Bale Kota BandungHumaniora

Rumahnya Ambruk Dilanda Gempa, Abah Dayat Jadi Tukang Parkir

Abah Hidayat, tukang parkir di Alun-alun Kota Bandung. by Nadzria DH/bbcom
Abah Hidayat, tukang parkir di Alun-alun Kota Bandung. by Nadzria DH/bbcom

BANDUNG – Tak peduli harus berapa lama berdiri, terik matahari dan hujan pun tak menjadi halangan untuk menanti setiap pengendara mobil yang keluar dari basement Alun-alun Kota Bandung.

Wajah lelah dan mata penuh harapan terpancar. Setiap garis-garis keriput di wajah jadi tanda usianya tak lagi muda, bukan sebuah alasan untuk tidak menafkahi istri dan cucunya.

Meski hanya uang receh yang diperoleh, juru parkir bernama Hidayat (72) ini tetap ikhlas untuk menyeberangkan kendaraan yang hendak keluar dari parkiran Alun-alun Bandung.

Penghasilan yang didapat tak menentu, tidak semua kendaraan yang keluar memberikan uang. Pendapatan sehari rata-rata hanya Rp.15.000. Dari pihak parkiran alun-alun itu pun harus bekerja sejak pukul 08.00 sampai 21.30 WIB.

Penghasilan yang terbilang kecil ini tetap disisihkan untuk biaya sewa kamar Rp.400.000/bulan dengan ukuran 3×3 meter terletak di Rancamanyar, Baleendah, Kabupaten Bandung.

Belum lagi Hidayat harus menyisihkan uangnya untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Kondisi seperti itu tidak membuat Hidayat mengeluh. Hidayat yang biasa disapa Abah Dayat ini memiliki 2 anak dan 2 cucu. Kedua anaknya masing-masing sudah bekerja.

“Abah tidak ingin bergantung kepada anak-anak. Karena Abah tahu kedua anak abah belum mapan sama seperti abah, hanya mendapatkan penghasilan yang tidak seberapa,” ucap Abah saat ditemui Balebandung.com di Alun-alun Bandung, Kamis (8/9/16).

Pekerjaan yang digelutinya sudah berjalan 8 tahun sejak 2009. Bah Dayat bukan penduduk asli Bandung, melainkan perantau dari Sukabumi. Pada tahun 1973 tepat berusia 25 tahun, saat itu rumah yang ditempatinya bersama istri terkena gempa. Tak ada yang tahu gempa Cibadak Sukabumi itu akan terjadi menimpa rumahnya hingga runtuh dan hanya tersisa bangunan bagian dapur yang berdiri.

Tidak memiliki biaya untuk membangun kembali, karena mengharapkan bantuan dari pemerintah tak didapat, dengan bermodalkan nekad Abah membawa istri merantau ke Bandung. Pertama kali menginjakkan kaki di Bandung tidak langsung mendapatkan pekerjaan yang penghasilannya menjanjikan.

Abah hanya bekerja sebagai juru parkir di sisi jalan dengan penghasilan Rp.2.000/hari. Itu pun tidak cukup untuk kebutuhannya dan istri. Abah harus sampai mengais-ais sisa makanan di jalan untuk dibawa pulang.

Pekerjaaan apapun Abah lakukan, dari mulai menjadi kuli bangunan dan pelayan restoran, asalkan penghasilan yang didapat halal. Walaupun sudah tua semua anaknya tak pernah melarang Abah untuk berhenti bekerja, karena Abah yang merasa masih kuat dan sanggup untuk memenuhi kebutuhannya bersama istri.

“Abah selalu berpesan kepada kedua anak abah agar berhemat, terus bekerja, jangan mengeluh, dan jujur. Pekerjaan harus didasari oleh kejujuran biar jadi berkah,” ucap Abah. Terus terang kepada keluarga jika ada masalah mengenai pendapatan adalah hal lain yang dipesankan Abah kepada anak-anaknya. by Welvie FA

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close