Selasa, Oktober 19, 2021
BerandaBale BandungLegenda Si Gombar Mau Dihidupkan Lagi?

Legenda Si Gombar Mau Dihidupkan Lagi?

Legenda Si Gombar Kuda Besi
Legenda Si Gombar Kuda Besi

BALEBANDUNG – Teringat cerita ibu, kadang beliau suka bermain ke Ciwidey sekalian berkunjung ke uwaknya di daerah Pasirjambu, naik kereta dari Stasiun Banjaran sampai Ciwidey. Yang paling asyik begitu kereta memasuki jalur menanjak. Begitu kata Pak Eka, guru SMA 21 Bandung.

Menurut penuturannya, begitu kereta memasuki jalur menanjak, perasaan tegang menghinggapi seluruh penumpang. Kereta berjalan perlahan dan kandang berhenti, yang ditakutkan kereta tidak kuat dan mundur lagi.

Selain itu, banyak penuturan orang-orang yang pernah menikmati jalur kereta Bandung Ciwidey itu, ada yang beranggapan adanya jalur kereta itu dapat melatih orang tepat waktu. Sebab kereta zaman dulu selalu on time, terlambat sedikit maka akan ketinggalan. Ada pula yang mengatakan kereta sebagai tempat wisata. Orang orang turun dari pegunungan ke stasion kereta membawa bekal untuk botram hanya untuk melihat hulu kareta.

Kenangan wartawan Suparman dalam artikelnya di Harian Pikiran Rakyat mengatakan perjalanan menggunakan kereta api dari Bandung – Ciwidey. Naik dari Stasiun Cikudapateuh Kosambi kira-kira pukul 9.00 WIB.

Saat itu di Stasiun Cikudapateuh belum seramai sekarang. Sambil menunggu kereta api ke Ciwidey, kita bisa melihat beberapa orang yang tengah asyik main judi kupluk (dadu) atau nonton celoteh tukang obat yang menawarkan obat koreng atau gelang akar bahar dan penumbuh kumis. Belum ada yang menawarkan obat kuat lelaki seperti sering ditawarkan tukang obat zaman sekarang.

Kereta api dengan dua rangkai gerbong penumpang, dari stasiun Cikudapateuh melaju menelusuri wilayah Cibangkong, Kordon, Pameungpeuk, Banjaran, Soreang yang pada kiri – kanan bantalan rel sebagian besar masih berupa pesawahan dan balong (kolam).

Di Stasiun Kordon (Buahbatu), Banjaran dan Soreang, kereta api berhenti untuk menaikan dan menurunkan penumpang.Perjalanan yang nyaman dan bisa dinikmati, karena laju kereta api tidak terlalu cepat. Bahkan mungkin lalaunan dirasakan selepas stasiun Soreang menuju Ciwidey, karena tanjakan yang cukup terjal.

Pada alur perjalanan antara Soreang – Pasirjambu sampai Ciwidey, beberapa penumpang yang naik dari galengan (bantaran) sawah. Para penumpang yang naik dari bantaran sawah tersebut adalah petani yang usai menggarap lahan pertanian. Mereka naik KA dengan membawa pacul, arit serta mengenakan baju kerja yang masih kotor terlumuri lumpur sawah.

Bahkan di antara mereka ada yang membawa kambing dan sekarung rumput. Kambing, rumput dan manusia sama-sama menikmati perjalanan kereta api Bandung – Ciwidey. Berbagai aroma bau bisa terhirup dalam perjalanan kereta api tersebut, selain mendengar obrolan “ngaler-ngidul” para penumpang yang duduk pada kursi memanjang seperti pada angkutan kota. Pada musim liburan, sebagian besar penumpangnya adalah pelajar yang akan berliburan (berkemah) di kawasan Situ Patengan.

Jika dapat kesempatan lagi, boleh dong merasakan naik kereta jalur selatan ini, walaupun tidak menggunakan kereta zaman dulu seperti yang sekarang masih terdapat di Ambarawa. Bisa bernostalgia menyusuri rel yang pernah dilintasi “Si Gombar”.

Kini ada selentingan rencana dibukanya kebali jalur kereta ini. Semoga ini bisa terlaksana dengan tujuan untuk memperbaiki sistem transoportasi darat sekarang yang semerawut. by mang bale

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

TERKINI