Bale Bandung

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [2]

×

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [2]

Sebarkan artikel ini
meski mereka hanya tertawa, namun dari mata mereka Ukur tahu, bahkan kalau pun Bupati Sutaputa perlaya dibunuh , mereka tak keberatan
Illustrasi karya Gerdi Wirata Kusuma

–Setelah jatuhnya Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang mencoba menolak penjajahan, dipimpin seorang bernama Dipati Ukur.–

Balebandung.com – Keberatan dengan bobot tubuhnya, kerbau gila itu memerlukan waktu cukup lama untuk kembali berdiri. Sementara si pemuda dengan santai kembali memasang kuda-kuda, menunggu. Manakala merasa sudah ajek menapak tanah, si kerbau segera menyerang pemuda itu. Kali ini lebih kalap, seolah jadi babi buta.

Tapi si pemuda sejak tadi memang sudah menantikan serangan tersebut. Ketika tanduk kerbau itu menunduk untuk mencungkil selangkangannya, tangan pemuda itu menepis tanduk, membuatnya menjadi semacam pijakan seraya melompat menyamping ke atas punggung kerbau.

Sekejap kerbau itu sudah ditungganginya. Sambil mencondongkan badan ke depan, tangan kiri si pemuda terentang ke belakang, meraih ekor kerbau tersebut. Setelah ekor itu terasa tergenggam di jemarinya, dilipatnya ekor itu sebelum diremasnya kuat-kuat, yang membuat kerbau itu serta merta berlari cepat.

Tangan kanan si pemuda tak ongkang-ongkang. Diraihnya tanduk kerbau dan diperlakukannya bagai tali kekang untuk mengarahkan kemana kerbau itu berlari. Meski menghambur kesetanan, laju kerbau itu kini sedikit terarah. Sesekali orang-orang yang sejak tadi berdesakan di pinggir alun-alun kerajaan Mataram menonton peristiwa itu, berteriak ketakutan setiap kali kerbau itu seperti hendak melabrak mereka sebelum dibelokkan si pemuda.

Si pemuda sendiri kini seolah menikmati kelakuannya di atas punggung kerbau. Sesekali diremasnya ekor yang terlipat itu lebih keras. Selalu, kerbau gila itu meresponsnya dengan berlari tunggang langgang lebih kencang lagi. Atraksi itu tak urung mendapat tanggapan meriah orang-orang seputaran alun-alun. Tepuk tangan membahana mengagumi kelihaian si pemuda.

Baca Juga  Dukungan Pemekaran Bandung Timur Meluas

Tiba-tiba semacam kesadaran melintas di benak si pemuda. “Tidak pada tempatnya aku menyiksa binatang ini,” pikirnya. “Toh Sinuhun pasti memintaku membunuh kerbau ini karena sudah tak mungkin lagi dijinakkan.” Kini si pemuda merasa kelakuannya itu tak layak bagi seorang ksatria seperti dirinya. Mempermainkan hewan, apalagi yang jelas-jelas segera menuju kematian.

Hanya perlu beberapa detik berpikir sebelum tekad pemuda itu bulat. Sejak awal memang Sinuhun Kerajaan Mataram, Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo, memintanya menaklukkan kebo edan itu. Kerbau jantan, besar dan kokoh yang sebelumnya sama sekali bukan kerbau gila. Kerbau itu dibuat gila agar sempurna untuk lawan uji coba dirinya.

Dari sisi itu saja sebenarnya sudah cukup pemuda itu bisa berpikir bahwa si kerbau itu benar-benar dizalimi: dibuat gila untuk diadu, kemudian mau tak mau harus dibunuh karena tak mungkin lagi disembuhkan dari kegilaan.

Pemuda itu ingat, kata menaklukkan dalam terma pribadi Sang Sultan tak pernah lain kecuali membunuh, menghancurkan, membuat lawan-lawannya sirna tanpa daya, bahkan jika perlu sampai keturunanan yang akan menjadi penerus lawannya itu.

Itu artinya ketika Sultan memintanya menaklukkan kerbau gila tersebut sebagai uji coba kedigjayaannya, Sang Sultan jelas-jelas memintanya membunuh, bukan menjinakkan kerbau itu untuk kembali menjadi hewan ternak buat bantu-bantu mengerjakan sawah.

