Bale Kab Bandung

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [13] : Gobang Senapati Sutrajali

Sebuah Novel Menyambut Hari Jadi Kab Bandung ke-378

Balebandung.com – Esoknya pagi-pagi sekali, usai menjalankan shalat Subuh Ukur telah berada di punggung kuda. Di sebelahnya Rangga Gempol duduk di kuda yang lain, terkantuk-kantuk mencoba tegak. Tadi, Ukur cukup lama menunggu menak itu bangun sendiri, tapi ternyata tak bisa diharap.

Dibangunkannya setengah paksa, sambil minta maaf dirinya tak bisa menunggu. Sontak menak kebluk[1] itu bangun. Ia hanya sempat mencuci muka, entah shalat subuh atau tidak, karena Ukur sendiri sengaja menunggu di punggung kuda.

Di belakang mereka ada 15 orang pengiring sang pangeran yang kini hanya menjabat wedana itu. Mereka tak perlu lagi ke keraton untuk pamitan. Semua sudah mereka lakukan kemarin, kuatir kalau pagi-pagi Sinuhun terganggu.

“Ayo berangkat,” kata Ukur. “Hus! Hus! Jalan, Sambrani!” Ditepuk-tepuknya surai kuda putih yang ditungganginya. Kuda itu segera berjalan, diikuti kuda-kuda lain. Meski secara pangkat Ukur berderajat lebih rendah dibanding Rangga Gempol, dalam perjalanan itu ia mendaulat diri menjadi pimpinan. Dan memang masuk akal, bahkan bisa jadi mesti kalau dilihat dari aturan keprajuritan.

Selain dirinya lebih tua daripada Rangga Gempol, Ukur juga memiliki pengalaman jurit lebih lama dan lebih tinggi dibanding Sang Wedana. Apalagi Ukur sendiri menganggap dalam perjalanan itu dirinya adalah hulubalang penjaga mantan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang. Tanpa harus berpikir lama, Ukur tahu para nenek moyang, karuhunnya di alam sana akan mempertanyakan dirinya bila ia tak bisa menjaga orang yang bisa dianggap raja terakhir Pajajaran itu.

Tiba di tapal batas wilayah keraton, tujuh pengiring memecut kuda mereka melewati Ukur dan Rangga Gempol, lalu berkuda lambat-lambat di depan mereka. Kini formasi penjagaan pun terbentuklah. Tujuh orang di depan mengantisipasi bilamana ada maung ngamuk gajah meta, siku siwulu-wulu alias pengganggu yang datang menghadang. Delapan lainnya di belakang, kalau-kalau ada serangan licik yang dilakukan dari sana.

Di sebuah pertigaan, atas inisiatif Ukur rombongan berbelok ke kanan, mengambil rute tercepat menuju Cirebon. Rute itu memang lebih sepi karena lebih jarang dijalani rombongan para pedagang. Sejak datangnya Kompeni dan maraknya perdagangan di pesisir utara, para pedagang lebih suka memakai jalan pesisir yang lebih ramai.

Jalan pedalaman ini memang sesekali dipakai, namun hanya oleh mereka yang memang memilih tak banyak bertemu manusia. Jalan ini lebih disukai para pertapa, pengelana pencari ilmu, barisan tentara yang ingin segera pulang bertemu keluarga, para juru dakwah Islam atau biksu pengelana. Atau kalau pun pedagang, paling para pedagang dari Sukapura yang terkenal nekat dan jago olah keprajuritan.

Tengah hari, mereka mencari dataran yang agak luas dan bersih. Di sanalah rombongan membuka perbekalan yang tadi pagi diberikan kepala dapur umum. Tak hanya isinya yang membangkitkan selera, lapar karena perjalanan pun membuat semua anggota rombongan makan dengan lahap, tak kecuali Rangga Gempol.

Usai makan dan shalat Dhuhur berjamaah, perjalanan pun berlanjut. Sekitar sepeminuman klembak[2] rombongan tiba di mulut sebuah hutan. Alas itu seolah menjadi benteng tersendiri bagi keraton Mataram saking angkernya. Namun tak ada pilihan lain, rimba itu memang harus ditembus bila ingin segera sampai Cirebon.

Hati-hati, rombongan yang hendak pulang ke tanah kulon itu mulai merambah alas. Sejatinya hutan selebat itu memang tak pernah hening. Suara-suara terdengar bersahutan. Kadang terdengar Oa berkoar, berlanjut jerit Surili di kejauhan. Belum lagi kang-kong suara Burung Rangkong, berlanjut geraman macan dahan.

Ada pula bunyi yang tak pernah henti berdenging, koar tonggeret, serangga kecil yang seolah mengikuti perjalanan mereka sejak keluar wilayah keraton Mataram. Jadi hanya ada dua kemungkinan manakala kita mendengar seseorang bilang betapa sunyinya hutan terlarang. Atau dia berbohong, atau dia memang hanya pembual yang sebenarnya belum pernah sekali pun merambah hutan.

Tiba-tiba insting Ukur tergetar. Entah mengapa ia merasa gerak-gerak rombongannya tengah dalam pengintaian. Ada bunyi terinjak, dan telinga Ukur yang terlatih jelas mengatakan itu bukanlah bunyi patahan ranting yang terlindas musang.

