Senin, Oktober 25, 2021
BerandaBale Kota BandungYonarhanudri-3, Satbanpur Andalan Kodam III/Siliwangi

Yonarhanudri-3, Satbanpur Andalan Kodam III/Siliwangi

meriam S 60 57 mm-L70Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 3/Yudha Bhuana Yaksa (Yon Arhanudri 3/Kelelawar) adalah Satuan Bantuan Tempur (Satbanpur) organik Kodam III/Siliwangi Yonarhanudri 3 dibentuk dengan dasar Skep KASAD/KPTS/118/2/1961/ tertanggal 3 Februari 1961 tentang pendirian Batalyon Artileri Serangan Udara-3 yang bermarkas pertama kalinya di Kota Cimahi dengan komandan Pertama Kapten Art Eddy M. Achir.

Sejarah Pembentukan

Pada Juli 1961 markas dipindah ke Jalan Manado No 12, Bandung. Pada tanggal 1 Juli 1964 menerima meriam L-70 SF untuk mengganti senjata L-60 yang diserahkan ke Bengpuspal. Pada tanggal 1 Agustus 1964 dengan struktur baru 2 Baterai Tempur dan 1 Baterai Markas dan dinamakan dengan nama Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan-3 atau Yon Arhanudri-3. Dan meriam L-60 dikembalikan lagi ke Yon Arhanudri-3 pada tanggal 6 Oktober 1965.

Latar belakang pembentukan Batalyon Penangkis Serangan Udara-3 (Yon PSU-3) didasarkan atas pertimbangan pimpinan TNI-AD yang memandang perlu menyusun kekuatan penangkis serangan udara guna turut serta melaksanakan penumpasan pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dan menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada tahun 1959 persiapan pembentukan Satuan Penangkis Serangan Udara telah dilakukan, sebagai persiapan tingkat Batalyon yang langsung dibina oleh Pus Art di Cimahi. Bahkan satuan Penangkis Serangan Udara tersebut telah menduduki gelar pertahanan udara, yakni :

– Mayon dan Baterai-A berkedudukan di Baros Cimahi.
– Baterai-B berkedudukan di Gunung Batu Cimahi.
– Baterai-C berkedudukan di sekitar Pangkalan Udara Andir (saat ini Lanud Husein Sastranegara).

Pada waktu pembentukan sebagian besar personel anggota adalah berasal dari pengerahan Secata/Milsuk Dodik II Pengalengan akhir tahun 1959, yang kemudian mendapat latihan kecabangan Artileri sasaran udara di masing-masing Baterai.

Seluruh personel ditampung dalam suatu kompleks semi permanen di daerah Baros-Cimahi yang bersifat darurat. Demikian buruknya keadaan pada waktu itu sehingga pada suatu saat 80% anggota terjangkit penyakit malaria dan sakit perut. Lokasi tersebut sekarang dipergunakan sebagai kompleks pabrik besi baja PT INASTU.

Beberapa hari kemudian Yon PSU-3 mendapat tugas pertahanan udara dan pertama kali menggunakan meriam 40 mm/L-60 menempati kedudukan :
– Baterai-B berkedudukan di sekitar PABAL AD (sekarang PT Pindad)
– Baterai-C di sekitar Lanud Husein Sastra Negara

Sedangkan Baterai-A melaksanakan tugas operasi penumpasan DI/TII di daerah Banten. Setiap beberapa bulan tiap Baterai mengalami pergeseran kedudukan kurang lebih 8 bulan kemudian secara berangsur-angsur seluruh personel dimatangkan kemampuan tempur infanterinya dengan menggembleng anggota satuan di Pusat Latihan Pertempuran di daerah Ciromed-Sumedang dan Daerah Cibodas-Lembang.

Perhatian pimpinan terhadap keadaan Yon PSU-3 cukup besar, sehingga kedudukan dipindahkan dari Baros-Cimahi untuk menempati sebagian kompleks instalasi Penyalur Kodam VI/Siliwangi (Lurdam VI/Slw) di Jalan Menado No. 12 Bandung pada bulan Juli 1961, sampai dengan sekarang.

