Rabu, Oktober 20, 2021
BerandaBale JabarBBKSDA Jabar Tegur Keras Kebon Binatang Bandung

BBKSDA Jabar Tegur Keras Kebon Binatang Bandung

Kepala BBKSDA Jabar Dr Sylvana Ratina
Kepala BBKSDA Jabar Dr Sylvana Ratina

BANDUNG – Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Dr Sylvana Ratina menegaskan pihaknya memberikan teguran keras kepada Yayasan Margasatwa Taman Sari Bandung akibat matinya Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus), satwa penghuni Kebon Binatang Bandung bernama Yani.

“Tentu kami beri teguran keras meski baru secara lisan, menyusul kami akan beri peringatan secara tertulis. Sekarang kami sedang fokus pada otopsi satwanya dulu untuk mengetahui penyebab kematian sebenarnya,” tandas Sylvana kepada Balebandung.com, Rabu (11/5/16).

Menurutnya BBKSDA Jabar membentuk tim khusus bersama Dinas Peternakan Jawa Barat, Dinas Peternakan Kota Bandung, Rumah Sakit Hewan Jawa Barat, Persatuan Dokter Hewan Indonesia, dan Taman Safari Indonesia, untuk meneliti lebih lanjut kematian gajah betina berumur 34 tahun itu.

“Sekarang sisa tiga gajah lagi di Kebun Binatang Bandung yang akan kita pastikan menjalani perawatan dengan baik sebagai antisipasi jangan sampai kematian satwa di Kebun Binatang itu terulang lagi. Sebab bagaimana pun satwa yang ada di Kebun Binatang itu dilindungi dan merupakan aset negara,” tandas Sylvana.

BBKSDA juga memperingatkan pengelola Kebun Binatang itu jika memang tidak mampu mengurus satwa yang ada di dalamnya agar menyerahkan saja pengelolaannya ke negara atau dititipkan ke lembaga lainnya seperti Taman Safari Indonesia.

“Kita kasih peringatan ini, dan apabila sudah dikasih peringatan lagi belum juga ada perubahan yang signifikan terhadap pengelolaannya, ya terpaksa negara ambil alih dengan pencabutan izinnya. Jadi, kita kasih peringatan dulu, karena kasus kematian satwa di Kebun Binatang Bandung ini baru pertama kali terjadi,” tandasnya.

Berdasar pengakuan pihak pengelola Kebun Binatang, kata Sylvana, gajah yang mati itu sakit sejak 3 Mei lalu dan tidak mendapat perawatan khusus karena dokter hewannya sudah resign. Namun Sylvana menyayangkan kenapa pihak pengelola tidak melaporkan sakitnya satwa itu dan tidak ada dokter hewan khusus yang menanganinya.

“Tapi yang terjadi kan satwanya sudah sakit parah baru kita ketahui. Memang tim dokter hewan sempat menangani dan kondisinya sempat membaik, setelah dirawat lukanya dan diberi infus. tapi menjelang magrib kondisinya makin nge-drop sampai akhirnya mati pukul 18.36,” tutur Sylvana.

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

TERKINI