Bale Kota BandungOlahraga

14 Venue PON XIX di Kota Bandung Siap Pakai

Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung Dedi Sopian saat Bandung Menjawab tetnang persiapan sarana dan prasarana PON XIX, di Ruang Media Balai Kota Bandung, Kamis (21/7). by Humas Kota Bandung
Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung Dedi Sopian saat Bandung Menjawab tetnang persiapan sarana dan prasarana PON XIX, di Ruang Media Balai Kota Bandung, Kamis (21/7). by Humas Kota Bandung

BANDUNG –¬†Perjalanan menuju PON XIX di Jawa Barat tinggal menghitung hari. Kota Bandung sebagai salah satu tuan rumah yang memiliki jumlah venue pertandingan terbanyak semakin menggenjot persiapan untuk menyambut para delegasi atlet dari seluruh Indonesia.

Sebanyak 27 cabang olahraga di 14 tempat akan dipertandingkan di ibu kota Provinsi Jawa Barat ini. Belum lagi perbaikan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) menuju persiapan pembukaan PON XIX juga tengah dimaksimalkan. Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Dedi Sopian optimis persiapan sarana dan prasarana PON XIX akan selesai tepat waktu.

“Jangan khawatir, kita sudah siapkan. Semuanya on schedule,” ucap Dedi dalam Bandung Menjawab di Ruang Media Balai Kota Bandung, Kamis (21/7/16).

Dedi menyebutkan titik-titik venue pertandingan PON XIX Jawa Barat di Kota Bandung yang tengah dipersiapkan antara lain Komplek Universitas Pendidikan Indonesia, Komplek Militer Kodam, hotel-hotel, Sabuga, dan fasilitas milik Pemerintah Kota Bandung, seperti GOR Padjadjaran, Taman Maluku, Stadion Persib, dan Stadion GBLA.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Dasep Ruswana, yang sekaligus sebagai Koordinator Venue Sub-PB PON XIX Kota Bandung. Ia menjabarkan pada prinsipnya seluruh arena dan lapangan pertandingan sudah siap digunakan. Hanya saja, masih perlu penyempurnaan pada fasilitas penunjang.

“Cabang lain prinsipnya mereka tempat pertandingan sudah siap. Tinggal sarana-sarana pendukung,” ucap Dasep. Sarana pendukung yang dimaksud antara lain sarana kesehatan, ruang tunggu, ruang dopping, dan ruang ganti. “Itu kan masih bisa berjalan,” tambah Dasep.

Demikian pula dengan Stadion GBLA yang menjadi ikon Pembukaan PON XIX Jawa Barat. Fasilitas-fasilitas penunjang, seperti kamar mandi, saluran air, listrik dan parkir sedang dalam pengerjaan. Dasep menjelaskan, kondisi gedung yang lama dibiarkan akibat status quo yang sempat dijatuhkan pada GBLA menyebabkan beberapa fasilitas menjadi rusak dan tidak terawat.

“Pipa-pipa air, contohnya, itu menjadi korosi karena lama tidak dipakai. Beberapa blok kamar mandi tidak mengalir airnya. Lampu-lampu juga banyak yang mati,” jelas Dasep. Ia menyebutkan, biaya perbaikan GBLA mencapai Rp 4,6 miliar.

Selain GBLA, ada pula venue pertandingan yang saat ini akan dimulai perbaikan, yakni cabang olahraga tenis lapangan di Taman Maluku dan kriket di Stadion Siliwangi. Dasep menjelaskan, proses perbaikan akan memakan waktu maksimal 40 hari. Pihaknya tidak khawatir pengerjaannya akan terlambat. Ia sudah menghimbau agar perwakilan tiap-tiap Panitia Pelaksana Cabang Olahraga mengawasi pengerjaan venue.

“Untuk mengawasi itu dari pihak panpel cabor yang bersangkutan dan dari pihak kita juga itu nongkrong setiap hari. Agar speknya tidak meleset,” ujar Dasep. Hal ini untuk mengantisipasi agar selama perbaikan tidak terjadi kesalahan yang dapat menghambat waktu pengerjaan. “Kami himbau kepada mereka agar terus mendampingi,” lanjutnya.

Masalah yang sebagian besar muncul pada saat perbaikan venue pertandingan adalah terlambatnya pengiriman barang yang didatangkan dari luar negeri. Hal ini salah satunya terjadi pada cabang olahraga squash. Ketua Panpel Cabor Squash, Nuryadi mengatakan dari 4 lapangan, tinggal satu lapangan lagi yang belum rampung diperbaiki. Hal ini karena kaca yang didatangkan langsung dari Jerman untuk pertandingan ini belum sampai pengirimannya.

“Kita kan ingin kualitas venue-nya berstandar internasional. Jadi, beberapa barang ada yang terpaksa harus didatangkan dari luar negeri,” timpal Nuryadi.

Disampaikan Nuryadi, untuk mendatangkan barang dari luar negeri memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Ada pula yang harus memesan dari jauh-jauh hari baru bisa dibuatkan atau dikirim. Beberapa ada pula yang terkendala di pengiriman.

“Ada yang barangnya tertahan di pelabuhan. Setelah diurus baru bisa dikirim,” kata dia. Hal inilah yang terkadang menjadi kendala lamanya proses persiapan venue pertandingan. Namun ia tetap optimis pada pelaksanaannya semua akan berjalan lancar.

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close