Bale Kab Bandung

Dipati Ukur: Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [20]: Aji Sirep Warisan Kaum Durga

Sebuah Novel Menyambut Hari Jadi Kab Bandung ke-378

Malam seolah mati ketika Ki Blontang menekur merapal aji. Tak ada teriak kodok, salak anjing di kejauhan atau pun serangga malam berbunyi.

Balebandung.com – Namun Tejo tak punya kesempatan memikirkan siapa penunggang kuda putih itu lebih lanjut. Kedua rekannya segera melecut kuda mereka sekencangnya sehingga mau tak mau Tejo pun harus mengikuti keduanya kalau tak ingin tertinggal jauh.

Ketika cahaya matahari digantikan sinar layung, tibalah ketiganya di suatu dataran tinggi. Kepala rombongan menahan laju kuda, sehingga kuda itu kini berjalan satu dua, lambat-lambat.

“Kalian lihat di sana,” katanya menunjuk gundukan permukiman jauh di lembah. Kebanyakan beratap rumbia, ilalang yang anyam sebagai atap rumah penahan air hujan dan terik matahari, terutama. Hanya beberapa saja di antara rumah-rumah itu yang beratapkan genting bakar, tanda kehidupan yang lebih sejahtera.

“Di kampung itu kita kemarin bersua dengan tengkulak sekaligus rentenir yang istrinya macak itu,” kata dia. “Terlalu macak hingga segala perhiasan mahalnya ia pakai hanya untuk berbelanja ke pasar. Perilaku sombong yang akan merugikan dirinya. Tapi bagi kita ya…bagus-bagus saja. Kita jadi tahu siapa dan rumah mana yang harus kita tuju,” kata dia, diiringi gelak tawa.

“He he he, iya Ki Blontang,” kata si pilon yang dungu berhitung itu. Ternyata nama kepala rombongan itu Blontang. “Sayang kemarin di pasar tidak kita tanya ya, berapa masing-masing harga perhiasan yang ia pakai.” Lalu ia pun tertawa, tak berhenti manakala Ki Blontang memandangnya dengan pandangan terheran-heran.

“Apa maksudmu bertanya kepada perempuan itu soal harga barang-barang perhiasannya?” tanya Ki Blontang, penasaran.

Tanpa merasa ada yang ganjil dengan pernyataannya barusan, si pilon menjawab enteng.

“Lha, kita kan harus memastikan orang yang kita rampok itu benar-benar kaya. Siapa tahu kan perhiasan itu barang gadaian yang digadaikan pemilik aslinya dengan harga rendah? Kan rendah pula harga perhiasan itu sejatinya. Paling tidak, dalam catatan harta si istri tengkulak itu.”

Mendengar jawaban tersebut nyaris saja Ki Blontang menampar anak buahnya itu. Namun segera ia mengurungkan niatnya. Buat apa menampar orang bego, hanya akan menambah persoalan tak perlu. Mungkin bahkan bagus-bagus saja, paling tidak bisa menggunakan tenaganya dengan bayaran murah.

“Kita istirahat di sini. Malam nanti, sesaat sebelum tengah malam, ketika tukang ronda mulai mengantuk, kita turun ke lembah. Pastikan senjata kita terasah,” kata Ki Blontang. Lalu ketiga orang itu pun turun dari kuda, mencari tempat yang nyaman untuk rebah hingga malam tiba.

***

Perjalanan Bulan telah lewat titik puncaknya saat kawanan bertiga orang itu mengendap-endap mendekati rumah besar beratap genting itu. Rumah itu dikelilingi tembok sekitar dua kali tinggi badan orang rata-rata, laiknya benteng. Benar seperti benteng, karena paling tidak ada tiga gerbang yang dijaga masing-masing dua penjaga bersenjata golok di pinggang.

“Ssst!” kata Ki Blontang, saat si pilon menginjak ranting kecil yang membuatnya patah dan mengeluarkan suara. Cukup berisik di tengah malam yang hening itu.

“Berhenti dulu,” kata Ki Blontang saat mereka tiba di sebuah rumpun perdu di pinggir tembok. Ia segera bersila. Kedua anak buahnya berhenti, namun tak ikut bersila, hanya diam melihat apa yang ia kerjakan.

Ki Blontang merogoh kantong yang selalu menggantung di lehernya. Isinya tanah kuburan seorang perawan yang mati pada hari-hari dan wuku[1] tertentu. Tanah itu jadi berguna bagi penganut ilmu hitam hanya setelah ia melakukan ‘laku pati geni’ selama beberapa waktu.

