Bale Bandung

Dipati Ukur , Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [10] : Kumeok Memeh Dipacok

×

Dipati Ukur , Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [10] : Kumeok Memeh Dipacok

Sebarkan artikel ini
meski mereka hanya tertawa, namun dari mata mereka Ukur tahu, bahkan kalau pun Bupati Sutaputa perlaya dibunuh , mereka tak keberatan
– Setelah jatuhnya Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang mencoba menolak penjajahan, dipimpin seorang bernama Dipati Ukur.-

Begitu mudah ksatria Sumedang Larang itu menyatakan takluk tanpa berjuang mempertahankan kehormatan karuhun, leluhur mereka terlebih dulu

Balebandung.com – Ukur tak punya banyak pilihan kecuali berlutut satu kaki, sementara posisi kaki yang lain lebih tinggi. Kepalanya ia tundukkan dengan khidmat, sementara kedua tangannya terbuka rata, bertemu satu jemari kiri dengan jemari lain yang serupa di tangan kanan, bersikap menyembah.

“Sendika, Senapati Ronggonoto!” ujarnya. Suara Ukur terdengar lantang di tengah keheningan malam.

“Yo wis,” kata Ronggonoto. Pendek saja, sebelum berbalik arah dan melangkah pergi diiringi para prajuritnya. Kereta jenazah pun bergerak, membawa tiga layon yang tak pernah bisa lagi dikenali Ukur.

Sikap Ukur yang sedikit semaunya, awalnya mengusik hatinya untuk mengintai dari jauh pergerakan pasukan Brajanata itu. Ia tetap punya kecurigaan kepada kedatangan pasukan tersebut. Siapa yang memberi tahu pasukan penjaga keraton tersebut bahwa ada begalan pati di tempatnya? Mengapa pula harus Senapati Ronggonoto lebih dulu yang datang turun tangan, bukan sekian banyak prajuritnya yang lain, seolah senapati itu sudah tahu bahwa urusan itu tidak akan mengancam nyawanya?

Bolehlah dia seorang prajurit tangguh yang memiliki kepandaian olah jurit tinggi. Tetapi Brajanata tentu punya standar pergerakan tersendiri yang harus mereka patuhi, yang akan menjamin keselamatan pimpinannya. Yang lebih membuat Ukur curiga, untuk apa Ronggonoto langsung membunuh pimpinan para durjana itu, tanpa bertanya apa pun lebih dulu kepadanya?

“Seperti memang sengaja ia hendak menghapus jejak. Seolah tak ingin penjahat itu bicara atau paling tidak menunjukkan kenal kepadanya,” kata Ukur membatin. Lamunannya lebih jauh bertanya-tanya, persoalan apa yang membuat Ronggonoto seperti tak menyukai kehadiran dirinya di khusus lingkaran prajurit Mataram?

Namun pikiran sehat Ukur memilih untuk tidak melakukan semua itu. Ia yakin, ada waktu yang lebih tepat untuk menyelidiki semua itu secara tumaninah tanpa harus tergesa. Ia sendiri yakin, bila ada sesuatu yang lain di balik kedatangan para Brajanata itu, tak hanya karena harus menyampaikan perintah Sinuhun Mataram agar dirinya besok menghadap, Ronggonoto dan pasukannya pasti bersiap dan waspada. Bukan tak mungkin malah, mereka justru menantikan kedatangannya dan mencari gara-gara kalau ia ketahuan mengintai.

Ukur ingat apa yang tadi dikatakan Ronggonoto. Kabar bahwa saat ini di Keraton telah tiba seorang raja kulon, Raja Sumedang Larang Pangeran Raden Aria Suradiwangsa. Kedatangannya kemari tak lain untuk menyatakan serah bongkokan alias menyatakan takluk kepada kekuasaan Mataram.

Ukur menarik dan menghembuskan nafas kecewa. Begitu mudah ksatria Sumedang Larang itu menyatakan takluk tanpa berjuang mempertahankan kehormatan para karuhun, leluhur mereka terlebih dulu. Bagaimanapun Sumedang adalah kerajaan besar. Sumedang bukan tak pula hubungan darah dengan trah Cirebon.

Ratu Pucuk Umun, pewaris tahta Sumedang, menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, cucu Syekh Maulana Abdurahman atau Sunan Panjunan, dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Hadramaut yang menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru Kerajaan Sunda. Ibu Pangeran Kusumahdinata adalah Ratu Martasari atau Nyi Mas Ranggawulun, keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon.

Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran Santri, karena asalnya dari pesantren dan berperilaku sangat alim. Sejak saat itulah Sumedang Hindu berubah menjadi Sumedang Islam. Jadi tak ada bahaya bagi Sumedang, baik dari Banten atau pun Cirebon yang dua-duanya merupakan kerajaan Islam.

Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal sebagai Prabu Angkawijaya. Geusan Ulun inilah yang membangun kebesaran Sumedang Larang. Wilayah kekuasaannya saat itu meliputi Kuningan, Bandung, Sindangkasih, Garut, Tasik, Sukabumi, kecuali Galuh Ciamis.

Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pakuan Pajajaran hancur diserang Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf. Pada saat-saat kekalahan itu Prabu Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton mengutus empat prajurit pilihan tangan kanannya, yang disebut Kandaga Lante. Keempatnya adalah Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

Mereka ditugaskan menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran yakni Sang Binokasih Sanghyang Pake. Mahkota emas itu dibuat oleh Sanghyang Bunisora Suradipati, raja Kerajaan Galuh (1357-1371) untuk penobatan Prabu Niskala Wastukancana.

Mahkota itu menjadi simbol kekuasaan di Tanah Sunda, yang menjadi kemudian diwariskan kepada Kerajaan Pakuan Pajajaran sampai kerajaan itu hancur. Selain mahkota emas, barang pusaka yang dibawa Kandaga Lante ke Sumedang Larang adalah kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan dan kilat bahu.

“Kalau Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi mewariskan Binokasih Sanghyang Pake sebelum ngahiang atau moksa, artinya Sri Baduga menghendaki Sumedang Larang menjadi kokojo atau pemimpin bangsa Sunda,” kata Ukur dalam benaknya. “Lalu mengapa anak kandung langsung Prabu Geusan Ulun ini begitu kumeok memeh dipacok, miyuni hayam kabiri, bersifat pengecut dan langsung menyatakan takluk kepada urang wetan?”

Ukur berpikir, kalau saja para Kandaga Lante masih sehat dan bisa melakukan perjalanan jauh, bukan mustahil mereka ikut Pangeran Raden Aria Suradiwangsa ke sini. Namun kemudian Ukur merasa tidak pada tempatnya ia menyalahkan Aria Suradiwangsa.

Ia tak tahu persoalan yang menggayuti Sumedang, dan bukan tak mungkin dalam keputusan itu pun para Kandaga Lante sudah dilibatkan, meski ia tak yakin. Ukur lebih percaya, para Kandaga Lante itu akan memilih pejah dada kehilangan nyawa di medan jurit, dibanding menyerah kalah begitu saja.

Tetapi kemudian Ukur pun sadar. Bukankah dirinya pun tak lebih baik dibanding Aria Suradiwangsa? Sebagai pemuda Kerajaan Sunda yang jagjag wariskas, sehat jiwa raga, mengapa ia harus datang menyatakan bakti dan mengabdi sebagai prajurit Mataram?

Dia tak bisa dengan enteng menyatakan bahwa soal itu telah menjadi harapan kakeknya, berdasarkan ilapat alias wangsit yang diterimanya dari para karuhun. Persoalan dirinya bahkan lebih ringan karena tak melibatkan rakyat, sementara sikap Aria Suradiwangsa pasti melibatkan nasib sekian ribu jiwa rakyat Tanah Sumedang Larang. [bersambung/gardanasional.id]

Dipati Ukur, Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [9] : Senapati dari Kesatuan Brajanata

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan komitmennya memperkuat program Bisyarah Guru Ngaji sebagai bagian dari upaya membentuk generasi muda yang berkarakter dan berakhlakul karimah. Hal itu disampaikan KDS saat menghadiri Bimbingan Teknis (BIMTEK) Persatuan Guru Ngaji Indonesia (PGNI) Kabupaten Bandung, Senin (10/8/2026). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti sekitar 200 peserta […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Bandung meluncurkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) Pemerintah Kabupaten Bandung sebagai bagian dari upaya memperkuat digitalisasi transaksi belanja daerah sekaligus meningkatkan efektivitas, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. Peluncuran KKI dilakukan Bupati Bandung Dadang Supriatna di Grand Sunshine Soreang, Senin (10/8/2026). Peluncuran ini menjadi bagian […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung untuk menindak tegas tenaga kesehatan (nakes) yang diduga melakukan perundungan atau bullying terhadap pasien melalui media sosial. Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) menyatakan kecewa dan prihatin atas perilaku tersebut, terlebih terjadi sebelum pasien yang bersangkutan meninggal dunia. KDS pun meminta Badan Kepegawaian […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bandung Bedas Run 2026 makin menunjukkan potensinya sebagai penggerak sport tourism di Kabupaten Bandung. Hingga Sabtu (8/8/2026), sebanyak 3.242 peserta telah mendaftar dan sekitar 20 persen di antaranya berasal dari luar Jawa Barat. Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan tingginya peserta dari luar daerah menunjukkan Bandung Bedas Run yang bakal digelar 6 September […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Dandim 0624 Kabupaten Bandung Letkol Kav Samto Betah mengimbau masyarakat menghindari aktivitas di luar rumah pada malam hari jika tidak memiliki keperluan yang penting. Imbauan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya bersama menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat Kabupaten Bandung. “Kalau tidak ada kepentingan yang terlalu penting, kalau bisa dihindari untuk keluar malam. […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung M.A. Hailuki menilai Operasi Berkala Besar yang digelar aparat gabungan TNI-Polri bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) merupakan bentuk responsivitas dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, terutama di tengah maraknya aksi begal. “Operasi Berkala Besar yang dilaksanakan semalam adalah wujud responsivitas aparat keamanan bersama Forkopimda untuk […]