Bale Kab Bandung

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [16]: Penculikan Ratu Harisbaya

Sebuah Novel Menyambut Hari Jadi Kab Bandung ke-378

“Karena kita tahu, sejak serah bongkokan itu orang-orang Wetan akan menyebut wilayah kita sebagai Praiangan alias pemberian..”

Balebandung.com – Ukur tak hendak mengejar Senapati Mataram yang lari itu. Ia tahu, tak punya dirinya rasa tega untuk membinasakan senapati itu di sini, hari ini, apapun yang telah dan hendak lagi ia lakukan barusan. Biarlah urusan itu sepenuhnya urusan Allah yang Maha Penyayang, yang terbukti selalu menyayanginya dengan tetap terhindar dari segala upaya para durjana.

Ukur tahu, apapun urusannya dengan Senapati Ronggonoto dulu, yang tak juga terpikir apa itu, kini urusan itu telah menduplikasi diri puluhan atau bahkan ratusan kali. Senapati itu pasti menjadikan urusan antara dirinya dan Ukur sebagai dendam, yang bisa jadi akan diturunkan terus hingga tujuh atau lebih keturunan.

“Ah, biarlah. Mungkin urusan ini telah menjadi titis tulis kersaning Allah. Aku tinggal menjalani dengan cara terbaik menurut ajaran yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam.” Ukur membatin.

Dilihatnya Rangga Gempol tengah memulasara anak buahnya yang perlaya. Syukurlah, melihat serangan sekitar seratus orang tadi, kematian hanya seorang prajurit bisa dikatakan prestasi besar. Apalagi kini setelah laga jurit itu usai, jelas terlihat puluhan jasad musuh yang tak lagi bernyawa. Beberapa diantaranya masih tersengal-sengal menanti sakaratul maut.

Ukur, Rangga Gempol dibantu semua pengawalnya segera memulasara mayat-mayat itu. Tak mungkin mereka dimandikan, dikafani, dishalatkan satu persatu sebelum dikubur. Akhirnya mayat-mayat musuh itu diletakkan teratur dalam sebuah lubang panjang yang digali bersama.

Beberapa barang yang lumayan berharga dilepas dari badan mereka. Begitu pula golok, pedang dan tombak yang mereka bawa, bila dirasa berguna diambil oleh para pengawal Sumedang. Hanya pakaian yang melekat di jasad para penyerang itu yang tak diganggu sama sekali.

“Mungkin kita akan bertemu para petani dan orang-orang miskin di perjalanan. Barang-barang ini jauh lebih berharga diberikan kepada mereka dibanding dibawa mayat-mayat ini mati,” kata Ukur. Rangga Gempol mengiyakan.

Setelah dishalatkan secara massal, ditimbunlah jasad-jasad itu secara bersamaan. Ukur sebenarnya ingin memulasara dengan lebih baik,tapi banyaknya mayat tak memungkinkan hal itu.

Perlakuan berbeda hanya mereka lakukan pada mayat hulubalang Sumedang Larang itu. Ia dibuatkan lubang tersendiri, dimandikan, dikafani dengan kain putih yang disambung-sambung dengan milik teman-temannya. Jadilah kafan yang cukup untuk menutupi jasadnya. Setelah dishalatkan, jasad itu pun segera ditanam. Kuburan itu sengaja agak ditinggikan, sekadar memberitahu orang-orang yang mungkin lewat bahwa di sana adalah kuburan seseorang.

Lodaya sudah sejak lama tak kelihatan, kembali ke alamnya begitu persoalan Ukur terlesesaikan.

Ukur turun ke sungai yang untungnya hanya beberapa tombak jauhnya dari medan pertempuran tadi. Dilepasnya baju kampretnya yang penuh berlumuran darah. Digosok-gosoknya di aliran air, yang segera membuat air di hilir menjadi kemerahan.

Baju itu tak lagi bisa kembali ke warna sebelumnya, kuning gading. Ada warna kemerahan yang tak bisa lagi hilang. Tak apa, secara syariat baju itu sudah bersih dan bisa dipakai lagi tatkala kering nanti. Ukur pun mengambil pakaian bersih dari buntalan yang dibawanya di belakang pelana.

Dengan pakaian baru itu ia pun melaksanakan shalat ashar. Namun meski dirinya dan para pengawal sudah lapar, mereka tak sampai hati membuka bekal dan makan di situ. Bagaimanapun bau anyir darah masih kuat tercium, dan merah masih menjadi warna di mana-mana.

“Kita jalan, Rayi,” kata Ukur mengajak Rangga Gempol pergi. Entah kapan dan dari mana datangnya, Sambrani kini sudah ditungganginya lagi. Yang diajak segera menepuk punggung kuda, membiarkan binatang tunggangan itu berjalan lambat-lambat, diikuti kuda-kuda para prajurit lainnya.

“Boleh Kakang bertanya seandainya Rayi berkenan menjawab?” tanya Ukur. Rangga Gempol yang berkuda disampingnya sigap menjawab. “Silakan.”

“Mohon tidak tersinggung karena pertanyaan ini benar-benar datang dari kebodohan Kakang,” kata Ukur memulai. “Kakang merasa kalau tidak ditanyakan langsung kepada Rayi, ini akan terus bertumbuh, beranak pinak dalam benak dan sangat mungkin menjadi racun yang mengotori pikiran Kakang ke depan.”

“Silakan, Kakang. Tak ada geuneuk maleukmeuk dalam pikiran Rayi soal kakang. Tak ada cemburu, tak ada hasad,” kata Rangga Gempol.