Ilmu yang berhubungan dengan tanah kuburan perawan adalah aji sirep begananda, mantera penidur, yang awalnya konon diciptakan Indrajit, adik Rahwana dan panglima terkemuka Alengka Dirja.

Belakangan setelah masuknya Islam, guna mendiskkreditkan Islam, oleh kalangan sinkretis yang sakit hati karena kian terpinggirkan dibuat mantera yang seolah-olah Islami, karena melibatkan nama Allah di dalamnya.

Malam seolah mati ketika Ki Blontang duduk menekur merapal aji. Tak ada bunyi kodok, salak anjing di kejauhan atau pun serangga malam yang berbunyi. Mata prajurit Mataram itu terpejam dengan kedua tangan menangkup di dada.

“Hong..
Ingsun amatak ajiku sirep begananda
Kang ana indrajit, kumelun nglimuti ing mega malang
Bul peteng dhedet alimengan upas racun daribesi
Pet pepet kemput bawur wora wari aliweran tekane wimasara
Kang katempuh jim setan peri prayangan
Gandarwa, jalma manungsa tan wurung ambruk lemes
Wuta tan bisa krekat, blek sek turu kepati saking kersane Allah.”

Usai merapal mantera Ki Blontang berdiri mendekati tembok. Disebarnya tanah kuburan yang tadi ia ambil dari kantong.

“Weer….!” Mau tak mau sebaran itu menimbulkan bunyi di tengah malam sehening itu.

“Kita tunggu sambil minum klembak,” kata Ki Blontang sambil menyulut klembaknya. Bau kemenyan menguar menambah suasana ganjil. Tak ada bunyi apapun, seolah semua penghuni bumi selain mereka bertiga telah mati.

“Ayo!” kata Ki Blontang setelah isapan klembak terakhir yang terlihat nikmat ia sesap. Dengan enteng ia mencelat melompati tembok. Tentu saja kedua anak buahnya melongo tak bisa ikut cara itu. Mereka berlari ke arah gerbang dan mendapati dua tubuh penjaga bergelatakan.

“Wuiih, iki koyo mampus, Jo,” kata si pilon. “Tumbang, nyaris seperti mati.” Tejo tak merespons. Ia lebih memilih menggeradah saku-saku baju dan sabuk kedua orang itu.

“Nanti saja, di dalam lebih banyak!” kata si pilon.

“Alah, memang kau tahu pasti di dalam lebih banyak? Ini saja dulu yang pasti-pasti,” kata Tejo menjawab sambil memasukkan beberapa kepeng tembaga ke dalam sabuk kulitnya. Ada juga sebuah kepeng perak, yang mengkilat di bawah terpaan cahaya bulan.

“Hoi, ayo! Kenapa kalian?” terdengar teriakan dari depan pintu rumah. Ki Blontang sudah berdiri di sana. Saat mereka mencoba mendorong pintu, ternyata pintu itu terkunci. Tampaknya pintu kayu jati itu dipalang dari dalam.

“Haram jadah, ternyata pelit sekali si empunya rumah. Terkunci, membuat penjaganya sendiri tak bisa ambil minum kalau haus,” kata Ki Blontang.

Ia lalu mundur dua langkah. Kedua tangannya terkepal di depan dada. Setelah menarik nafas, Ki Blontang melompat ke depan tepat di muka pintu. Kedua tangannya yang mengepal menghajar pintu tersebut sekuat tenaga.

“Bruaaaak!”

Pintu jati dari kayu berumur lebih dari 50 tahun itu pun terbelah. Tampak pula palang penahan pintu yang kini tergolek patah di dalam rumah. Namun suara berisik itu tak sedikit pun membangunkan penghuni rumah dan penjaga yang tentu saja ada.

“Ayo, gasak apa pun yang berharga! Jangan coba-coba sentuh istri si tengkulak tengik penarik rente ini. Perempuan itu bagianku!” teriak Ki Blontang. Ia mendahuli masuk ke dalam dengan langkah tergesa dan panjang. [bersambung/gardanasional.id]

[1] Wuku adalah bagian dari siklus tujuh atau lima hari dalam penanggalan Jawa dan Bali. Perhitungan wuku (Jawa: pawukon) masih digunakan di Bali dan Jawa.

Dipati Ukur: Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [19]: Para Maling dari Wetan

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close