Balebandung.com – Meski secara jarak Karawang-Batavia sudah dekat, pergerakan pasukan Sumedang-Ukur tak lagi seperti sebelumnya yang relatif cepat. Semakin ke Batavia justru gerakan pasukan lebih lambat dan penuh kehati-hatian. Ukur menghendaki mereka sebisa mungkin menghindari jalan terbuka yang membuat pasukan besar itu dengan mudah terlihat mata-mata musuh. Ia ingin kedatangan pasukan yang hendak menggempur Batavia […]
Tag: Ukur
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Sunda [31]: Pasukan yang Menyerbu dalam Lapar
Balebandung.com – Pagi berikutnya, pasukan Sumedang-Ukur kembali bergerak. Dari Jayagiri mereka turun ke Subang, membelok ke kiri mengarah Purwakarta. Tengah hari berikutnya rombongan delapan ribu prajurit itu telah berada di tepian Dermaga Cimanuk, tempat kapal-kapal bertambat di Karawang. Di situlah titik pertemuan pasukan Sumedang-Ukur yang dipimpin Dipati Ukur dengan pasukan Mataram. Pasukan yang lewat laut […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Sunda [30]: Seperti Barisan yang Berangkat ke Bubat
Balebandung.com – Untuk penyerangan itu Dipati Ukur memerintahkan mobilisasi umum di seluruh Tatar Ukur dan Kawedanan Sumedang. Dimintanya Ki Somahita menambah wadya bala Sindangkasih. Meski tak semengerikan tabiat Sultan Agung saat menggerakkan perang, Ukur mengancam akan menghukum Ki Somahita bila pada kedatangan pimpinan perangnya nanti hanya membawa tambahan beberapa ratus prajurit. Ki Somahita memang dilarangnya pulang, […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Sunda [29]: Seorang Sengkuni dari Sindang Kasih
Balebandung.com – Sepekan kemudian pasukan Tatar Ukur dan Sumedang sudah terkumpul di Dayeuh Ukur, ibukota Tatar Ukur. Sengaja pengumpulan pasukan tidak dilakukan di Kutamaya, pusat Kawedanaan Sumedang, agar memudahkan beberapa umbul dan kandaga lante. Toh pada saatnya bergerak mereka juga akan memasuki wilayah Sumedang, sebelum bergabung dengan pasukan Tumenggung Bahureksa dari Mataram di Karawang. Ribuan […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [28]: Tugas Hidup Mati Nyimas Utari
Balebandung.com – Sebenarnya, selain mengutus Aria Wirasaba untuk membangun jaringan logistik, tiga tahun kemudian Sultan Agung pun telah mengutus ‘pasukan’ lain secara diam-diam memasuki Batavia. Itu terjadi pada tahun 1627. Tugasnya sederhana, pelaksanaannya yang mempertaruhkan jiwa raga, hidup-mati: membunuh Murjangkung sekeluarga! Saat itu Kanjeng Sultan meminta pimpinan lembaga telik sandinya Dom Sumuruping Mbanyu [1], Raden […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Sunda [27]: Telik Sandi Mataram Masuk Caravam
Balebandung.com – Saat pagi itu Murjangkung membuka jendela kamarnya, ia tahu dirinya sudah mulai berhadapan dengan hari yang buruk. Bau busuk dari sungai kecil yang penuh lumpur serta bangkai aneka binatang buangan seperti kucing dan anjing, segera menyergap lubang hidungnya. Belum lagi ruap tahi kering yang ia lihat teronggok hanya selangkah dari jendelanya, menguar karena […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [26]: Bule Jorok Keturunan Pajajaran
Balebandung.com – Pada tahun itu pula Ukur menuntaskan masa perjakanya. Ia menikah. Seorang dara putri Prabu Geusan Ulun bernama Nyai Nonon Saribanon menjadi istrinya[1]. Setelah menikah, Nyai Saribanon pun dipanggil sebagai Nyimas Ukur. Ukur memang pemuda pemalu. Sifat itu serta kesibukannya membuat Ukur disebut-sebut tak pernah mengalami masa-masa pacaran. Barangkali karena bingung, mau nonton dimana […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [25]: Di Tanah Jawa Haram Ada Dua Matahari
Balebandung.com – Tubuh Ukur ringan saja melompati benteng Kabupaten meski di bahunya sebatang mayat tambun memberatinya. Bila saat itu ia tengah berada di daratan Tiongkok, tentu orang-orang yang menonton akan menyebutnya memiliki ilmu ginkang yang sempurna, hingga nyaris seolah bisa terbang. Lepas halaman Pendopo Kabupaten, Ukur kini berada di perkampungan yang sarat dengan rumah-rumah sangat […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [24]: Seorang Bupati Pemelihara Rawa Rontek
Balebandung.com – Esoknya sebagaimana waktu yang ia janjikan, pecat sawed, Ukur telah berdiri di Balairung Kabupaten Tatar Ukur. Ukur sempat merasakan keganjilan manakala tadi bisa masuk begitu saja ke halaman Pendopo, hingga kini ia berada di balairung. Para penjaga membiarkannya masuk begitu saja, seolah ada perintah dari Bupati Sutapura untuk membiarkannya. Justru hal seperti itu membuat […]
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