“Mangkade, yeuh! Sing iatna.” kata Ukur dalam bahasa Sunda. “Hati-hati, bersiagalah!” Tidak keras sehingga akan membangkitkan kecurigaan lawan yang mungkin tengah siaga, namun juga cukup terdengar semua anggota rombongan sehingga mereka kini waspada. Ukur senang, kelimabelas orang yang menjadi pengawal Rangga Gempol itu benar-benar prajurit pilihan. Kesiagaan mereka tampak begitu normal, sehingga tak mencurigakan siapa pun lawan mereka kalau pun itu ada.

Tapi naluri Ukur memang bukan buah ketakutan seorang yang baru pertama kali masuk hutan. Benar saja. Tanpa diawali suara apa pun, sebilah tombak berdesing membelah udara, deras tertuju pada dada Ukur sendiri.

Ukur sekilas melihat arah ujung tombak itu. Benaknya masih cukup waktu untuk mengerti bahwa kalau pun bukan dadanya yang tertembus mata tombak, mungkin saja salah seorang prajurit Sumedang yang justru akan tersatai tombak yang dilemparkan seorang berilmu tinggi itu bila ia mengelak.

Dengan pertimbangan tersebut, Ukur diam tenang di atas punggung kuda, seolah menunggu ajal seiring datangnya tombak. Kesabaran itu berbuah manis, karena saat mata tombak itu tinggal tiga jengkal lagi dari jantungnya, seseorang berteriak keras dari balik rimbunan pohon yang rapat di kanan jalan, seolah girang bukan kepalang.

“Modar Kowe, Ukur!”

Tak sanggup dilihat mata para prajurit pengawal, sebuah angin pukulan segera menghadang mata tombak tersebut. Saking kuatnya pukulan Ukur, arah tombak itu kini setengah terbalik, menuju rimbunan pepohonan di sisi kiri jalan yang dilalui rombongan.

“Bres!” terdengar bunyi tombak itu menembus sasaran lunak. Jerit kesakitan membahana dari arah itu. Ukur telah membunuh salah seorang penguntitnya. Lalu keluarlah seseorang dengan langkah satu dua. Dari sisi lubang di dadanya yang tertombak, menyembur darah dengan deras.

“Gubrak!” Orang itu mati tersungkur jatuh dengan wajah lebih dulu mencium bumi, membuat tombak itu kini menembus punggungnya.

“Siap semua!” teriak Ukur. Di tangan kanannya kini tergenggam sebilah gobang[3] besar, berkilat tertimpa cahaya matahari yang menerobos dedaunan hutan.

Benar saja, hanya kurang dari hitungan kelima, berlompatanlah dari kiri kanan jalan sekian banyak orang menghadang rombongan Ukur. Dua, empat, delapan, enam belas, dua puluh, empat puluh, seratus….Entah berapa kini mengepung rombongan bertujuh belas orang itu.

Sejauh mata memandang ke depan dan belakang, hanya ada para pengepung bercadar hitam dengan senjata lengkap di genggaman. Tak ada pernik apa pun yang membuat Ukur tahu siapa mereka. Hanya dari peralatan yang nyaris sama, Ukur tahu, ini bukanlah rombongan perampok. Para pengepung itu jauh lebih menyerupai sepasukan prajurit.

“Jangan turun dari kuda!” perintah Ukur keras. Yang paling ia kuatirkan adalah bilamana ada pengepungnya yang bersenjatakan jamparing dengan gondewa, alias para pemanah. Syukurlah, tak dilihatnya. Mungkin para pengepung itu berpikir di hutan lebih mungkin pertarungan akan terjadi dalam jarak pendek, sehingga panah dan busurnya hanya menjadi beban. Ada benarnya, tapi tetap saja salah. Toh para pemanah bisa bersembunyi dan mengambil kesempatan dari jauh manakala sasaran lengah.

Bersembunyi? Walah, mengapa tak terpikir ke sana? Mungkin saja para pemanah itu masih menyembunyikan diri, menunggu saat paling tepat.

“Awas, siapa tahu masih ada barisan pemanah di balik pepohonan,” teriak Ukur dalam bahasa Sunda.

“Hinggih!” Terdengar jawaban para prajurit.

Tak hendak menunggu diserang, tak ingin juga membuang-buang waktu percuma dengan basa-basi, Ukur segera menerjang para pengepung yang berada di dekatnya.

Terdengarlah sekian banyak jeritan melengking, diiringi tubuh-tubuh bertumbangan bermandi darah. Gobang Ukur telah menemukan tumbalnya. Gobang karuhun itu telah lebih dari 250 tahun puasa minum darah. Terakhir digunakan saat begalan nyawa di Tegal Bubat oleh Rakean Senapati Yudha Sutrajali, Senapati Agung Pajajaran yang tak lain adalah nenek buyut Ukur. [bersambung/gardanasional.id]

[1] Penidur, bahasa Sunda
[2] Rokok tembakau bercampur kemenyan, dibungkus daun jagung
[3] Golok besar khas Sunda, biasanya dipakai untuk berperang

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close