Organisasi
Dengan telah terbentuknya Batalyon PSU-3, maka Departemen Angkatan Darat mengeluarkan TOP Nomor : 64-50 tanggal 23 Juli 1964 yang mengatur bahwa Yon PSU-3 terdiri dari 3 Raipur dan Mayon, dengan kekuatan keseluruhan 665 orang, Mayon 157 orang, dan Baterai Tempur 161 orang tiap Baterai, kemudian nama satuanpun diubah dari Yon PSU-3 menjadi Yon Arsuri-3. Pengeluaran TOP baru tersebut didasarkan pada Surat Keputusan Menteri Panglima Angkatan Darat Nomor : KEP-178/2/1964 yang menetapkan 3 (tiga) hal :

1. Menetapkan Yon Arsu-3 sebagai Yon Arsu yang harus diganti dengan senjata 40 mm L-70.
2. Menunjuk Danpussenart sebagai pelaksana sesuai usul.
3. Menetapkan Yon Arsu-3 dengan persenjataan baru masih tetap organik dan administratif Kodam VI/Slw.

Berdasarkan Surat Perintah Pangdam VI/Slw No : Prin-176-2/III/1964, Yon Arsu-3 di BP kan ke Pussenart Tmt. 01-04-1964 s.d 01-07-1964 dalam rangka alih senjata dari meriam 40 mm L-60 ke meriam 40 mm L-70. selanjutnya meriam 40 mm L-60 diserahkan ke Bengpuspal.

Atas dasar perkembangan organisasi dan operasional serangan, pengembangan doktrin dalam ruang lingkup tanggung jawab Angkatan Darat, khususnya bidang pertahanan udara, terjadi perubahan istilah yang semula ARSURI-3 menjadi HANUDRI-3 sesuai Telegram Menpangad Nomor : T-1909/1965 tanggal 28 Juli 1965. Setelah alih senjata ke Meriam 40 mm L-70 maka TOP satuan mengalami perubahan lagi sesuai keputusan Kasad No : Skep/262/IV/1974 tanggal 23 April 1974 dan diralat dengan Skep Kasad No : Skep/262.a/IV/1974 tanggal 15-08-1974 sehingga terjadi perubahan Baterai Tempur yang semula 3 Raipur menjadi 4 Raipur, Mayon, Raima dan 1 Team Pal, dengan kekuatan keseluruhan 535 orang, dimana 1 Raipur terdiri dari 99 orang.

Kemudian berdasarkan Skep Kasad No : Skep/61/VI/1986 tentang perubahan TOP Yonarhanudri-3 Dam III/Slw yaitu menjadi Koyon, Raima dan 3 Raimer yang masing-masing terdiri dari Pokkorai, Tonwat dan 3 Tonmer dengan jumlah personel 593 orang. Selanjutnya berdasarkan ralat, keputusan Kasad No : Kep/61.a/V/1986 tanggal 17 Oktober 1989 diadakan perubahan jumlah Personel yang semula sesuai TOP berjumlah 593 orang diralat menjadi 591 orang dan TOP ini dipergunakan sampai dengan sekarang.

Pada tahun 1974 Yonarhanudri-3 masuk dalam jajaran Brigade Hanud-2 Kodam VI/Slw, dan pada saat itu pula peralatan pokok satuan dimodernisasi menjadi meriam 40 mm/L-70 yang dilengkapi dengan AKT radar P3SF dan PTL 50 KVA Bouscher dengan SMB 12,7 mm/DSHK dan senjata ringan yang semula jenis Junggle diganti Garand. Selanjutnya senjata ringan karena kebutuhan tugas operasi Timor-Timur diubah menjadi jenis SP-1, SP-2 dan SP-3 termasuk senjata genggam jenis FN-45 diubah menjadi Pistol jenis FN-46. Kemudian berdasarkan Surat Perintah Pangdam III/Slw No : Sprin/1004/IX/1990 tanggal 25 September 1990 senjata laras panjang diganti dengan jenis FNC ex Retrofit sebanyak 236 pucuk dan dipergunakan sampai dengan sekarang.

