Balebandung.com – Sore itu pasukan Sumedang-Ukur bisa beristirahat. Peperangan terhenti segera setelah mereka nekad nyemplung ke rawa-rawa tadi. Ternyata orang-orang Kompeni masih berpikir panjang untuk menyerbu mereka dan bertempur di rawa-rawa. Dari segi apa pun memang tak ada perhitungan yang akan menghasilkan prediksi kemenangan ada di pihak Kompeni manakala mereka nekat menyerbu rawa-rawa. Belum lagi […]
Tag: Novel Dipati Ukur
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Sunda [36]: Jatina Nagara, Sarang Ular dan Buaya
Balebandung.com – Umbul Tarogong menyentak tali kekang kudanya, menerjang ke depan menyambut serbuan pasukan Kompeni. Golok panjang ramping yang digenggamnya mengarah ke depan, siap menembus tubuh musuh. Begitu tiba di tengah-tengah para penyerbu tangannya sibuk membabat, menusuk, menjatuhkan sekian banyak pasukan musuh dalam sekali gebrak. Dari sisi kanan Umbul Majalaya melompat menjatuhkan diri dari kuda […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Sunda [35]; Ini Hari Terbaik untuk Mati!
Balebandung.com – Pada sore Tumenggung Bahureksa mengirimkan carakanya ke Dipati Ukur, yang dituju tengah berkumpul bersama para pemimpin pasukannya. Tak seorang pun dari pimpinan pasukan yang alpa hadir waktu itu, kecuali beberapa Umbul yang telah perlaya. Ukur menerima caraka itu langsung di depan para anak buahnya. “Silakan, apa yang Tumenggung amanatkan padamu, ceritakan. Jangan kau […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Sunda [32]: Dari Ronin Sampai Pria Taucang Pelindung Benteng
Balebandung.com – Meski secara jarak Karawang-Batavia sudah dekat, pergerakan pasukan Sumedang-Ukur tak lagi seperti sebelumnya yang relatif cepat. Semakin ke Batavia justru gerakan pasukan lebih lambat dan penuh kehati-hatian. Ukur menghendaki mereka sebisa mungkin menghindari jalan terbuka yang membuat pasukan besar itu dengan mudah terlihat mata-mata musuh. Ia ingin kedatangan pasukan yang hendak menggempur Batavia […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Sunda [31]: Pasukan yang Menyerbu dalam Lapar
Balebandung.com – Pagi berikutnya, pasukan Sumedang-Ukur kembali bergerak. Dari Jayagiri mereka turun ke Subang, membelok ke kiri mengarah Purwakarta. Tengah hari berikutnya rombongan delapan ribu prajurit itu telah berada di tepian Dermaga Cimanuk, tempat kapal-kapal bertambat di Karawang. Di situlah titik pertemuan pasukan Sumedang-Ukur yang dipimpin Dipati Ukur dengan pasukan Mataram. Pasukan yang lewat laut […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Sunda [30]: Seperti Barisan yang Berangkat ke Bubat
Balebandung.com – Untuk penyerangan itu Dipati Ukur memerintahkan mobilisasi umum di seluruh Tatar Ukur dan Kawedanan Sumedang. Dimintanya Ki Somahita menambah wadya bala Sindangkasih. Meski tak semengerikan tabiat Sultan Agung saat menggerakkan perang, Ukur mengancam akan menghukum Ki Somahita bila pada kedatangan pimpinan perangnya nanti hanya membawa tambahan beberapa ratus prajurit. Ki Somahita memang dilarangnya pulang, […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Sunda [29]: Seorang Sengkuni dari Sindang Kasih
Balebandung.com – Sepekan kemudian pasukan Tatar Ukur dan Sumedang sudah terkumpul di Dayeuh Ukur, ibukota Tatar Ukur. Sengaja pengumpulan pasukan tidak dilakukan di Kutamaya, pusat Kawedanaan Sumedang, agar memudahkan beberapa umbul dan kandaga lante. Toh pada saatnya bergerak mereka juga akan memasuki wilayah Sumedang, sebelum bergabung dengan pasukan Tumenggung Bahureksa dari Mataram di Karawang. Ribuan […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [28]: Tugas Hidup Mati Nyimas Utari
Balebandung.com – Sebenarnya, selain mengutus Aria Wirasaba untuk membangun jaringan logistik, tiga tahun kemudian Sultan Agung pun telah mengutus ‘pasukan’ lain secara diam-diam memasuki Batavia. Itu terjadi pada tahun 1627. Tugasnya sederhana, pelaksanaannya yang mempertaruhkan jiwa raga, hidup-mati: membunuh Murjangkung sekeluarga! Saat itu Kanjeng Sultan meminta pimpinan lembaga telik sandinya Dom Sumuruping Mbanyu [1], Raden […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Sunda [27]: Telik Sandi Mataram Masuk Caravam
Balebandung.com – Saat pagi itu Murjangkung membuka jendela kamarnya, ia tahu dirinya sudah mulai berhadapan dengan hari yang buruk. Bau busuk dari sungai kecil yang penuh lumpur serta bangkai aneka binatang buangan seperti kucing dan anjing, segera menyergap lubang hidungnya. Belum lagi ruap tahi kering yang ia lihat teronggok hanya selangkah dari jendelanya, menguar karena […]
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
