Bale Kab BandungHumanioraLingkungan

Warga Keluhkan Pencemaran Sungai Cisangkuy

Sungai Cisangkuy yang tercemar di Kp Cibintinu RT 2 RW 7 Desa Sukasari KecPameungpeuk Kab Bandung. by ist
Sungai Cisangkuy yang tercemar di Kp Cibintinu RT 2 RW 7 Desa Sukasari KecPameungpeuk Kab Bandung. by ist

PAMEUNGPEUK – Warga Kampung Cibintinu RT 2 RW 7 Desa Sukasari Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Bandung mengeluhkan kerusakan aliran Sungai Cisangkuy.

Kini kondisinya tercemar berbagai limbah berbahaya dari sejumlah industri yang membuang limbah cairnya ke aliran anak Sungai Citarum itu. Apalagi saat kemarau seperti sekarang, aliran air yang kecil membuat limbah cair yang digelontorkan langsung ke sungai itu tak mudah terbawa hanyut ke Sungai Citarum.

Salah seorang warga sekitar Jajat Fahrezi (35) mengatakan, limbah berbahaya dari sejumlah industri seperti tekstil, kertas, logam dan sebagainya sejak lama mencemari sungai tersebut. Setiap hari berbagai pabrik ini menggelontorkan limbah cair berbahaya dan berwarna ke aliran Sungai Cisangkuy tanpa melalui proses penjernihan melalui Instalasi Pengelaan Air Limbah (IPAL). Air hitam pekat atau terkadang berwarna warni telah mematikan berbagai ekosistem di sungai tersebut.

“Bau busuk selalu mengganggu kami warga di sepanjang aliran sungai ini. Apalagi saat kemarau air sungai yang kering membuat limbah cair yang dibuang lama mengendap. Jangankan airnya dipakai untuk keperluan sehari-hari oleh manusia, ikan dan ekosistem lainnya di sungai itu bisa dikatakan sudah punah,”kata Jajat Selasa (19/9/17).

Selain menyebarkan bau tak sedap dan mematikan berbagai ekosistem, kata Jajat, sumur air milik warga pun turut tercemar. Air sumur mengeluarkan bau tak sedap dan jika terkena kulit mengakibatkan gatal-gatal. Sehingga, untuk keperluan makan minum sejak lama warga harus membeli air galon isi ulang atau air bersih jerigen yang dijual pedagang keliling.

“Kalau untuk mandi mencuci dan lainnya kami menggunakan air satu MCK yang biasa dipakai oleh penduduk satu RT. Yah, walaupun kami harus antre lama, mau bagaimana lagi MCK itu satu satunya tempat air bersih untuk berbagai keperluan,”ujarnya.

Kerusakan aliran Sungai Cisangkuy ini, lanjut Dadang, terjadi sejak puluhan lalu. Namun sayangnya seolah tak pernah ada upaya penertiban dari pemerintah. Justru semakin parah dan memprihatinkan, padahal air dari sungai itu juga digunakan juga untuk mengairi ribuan hektar sawah di beberapa kecamatan yang dilintasinya.

“Memang kalau untuk pertanian masih bisa digunakan. Tapi enggak tahu itu secara kesehatan ada dampak negatifnya atau tidak,”katanya.

Selain di aliran Sungai Cisangkuy, kondisi yang sama juga terjadi sejak puluhan tahun di aliran Sungai Ciwidey. Air di sungai itu tercemar sejak dari Kecamatan Soreang, Kutawaringin dan berakhir di Sungai Citarum di Kecamatan Katapang. Limbah cair di aliran Sungai Ciwidey ini berasal dari puluhan home industri pencucian dan pewarnaan (washing) celana jeans serta sejumlah industri tekstil besar di sepanjang sungai itu.

“Sungai kami rusak sejak puluhan tahun lalu. Sungai yang menjadi sumber kehidupan kami berubah menjadi sumber malapetaka,”kata Dadang (46), warga Kampung Ciseah Desa Pameuntasan Kecamatan Kutawaringin.

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close