“Sebenarnya, apa yang membuat Rayi memutuskan serah bongkokan kepada Mataram?” tanya Ukur, bertanya langsung tanpa basa-basi lagi.

”Apakah itu sudah dimusyawarahkan dengan para kokolot, terutama mungkin kepada para Kandaga Lante yang kini menjadi para kokolot Sumedang Larang, yakni Eyang Jaya Perkosa atau Eyang Sayang Hawu, Eyang Terong Peot, Eyang Kondang Hapa dan Eyang Nangganan? Karena kita tahu, sejak serah bongkokan itu orang-orang Wetan akan menyebut wilayah kita sebagai Praiangan [1] alias pemberian. Pemberian dari mereka. Itu terus terang membuat Kakang tersinggung, Rayi.”

Wajah Rangga Gempol sempat sedikit memerah. Tetapi bagaimana pun ia adalah seorang bangsawan penuh didikan, seorang terahing kusuma rembesing madu, hal itu dengan cepat berubah ketika ia tersadar.

“Kakang Ukur. Kalau Akang mau jujur, apakah hanya pada saat saya memerintah Sumedang Larang, maka kerajaan Sumedang Larang itu mulai serah bongkokan terhadap Mataram?” Rangga Gempol malah balik bertanya.

Dipati Ukur terkejut dan tahu kemana arah jawaban Rangga Gempol. Namun memang tak ada jawaban jujur lain kecuali mengakui bahwa perkataan Rangga Gempol benar adanya.

“Tidak. Sumedang Larang, meski secara resmi sebuah negeri berdaulat, faktanya telah lama menjadi bawahan Mataram.”

“Itulah, Kakang. Ingatkah Kakang bagaimana perang Sumedang Larang dengan Cirebon bisa berakhir?”, kembali Rangga Gempol bicara.

“Perang yang bermula ketika Ramanda Prabu Geusan Ulun tak bisa mengusir Ibunda Ratu Harisbaya yang menyelinap ke dalam tendanya di wilayah Keraton Cirebon ketika Ramanda sebentar mengaso sepulang dari Pajang. Itu terjadi sekitar tahun 1585. Alih-alih mengembalikan ibunda ke rama kandung saya, Raja Cirebon Kanjeng Panembahan Ratu,malah membawa Ibu Ratu Harisbaya ke Sumedang. Kita semua tahu, setelah itu dua negara yang sebelumnya bersahabat dan saling bantu itu terlibat perang campuh.”

“Peran itu memungkinkan masuknya campur tangan Mataram. Apalagi ayahanda Panembahan Ratu adalah juga menantu raja Pajang dari istri yang pertama,” Rangga Gempol sebentar terdiam.

“Baik Ayahanda Panembahan Ratu maupun Ramanda Prabu Geusan Ulun tak mampu melawan kehendak Sultan Agung, yang memang bagus menjadi penengah. Ibunda Ratu Harisbaya disepakati terus menjadi istri Ramanda Prabu Geusan Ulun, dan Rayi sendiri kemudian pindah ke Sumedang ikut Ibunda. Sebagai gantinya beberapa wilayah Sumedang jatuh ke tangan Ayahanda Panembahan Ratu, sehingga batas kekuasaan Sumedang ke timur berakhir di aliran Sungai Cilutung. Rajagaluh dan Sindangkasih pun kemudian masuk wilayah Cirebon. Perang pun berakhir, meski hubungan Sumedang dengan Cirebon tak pernah lagi seerat sebelumnya. Bahkan di Kabuyutan Sumedang, tak pernah lagi diizinkan para peziarah memakai batik, baju yang mencerminkan pakaian urang Wetan.” Rangga Gempol berhenti sejenak.

“Lalu, tidakkah berarti sejak itu baik Sumedang maupun Cirebon sebenarnya hanya bawahan, yang takluk kepada apa pun yang dikehendaki Sinuhun Mataram?” Kali ini giliran Rangga Gempol bertanya.

Ukur diam tak menjawab. Ia menyadari, benar juga apa yang dikatakan sang raja yang kini jadi sekadar wedana itu.

“Lalu tentang Praiangan, biarlah urang Wetan itu berpikir semau mereka. Dari dulu, sejak zaman karuhun kita telah menyebut tanah ini juga Priangan, bukan Praiangan. Asalnya dari kata Parahyangan yang artinya tempat tinggal segala Hyang[2], dewa-dewa yang harus kita hormati,” kata Rangga Gempol.

Ukur kembali terdiam. Hatinya yang semula galau laiknya anak abege alay, kini mulai tenang. [bersambung/gardanasional.id]

[1] Praiangan juga Juliaen de Silva, orang bule pertama yang datang ke Bandung, dalam bahasa Belanda kuno pada 1641. Data tersebut ditulis di Landsarchivaris (Arsip Negara) yang ditemukan E.C Godee Molsbergen. Sementara istilah Priangan ini menurut Hageman berasal dari kata Prayangan yang artinya memberikan atau menyerahkan dengan hati yang suci. Istilah Priangan menurut Otto van Rees, disebut-sebut oleh Komandan Jacob Couper tahun 1684 ketika ia diperintah Gubernur Jendral VOC memberikan acte van aanstelingen kepada para Bupati Priangan.

[2] Menurut Ajat Rohaedi (alm), Priangan merupakan kontraksi dari kata Parahyangan yang artinya tempat tinggal Hyang yang harus dihormat.

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [15]: Wajah yang Tak Setampan Gemblak

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close