Bale Jabar

Posting Hoax Anak Usia 14 Tahun Tewas Jadi Korban Kerusuhan, Dokter di Bandung Ditangkap

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko saat ekspos di Gedung Ditreskrimsus Mapolda Jabar, Senin (27/5/19). by bb7

BANDUNG, Balebandung.com – Polda Jawa Barat melalui Ditreskrimsus Polda Jabar, kembali menangkap satu orang pelaku penyebar hoax, saat aksi kerusuhan 22 Mei di Jakarta kemarin.

Kali ini, polisi mengamankan seseorang yang berprofesi sebagai dokter di Kota Bandung. Seorang pelaku berinisial DS diamankan karena menyebarkan berita bohong di media sosial Facebook dengan postingannya saat aksi 22 Mei lalu.

Direskrimsus Polda Jabar, Kombes Pol Samudi, mengatakan pelaku memposting berita hoax, yang menyatakan anak usia 14 tahun jadi korban tewas kerusuhan 22 Mei.

“Pelaku ini di akun media sosial facebooknya, membuat atau menulis bahwa ada korban tembak polisi anak usia 14 tahun tewas,” jelas Direskrimsus Polda Jabar, Kombes Pol Samudi, didampingi Kabid Humas Polda Jabar Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko, saat ekspos di Gedung Ditreskrimsus Polda Jabar, Selasa (28/5/19).

Samudi menambahkan, akun media sosial facebooknya yang bernama @dodisuardi menuliskan informasi hoax. “Postingan yang di-upload pelaku yakni berisi ‘Malam ini Allah memanggil hamba-hamba yang dikasihinya. Seorang remaja tanggung, menggenakan ikat pinggang berlogo Osis, diantar ke posko mobile ARMII dalam kondisi bersimbah darah. Saat diletakkan distetcher ambulans, tidak ada respon, nadi oun tidak teraba. Tim medis segera melakukan resusitasi. Kondisi sudah sangat berat hingga anak ini syahid dalam perjalanan ke rumah sakit. Tim medis yang menolong tidak kuasa menahan air mata. Kematian anak selalu menyisakan trauma. Tak terbayang perasaan orangtuannya. Korban tembak polisi seorang remaja 14 tahun tewas,” ungkap Direskrimsus Polda Jabar.

Modus pelaku yakni distribusi konten status di media sosial facebook dengan akses terbuka. “Postingan pelaku ini dapat dilihat oleh seluruh pengguna akun media sosial facebook,” paparnya.

Atas perbuatannya itu, polisi menjerat dengan pasal 14 ayat 1 dan ayat 2, serta pasal 15 UU No. 1 tahun 1946 tentang Peraturan hukum pidana dan 207 KUHPidana. ” Ancaman hukuman terhadap pelaku lima tahun penjara,” tandasnya.

DS sang pelaku mengaku konten yang di postingnya didapatnya dari grup diskusi yang diikutinya. “Sebetulnya saya posting itu bukan murni saya ketik, itu copas dalam grup sedang diskusi, bahan diskusi bagaimana cara kita netralisir,” terang DS. Ia menyatakan dirinya sudah minta maaf di Facebook atas postingannya.

“Saya langsung minta maaf karena situasi di akun Facebook saya memanas dan menggangu karena postingan tersebut,” jelasnya.

Bahkan permohonan maaf di Facebook ditulis cukup panjang. “Saya menyesal dan meminta maaf atas perlakuan saya di media sosial,” papar DS sambil tertunduk di hadapan wartawan.***

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close