Bale Kab Bandung

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [11]: Raja Mataram yang Melipat Waktu

Sebuah Novel Menyambut Hari Jadi Kab Bandung ke-378

–Setelah jatuhnya Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang mencoba menolak penjajahan, dipimpin seorang bernama Dipati Ukur.–

Balebandung.com – Esok harinya, usai shalat subuh Ukur tak melakukan aktivitas rutinnya, yakni melancarkan gerakan, mengolah dan melentur tubuh dengan berlatih bela diri. Ia malah mencari daun lamtoro dan merang padi.

Dibakarnya merang padi hingga menjadi abu. Abu panas merah padi itu kemudian dimasukkannya ke dalam mangkok gerabah. Disiramnya abu dalam gerabah itu dengan air hingga hampir menyentuh mulut gerabah, lalu dibiarkannya abu itu mengendap.

Sambil menunggu abu mengendap dan menghasilkan air yang jernih, Ukur mencari-cari dalam lemari kecilnya baju dan celana yang paling layak dipakai menghadap Sinuhun Mataram.

Ditemukannya celana pangsi hitam yang warnanya masih terang, lalu baju kampret putih tanpa leher yang hanya dipakainya sesekali untuk shalat Jumat. Masih tergolong baru meski belum dikanji rapi. Dari lemari itu pula diambilnya ikat kepala bermotif mega mendung Cirebonan yang warna nilanya masih terlihat tegas.

“Hm, aku tak mau mempermalukan Tanah Sunda dengan berpakaian seadanya. Meski tidak baru lagi, pakaian ini cukuplah,” pikirnya.

Memang Ukur telah beberapa kali bertemu muka dengan Sultan Agung. Namun dipanggil langsung oleh Sinuhun Mataram itu baru kali ini. Tentu saja ia ingin memiliki pengalaman bertemu penguasa kerajaan besar yang ditakuti Negeri Palembang hingga mereka datang serah bongkokan sebagaimana dilakukan Sumedang Larang hari ini.

Ia tahu Sultan tergolong penguasa yang cerdas. Kecerdasan untuk tetap memegang kekuasaan itu pula yang membuatnya terkesan licik dan–terutama, kejam. Para hulubalang dan abdi dalem tahu, Sultan tak pernah mau melihat kegagalan dalam tugas-tugas yang ia perintahkan.

Tetapi memang Sultan Agung pulalah yang membuat bentang wilayah kerajaan menjadi berkali-kali lebih luas. Ketegasannya membuat raja-raja kecil di sekeliling Mataram tak hendak mencari celaka dengan melakukan baha.

Mereka lebih memilih hidup dan menjamin kelangsungan kehidupan keluarga, meski tak lagi menyandang gelar raja. Ada pun soal keharusan menyerahkan upeti setiap tahun, anggaplah itu harga yang wajar untuk menjamin kepala mereka tetap tersangga di tempatnya.

Sultan juga yang untuk mengharumkan nama Mataram menggerakkan beberapa ekspedisi ke berbagai daerah. Ke barat hingga menembus pulau emas Sumatra. Ke timur hingga Madura dan Bali, meski beberapa kerajaan seperti Sampang dan Pamekasan belum lagi tunduk.

Di barat, Kerajaan Cirebon dan Banten masih kukuh tak mau takluk. Sementara Sumedang Larang yang disebut-sebut sebagai pewaris sah Kerajaan Pajajaran karena menyimpan Mahkuta Binokasih Sanghyang Pake, cuma mampu bertahan hingga hari ini.

Ukur menghabiskan waktu cukup lama di pancuran. Digosoknya badan, tangan dan kakinya dengan daun lamtoro bersih-bersih. Ia pun berangir mencuci rambutnya dengan air endapan abu merang. Rambutnya yang sempat lengket bergabung satu sama lain kini terurai bersih segar.

Usai mandi rambut itu disisirnya dengan sisir tanduk kerbau dan diikat kuat dengan ikat kepala bermotif mega mendung tadi. Kepalanya yang terasa enteng dirasakan Ukur membuat langkah-langkah kakinya pun sigap dan lebih trenggginas.

Ia sempat sarapan sedikit nasi yang digoreng dengan minyak kelapa. Ada sejumput bubuk rebon yang diletakkan emban dapur di sisi piring gerabahnya, selain sepotong besar daging kerbau. Si emban bilang itu adalah daging kerbau yang ia taklukan kemarin dulu. Sempat Ukur tak hendak memakan daging itu. Tapi ia sadar, memakan dagingnya mungkin justru merupakan penghargaan tersendiri buat kerbau yang jiwanya kini telah berada di alam baka itu.

Di Balairung Ukur duduk menekur dengan khidmad menunggu kedatangan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Sang Narendra Agung Mataram. Di sebelahnya duduk dengan posisi sama penguasa Sumedang Larang yang sebentar lagi hatur sembah bongkokan, Raden Aria Suradiwangsa.

Tadi keduanya sempat bertegur sapa dengan basa Sunda, membuat sebagian hulubalang menoleh ke arah mereka dengan pandangan tak suka. Ukur seolah tak tahu aturan, tak mengacuhkan mereka. Tapi obrolannya memang bukan pembicaraan yang dalam, hanya basa basi biasa.

Ia juga melihat roman muka Sang Pangeran Sumedang itu tak terlalu berang. Sepertinya ada beban besar yang menghimpit dadanya. Ukur mengerti, tentu susah juga anak muda seperti dia datang menyerah kalah dan melupakan harkat serta wibawa. Ia merasa pikirannya semalam tentang Aria Suradiwangsa salah.

Tiba-tiba berteriaklah Abdi Dalem Keparak Kiwa, menyatakan bahwa Sinuhun segera memasuki Balairung. Dua orang abdi dalem dari kesatuan tersebut segera mendekati Dhampar Palenggahan Dalem atau singgasana raja, memastikan tempat itu bersih, dan terutama aman. Mereka segera kembali ke tempat masing-masing setelah semua kelar.

Lalu masuklah Sang Narendra ke bangsal besar itu. Ia memakai pakaian kebesaran berwarna hitam dan berkain batik motif Garuda Ageng yang hanya boleh dipakai dirinya sebagai raja, putra mahkota dan permaisuri.

Celana serawal hitam yang serasi dengan baju dan kain itu, memperlihatkan mata kakinya. Selop kulit berhiaskan manik-manik yang gemerlap dengan warna emas dan perak menutup kedua kakinya. Meski di dalam Balairung, seorang abdi setia mengikutinya dengan membentang payung.

“Oooh, inikah Raja Mataram dalam pakaian kebesarannya itu?” kata Ukur membatin. Meski cenderung tunduk sebagaimana tata krama keraton, ia masih menyempatkan diri menolehkan matanya kanan-kiri, menyaksikan pemandangan yang baru dialaminya. Diam-diam Ukur merasa dirinya memang seorang udik. Urang kampung bau lisung.

Kini Ukur mengerti betapa rakyat Mataram sangat mengkultuskan orang yang tengah lewat di hadapannya menuju singgasana itu. Raja ini disebut-sebut sakti mandraguna, totosaning bojana kulit, ganti sukma kandange dewa. Ora tedhas tapak palu ning pandhe pula, alias kebal senjata.

Raja ini disebut-sebut setiap subuh selalu berolah raga loncat dari gunung ke gunung. Dari Gunung Lawu ia meloncat ke Gunung Merapi, lalu lompat ke Gunung Mahameru untuk melihat kondisi rakyatnya di sana. Baru setelah itu ia menuju keraton menemui keluarga atau patra tetamunya.

Ukur juga mendengar sang Sultan kadang-kadang meloncat ke negeri Cina untuk makan bebek panggang di siang hari. Sorenya ia terbang ke Turki karena ingin makan lokum alias kue-kue manis dari Turki. “Mungkin juga ia datang ke Koryo hanya untuk mencicip kimchi,” kembali Ukur membatin. Sempat ia sendiri tersenyum dengan pikirannya itu, tapi segera sadar sebelum tawanya ikut bunyi.

Ukur memang mendengar semacam dongeng yang akrab di antara warga Mataram bahwa Sultan sempat bertemu Sunan Kalijaga. Oh ya, bahkan dengan Imam Syafii juga. Pertemuan dengan Sunan Kalijaga kabarnya terjadi di Gunung Muria, sementara dengan Imam Syafii langsung di Mekkah manakala Sultan bersembahyang Jumat di sana.

Tentu saja Ukur nyaris tertawa mendengarnya. Kalau tidak karena pertimbangan sopan santun, ingin rasanya ia terbahak. Bagaimana tidak. Kalau menilik usia, tak mungkin Sultan yang masih hidup pada tahun ini, 1620, bisa bertemu Sang Sunan yang lahir pada sekitar 1450 tahun Masehi, alias berjarak 170 tahun itu. Apalah lagi ia bertemu dengan Imam Syafii yang hidup di tahun-tahun awal abad ke-8 Masehi!

[ bersambung/gardanasional.id]

Dipati Ukur , Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [10] : Kumeok Memeh Dipacok

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close