Tak pernah terdengar cerita Sang Sultan berlaku setengah hati dalam hal ini. Seperti juga ketika Sultan memerintahkan seorang senapati Mataram untuk membunuh utusan Kompeni alias VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) Belanda, Jacob van der Marct, yang diutus Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen, penguasa Batavia yang lebih dikenal dengan sebutan Murjangkung.

Van der Marct ditugaskan berangkat ke Jepara untuk membeli beras bagi keperluan VOC. Tugas itu tentu dengan mudah diselesaikannya. Yang membuat Mataram gusar, dengan dalih membalas serangan Mataram pada kantor dagang VOC di Jepara, 18 Agustus 1618, atau sekitar tiga bulan sebelumnya, Van der Marct setelah itu menghancurkan kantor dagang Mataram di Pelabuhan Jepara. Rumah-rumah di sekitar kantor dagang itu dibakar hingga luluh lantak.

Baca Juga  Dipati Ukur , Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [10] : Kumeok Memeh Dipacok

Sedikitnya 30 orang Jawa terbunuh dalam insiden penyerangan oleh 160 personel pasukan VOC tersebut. Sultan Agung murka karena pada insiden itu puluhan perahu Jung Mataram yang tengah merapat di Jepara dan Demak dibakar, setelah beras muatannya dirampok pasukan Kompeni. [Bersambung/gardanasional.id]

http://www.balebandung.com/dipati-ukur-pahlawan-anti-kolonisasi-pasundan-1/

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Wakil Bupati Bandung Ali Syakieb menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bandung di Gedung DPRD Kabupaten Bandung, Senin (9/3/2026). Rapat Paripurna ini dengan agenda penyampaian Laporan Hasil Kerja Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) terkait usulan pembahasan serta penandatanganan keputusan DPRD mengenai Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) di luar Program Pembentukan Peraturan Daerah (Propemperda) Tahun […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Wakil Bupati Bandung Ali Syakieb menyambut kedatangan delegasi Studi Strategis Dalam Negeri (SSDN) P4N Angkatan 69 dari Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) di Ruang Rapat Sekretaris Daerah Kabupaten Bandung, Senin (9/3/2026). Kunjungan tersebut menjadi forum strategis bagi para peserta pendidikan calon pemimpin nasional untuk menggali secara langsung dinamika pembangunan daerah serta kondisi ketahanan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – PT Geo Dipa Energi (Persero) kembali menyelenggarakan Safari Ramadhan 1447 H dengan memberikan bantuan sembako sebanyak 10.115 paket di Dieng dan Patuha. Selain bantuan paket sembako tesebut, GeoDipa juga turut memberikan santunan kepada 404 anak yatim dan kurang mampu, sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan. Paket sembako tersebut diberikan untuk 16 Desa, […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna memastikan para Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja Paruh Waktu (P3KPW) akan segera menerima Tunjangan Hari Raya (THR) Idul Fitri 2026. Pemkab Bandung telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 12 miliar untuk membayar THR bagi 7.550 P3K PW. Mereka terdiri P3K PW Guru dan Tenaga Kependidikan yang berjumlah 4.320 orang, […]

Bale Bandung

PANGALENGAN, balebandung.com – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Bandung kembali menyalurkan paket bekal ibadah Ramadan kepada masyarakat yang membutuhkan. Kali ini, penyaluran dilaksanakan di Kampung Kasepen, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Senin 9 Maret 2026. Penyaluran paket tersebut dilakukan langsung Ketua BAZNAS Kabupaten Bandung, Yusuf Ali Tantowi, yang secara simbolis menyerahkan bantuan kepada […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Kepala Bapperida Kabupaten Bandung, Marlan, menghadiri kegiatan Safari Ramadan 2026 yang digelar PT Geo Dipa Energi (Persero) di Grand Sunshine Soreang, Kamis 5 Maret 2026. Mengusung tema “Terus Berbenah, Memperbaiki Diri, dan Menjalankan Amanah”, kegiatan ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen dalam menjalankan tanggung jawab, baik sebagai individu maupun sebagai bagian […]