Penugasan

1. Penumpasan DI/TII.
Sejak didirikan sampai awal tahun 1962 Yon Arsu-3 telah mengambil bagian dalam pengamanan di wilayah Jawa Barat dalam operasi-operasi militer secara fisik. Satuan telah mengerahkan 1 Raipur untuk diperbantukan pada satuan lainya. Medan operasi dalam penumpasan gerombolan DI/TII S.M. Kartosuwiryo antara lain Daerah Banten, Bogor, Priangan Timur/Tasikmalaya, Priangan Barat, Ciawi dan Ciamis. Operasi dilaksanakan dengan sandi ” OPERASI PAGAR BETIS ”.

2. Tugas Operasi Mandala dalam Trikora.
Setelah tugas operasi penga manan Daerah Jawa Barat selesai maka berdasarkan Telegram Kasad No : TR-156/1962, maka mulai bulan Februari 1962 dengan dipimpin langsung oleh Danyon Mayor Art E. Achir, Yon Arsu-3 melaksanakan tugas Operasi Mandala dalam rangka pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda.

3. Operasi Tri Nanggala Yudha.
Berdasarkan Radiogram Panghanudad No:TR-121/SBB/Hanud/07/1964 diperintahkan satuan untuk melaksanakan tugas Operasi Tri Nanggala Yudha dengan menempati kedudukan di :
a) Rai-A di kuburan Pandu dan Cibuntu untuk melindungi Lanud Husein Sastranegara.
b) Rai-B di Buah Batu untuk melindungi PT Pindad.

4. Operasi Dwikora.
Mulai bulan September 1963 Yon Arsu-3 di samping menempati kedudukan pertahanan udara di sekitar Bandung juga mengirimkan pasukan ke garis depan. Sesuai Radiogram Men/Pangad No:TR-1818/1963 menugaskan 1 Ton 12,7 mm dalam operasi Lintas Bebas dipimpin oleh Lettu Art Masduki di daerah Kalimantan Timur peleton ini kembali pada tanggal 29-10-1964 dengan selamat.

Pada bulan Januari 1966 menugaskan 1 Ton 12,7 mm dalam operasi Lintas Bebas dipimpin oleh Capa W. Simanjuntak tergabung dalam Detasemen XII yang dipimpin lettu Art Mardowo di sekitar Kalimantan Barat (Singkawang, Sugai Ledo) sampai tanggal 30-11-1966

5. Penumpasan Pemberontakan G.30.S/PKI.
Dalam rangka memperingati Hari Jadi ABRI ke-20 di Jakarta, Satuan Arhanudri-3 diperintahkan untuk mengikutinya. Baterai Parade/Defile Arhanudri diberangkatkan ke Jakarta pada tanggal 28 September 1965 yang dipimpin oleh Letda Art Budi Prayitno.

Dengan meletusnya gerakan 30 september /PKI pada tanggal 30 September 1965 maka Baterai yang semula untuk parade dan defile HUT ABRI diubah statusnya menjadi Tugas Operasi Penumpasan G.30.S/PKI sesuai Surat Telegram Pangdam VI/Slw No:ST/1185-2/1965, penugasan ini berakhir dan kembali ke Home Base pada tanggal 16 Januari 1966.

