Bale Bandung

Peduli Anak Yatim dan Dhuafa, Kopfa Ustadz Dadang : Panggilan Jiwa

×

Peduli Anak Yatim dan Dhuafa, Kopfa Ustadz Dadang : Panggilan Jiwa

Sebarkan artikel ini
Kopfa saat memberikan santunan kepada anak-anak yatim piatu dan dhuafa di sebuah masjid di Kampung Nengkelan Desa Sukamantri Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung, Sabtu (28/1/2023)./foto istimewa/

PASEH,balebandung.com – Sejak tahun 2012 hingga saat ini sudah 10 tahun, Ustadz Dadang, mengurus anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa yang ada di lingkungan Kampung Nengkelan Desa Sukamantri Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung.

Ustadz Dadang selain memfasilitasi para donatur untuk memberikan santunan kepada anak-anak yatim dan dhuafa, juga memfasilitasi anak-anak yang berasal dari warga miskin itu untuk menjalani prosesi khitanan.

Ustadz Dadang pun menyiapkan kain kafan untuk masyarakat yang meninggal dunia dalam kondisi darurat. Semua kegiatan sosial itu dikelola oleh Komunitas Peduli Dhuafa (Kopfa), dibawah kepemimpinan Ustadz Dadang.

Ustadz Dadang mengungkapkan, mengurus anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa itu, merupakan panggilan jiwa. Pada tahun 2012, ia mengakui, tiba-tiba ingin membantu anak-anak yang ditinggalkan oleh para orang tuanya karena meninggal dunia. Sedangkan dia sendiri adalah pedagang kaki lima yang berjualan perkakas pertanian dan pakaian di Jalan Pasar Baru Majalaya, Kabupaten Bandung.

“Ini semata-mata dilakukan karena Allah SWT. Pada tahun 2012, saya menghimpun sekitar 30 anak yatim piatu, dan 10 orang dhuafa. Jadi jumlahnya 40 orang. Untuk membantu mereka, dalam hal anggaran berasal dari para donatur yang menitipkan kepada kita sebagai pengurus Kopfa,” kata Ustadz Dadang di Majalaya, Minggu (29/1/2023).

Namun seiring dengan bertambahnya waktu, katanya, anak-anak yatim piatu bertambah berikut kaum dhuafa. Apalagi disaat pandemi Covid-19, selama dua tahun anak-anak yatim bertambah. “Mereka mendaftarkan diri untuk menjadi binaan Kopfa. Saat ini, sudah ada 165 anak yatim dan dhuafa, yang berada pada binaan Kopfa. Mereka merupakan warga Kecamatan Paseh, Solokanjeruk, Majalaya dan Ibun,” katanya.

Kopfa, imbuh Ustadz Dadang, berusaha untuk memberikan perhatian kepada anak-anak yatim piatu tersebut, terutama yang ingin dikhitan. Proses khitanannya pun dengan cara jemput bola.

“Jadi mereka dikhitan dengan cara didatangi ke rumahnya masing-masing. Selama ini, Kopfa sudah mengkhitan anak sekitar 250 orang, sedangkan memberikan santunan rata-rata 150 orang anak yatim dan dhuafa. Seperti halnya dilaksanakan pada hari Sabtu (28/1/2023) di sebuah masjid di Kampung Nengkelan, kita mengundang anak-anak yatim piatu dan dhuafa untuk menerima santunan. Pemberian santunan itu dilaksanakan setiap bulan,” katanya.

Menurutnya, selain memberikan santunan kepada anak yatim dan dhuafa, Kofpa juga menyiapkan kain kafan atau peralatan untuk warga yang meninggal dunia.

“Siapa saja bisa memanfaatkan kain kafan itu. Tapi dalam kondisi darurat, misalnya belum ada anggaran atau toko penjual kain kafan sedang tutup saat akan mengurus jenazah. Dalam setahun itu, kita bisa menyiapkan 50-60 kain kafan untuk warga yang meninggal dunia,” ungkapnya.

Ditanya anggaran dari mana untuk kegiatan sosial itu, Ustadz Dadang mengungkapkan berasal dari sejumlah donatur yang selalu menyisihkan hartanya untuk kegiatan sosial. “Kita tak pernah meminta kepada warga sekitar. Apalagi sampai membuat proposal, tidak pernah kita lakukan. Termasuk tak ada bantuan dari pemerintah. Donasi selalu datang dari para donatur di Kabupaten Bandung, Ciamis, juga berasal dari Sulawesi, Riau, Tangerang, dan daerah lainnya,” tuturnya.

Ia mengungkapkan mengurus anak-anak yatim dan dhuafa itu hanya bermodalkan keyakinan, bahwa anak-anak yatim dan dhuafa selalu diberikan rezeki oleh Allah SWT. “Allah SWT maha kaya, dan anak-anak yatim maupun dhuafa selalu diberikan rezeki oleh Allah SWT. Namun dalam proses pemberiannya, melalui sesama manusia, yang selalu digerakkan hatinya untuk membantu anak-anak yatim dan dhuafa,” ungkapnya.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – aum awighnamastu (semoga tiada halangan / semoga selamat) Pupuh DHINGDANG  ndan kawana h sang r narendra haneng wilatika nagari hanma r hayamuruk prabhu subala…maka dikisahkanlah sang Sri Narendra yang berada di negeri Wilwatikta, bernama Sri Hayam Wuruk, raja yang perkasa… *** Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah terhadap […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Pangeran Wastu Kancana ditinggal wafat ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana, ketika ia berusia 9 tahun. Ayahnya meninggal dalam Perang Bubat tahun 1357 M. Karena Wastu masih terlalu muda untuk menjadi Raja Sunda, pemerintahan lalu dipegang oleh pamannya, Sang Bunisora, sebagai pejabat sementara raja. Perang Bubat bukan cuma tragedi gugurnya Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Pusat Sumber Daya Komunitas atau PSDK DAS Citarum mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Desakan itu disampaikan menjelang 10 Tahun Hari Citarum yang diperingati setiap 24 Mei. Ketua PSDK DAS Citarum Ahmad Gunawan mengatakan evaluasi diperlukan karena sejumlah program […]

Bale Bandung

PARARATON umumnya diartikan sebagai “Kitab Para Ratu”. Akar katanya adalah ratu. Dalam Jawa Kuno/Jawa Pertengahan, ratu tidak selalu berarti “ratu perempuan” seperti dalam bahasa Indonesia modern. Ratu bisa berarti penguasa, raja, raja perempuan, atau monark. Jadi lebih aman diterjemahkan sebagai penguasa kerajaan. Sumber ringkas juga menjelaskan Pararaton berasal dari “para ratu” yang berarti para penguasa, […]

Bale Bandung

balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan. Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan […]