkutan hasil produksi perkebunan Wilayah Priangan, yang kala itu menjadi barang komoditi ekspor yang laku keras di pasaran dunia.

Tapi dengan mundurnya permintaan hasil perkebunan Priangan di pasaran dunia, maka sedikit demi sedikit jalur KA itu tak lagi digunakan. Apalagi setelah kendaraan bermotor truk yang lebih fleksibel mengangkut muatan “door to door”, mulai beroperasi di kawasan Bandung. Maka fungsi KA cuma jadi alat angkutan penumpang, yang nota bene, tidak begitu menguntungkan bagi perusahaan KA. Hingga akhirnya jalur ini di nonaktifkan pada tahun 1975. by mang bale

Berita Terkait