6. Operasi Seroja di Timor-timur.
Pada Tanggal 3 Juni 1976 Rai Arhanudri 12,7 mm yang dimodifikasi dengan inti kekuatan Rai-Anoa di bawah Pimpinan Kapten Art Bambang Susenobroto NRP 23658 melaksanakan tugas selama 1 bulan di Bacau-Dili dengan Danton Letda Art Hasanudin, Letda Art Sularso dan Peltu M. Sing Karenu. Hasil-hasil operasi yaitu terbunuhnya/tertawannya puluhan musuh, rampasan senjata dan lain-lain, harus ditukar dengan gugurnya Koptu Iing Husein NRP 377693 dan tertembaknya Koptu Kusen Sukandar NRP 378132 sehingga yang bersangkutan menderita cacat seumur hidup.

Gerakan kedua yang menggantikan tugas dan posisi Baterai-Anoa adalah Baterai-Badak yang berangkat pada Bulan Maret 1977 dipimpin oleh Kapten Art J. Suprapto NRP 24402 dengan Danton Letda Art Ateng Kusnadi, Letda Art Ahmad Hidayat dan Peltu Suhadi. Hasil Operasi sama dengan Baterai terdahulu, namun Satuan harus kehilangan seorang prajurit muda usia yaitu Prada Santoso NBI 7656136839 pada tanggal 19-11-1977.

7. Tugas ICCS di Vietnam (Misi Garuda VI).
Sejumlah perwira Siliwangi ditugaskan ke Vietnam dalam rangka operasi Peace Keeping International Commite for Coordination and Supervision (ICCS) sebagai pelaksana persetujuan perdamaian di Vietnam yang ditandatangani di Paris pada tanggal 26-01-1973 dengan Komandan ICCS Letjen TNI HR. Darsono. Batalyon Arhanudri-3 mengirimkan salah satu perwiranya yaitu Letkol Art Gunawan S.F gugur pada saat helikopternya ditembak jatuh di Vietnam dan dimakamkan di TMP Cikutra Bandung.

8. Satgas Darat Rajawali ke Timor-Timur.
9. Satgas Ops Pemulihan Keamanan di Aceh.
10. Satgas Pam Horizontal Wilayah Maluku Utara.
a) Berdasarkan Surat Perintah Pangdam III/Slw No : Sp/1346/XI/2000 tanggal 2 November 2000 dalam tugas pengamanan wilayah konflik (Ops Kemanusiaan) Yonarmed-4 Dam III/Slw Tahun 2001, satuan mengirimkan personel BP dengan kekuatan satu peleton (37 orang) dipimpin Letda Art JP. Gurning menggunakan persenjataan organik dengan kerugian nihil.

b) Berdasarkan Surat Perintah Pangdam III/Slw Nomor : SP/343/IV/2002 tanggal 13 April 2002 dalam tugas pengamanan wilayah konflik (Ops Kemanusiaan) Yonarhanudse-14 Dam III/Slw Tahun 2002, Satuan mengirimkan personel BP dengan kekuatan satu kompi yaitu (144 orang) dipimpin lettu Art Rosadi menggunakan persenjataan organik dengan kerugian nihil.

c) Berdasarkan Surat Perintah Pangdam III/Slw No : SP/432/V/2003 tanggal 3 maret 2003 dalam tugas pengamanan wilayah konflik (Ops Kemanusiaan) Yonarmed-5 Dam III/Slw Tahun 2003, Satuan mengirimkan personel BP dengan kekuatan satu kompi (160 orang) dipimpin oleh Kapten Art Rina Kartika, menggunakan persenjataan organik dengan kerugian nihil.

d) Berdasarkan Surat Perintah Pangdam III/Slw No : SP/583/V/2005 tgl 13 Mei 2005 dalam tugas pengamanan wilayah konflik (Ops Kemanusiaan) Yonarhanudri-3 Dam III/Slw Tahun 2005 mengirimkan personel dengan kekuatan satu batalyon (488 orang) dipimpin oleh Letkol Art Hindro Martono serta satu Peleton personel BP dari Yonarhanudse-14 pimpinan Lettu Art Supangkat menggunakan persenjataan organik dengan hasil mendapatkan penghargaan predikat memuaskan dari Pangdam XVI/Ptm. [siliwangi.mil.id]

 

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

TERKINI