SOREANG, balebandung.com — Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) PCNU Kabupaten Bandung menggelar forum Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Barokatul Waalidain Al Mumtaz, Desa Panyirapan, Kecamatan Soreang, Minggu (10/5/2026).
Forum yang dihadiri para kiai dan pengurus NU tersebut secara khusus membahas fikih kurban menjelang Hari Raya Idul Adha, mulai dari syarat hewan, ketentuan syariat, hingga edukasi bagi panitia pelaksana qurban di masyarakat.
Pimpinan Pondok Pesantren Barokatul Waalidain Al Mumtaz, Kiai Rouf, menyambut langsung kehadiran jajaran ulama dan pengurus NU Kabupaten Bandung. Ia berharap kegiatan tersebut membawa keberkahan bagi pesantren dan masyarakat sekitar.
Sementara itu, Sekretaris PCNU Kabupaten Bandung, KH Imron Rosyadi, yang hadir mewakili Ketua Tanfidziyah, menyoroti pentingnya penguatan dakwah digital di lingkungan NU.
Menurutnya, hasil-hasil Bahtsul Masail yang strategis perlu dikemas melalui media informatika agar lebih mudah dipahami masyarakat luas.
“Kegiatan Bahtsul Masail jangan berhenti di forum saja. Hasilnya harus bisa diakses masyarakat melalui media digital dengan bahasa yang mudah dipahami,” ujarnya.
Ketua LBMNU Kabupaten Bandung, Kiai Kholis Ma’mun atau yang akrab disapa A’ Yuyun, menjadi pemateri utama dalam forum tersebut. Diskusi dipandu Kiai Muda Kasyful Haromain dari Pesantren Nahdlatul Falah Pacet.
Dalam pemaparannya, Kiai Kholis menekankan pentingnya pemahaman ilmu fikih sebelum menjalankan ibadah qurban. Ia menilai masih banyak masyarakat yang menjalankan praktik ibadah hanya berdasarkan kebiasaan tanpa memahami dasar hukumnya.
“Kebiasaan yang jamak di kalangan kita adalah melakukan sesuatu tanpa ngaji dulu. Padahal, melakukan sesuatu tanpa ilmu bisa menyebabkan celaka. Idealnya al-amalu ba’dal ilmi, beramal setelah berilmu,” tegasnya.
Forum tersebut juga membahas sejumlah poin penting terkait hukum kurban, di antaranya status hukum udhiyah menurut para ulama, kriteria usia hewan kurban, serta syarat kesehatan dan kelayakan hewan sembelihan.
LBMNU Kabupaten Bandung berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pedoman bagi shohibul qurban maupun panitia pelaksana di masjid dan lingkungan masyarakat.
“Kami ingin memastikan ibadah qurban berjalan sesuai syariat, mulai dari pemilihan hewan hingga proses penyembelihan. Itulah pentingnya ilmu sebelum beramal,” pungkas Kiai Kholis.***







