Bale Bandung

Si Jalak Harupat (7): Rumah yang Jarang Sepi

×

Si Jalak Harupat (7): Rumah yang Jarang Sepi

Sebarkan artikel ini

balebandung.com- Nama Oto Iskandar di Nata semakin dikenal di berbagai daerah. Aktivitas organisasinya bertambah. Undangan rapat datang hampir setiap minggu. Perjalanan ke luar kota menjadi bagian dari rutinitas. Namun di balik kehidupan politik yang semakin sibuk, ada satu dunia lain yang jarang dibicarakan orang: keluarganya.

Rumah Oto tidak pernah benar-benar sepi. Tamu datang silih berganti. Ada yang membawa persoalan organisasi, ada yang meminta bantuan, ada pula yang sekadar ingin berdiskusi. Kadang percakapan berlangsung hingga larut malam. Ketika sebagian besar rumah di Bandung mulai mematikan lampu, ruang tamu rumah Oto masih dipenuhi suara pembicaraan.

Kehidupan seperti itu perlahan menjadi bagian dari keseharian keluarganya. Bagi banyak tokoh pergerakan, rumah bukan hanya tempat tinggal. Rumah juga menjadi kantor, ruang rapat, tempat bertukar gagasan, sekaligus tempat menerima tamu dari berbagai daerah. Kondisi serupa terjadi di rumah Oto. Politik dan kehidupan keluarga sering kali bercampur dalam ruang yang sama.

Kesibukan itu membuat waktunya bersama keluarga tidak selalu sebanyak yang diinginkan. Ada kalanya ia harus berangkat pagi dan pulang larut malam. Ada kalanya perjalanan organisasi membuatnya berada di luar kota selama beberapa hari. Namun di tengah kesibukan tersebut, keluarga tetap menjadi tempat ia kembali.

Di mata publik, Oto dikenal sebagai pembicara yang tegas dan sulit mundur ketika memperjuangkan pendapatnya. Di rumah, suasananya berbeda. Ia bisa bercanda dengan anak-anak, berbincang santai dengan keluarga, atau mendengarkan cerita sederhana yang tidak ada hubungannya dengan politik.

Sisi itulah yang jarang muncul dalam buku sejarah. Kebanyakan orang mengenal Oto melalui pidato, organisasi, atau aktivitas politiknya. Padahal seperti banyak tokoh lain, kehidupannya tidak hanya berisi rapat dan perdebatan. Ada keluarga yang ikut menanggung konsekuensi dari setiap keputusan yang diambilnya.

Semakin besar nama Oto, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul. Setiap kali menerima tugas baru, waktunya untuk keluarga berkurang. Setiap kali organisasi berkembang, jadwal perjalanannya bertambah. Tidak ada yang mengeluh secara terbuka, tetapi semua orang di rumah memahami bahwa hidup mereka tidak lagi sama seperti keluarga lain.

Perubahan itu semakin terasa ketika aktivitas politik di Hindia Belanda memasuki fase baru. Pemerintah kolonial mulai menghadapi tekanan dari berbagai organisasi pergerakan. Perdebatan tentang masa depan negeri ini semakin sering terdengar. Di berbagai kota, orang-orang mulai berbicara tentang hak politik, pendidikan, dan pemerintahan sendiri.

Oto berada di tengah arus perubahan tersebut. Hampir setiap hari ia bertemu tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang. Ada yang datang membawa gagasan besar tentang masa depan bangsa. Ada yang lebih fokus pada pendidikan. Ada pula yang melihat perjuangan politik sebagai jalan utama untuk mengubah keadaan. Perbedaan pendapat sering terjadi, tetapi satu hal mulai semakin jelas: Hindia Belanda sedang bergerak menuju masa yang tidak pernah dibayangkan generasi sebelumnya.

Perubahan itu juga terasa di rumah. Anak-anak tumbuh dalam suasana yang berbeda dibanding masa kecil ayah mereka. Nama Oto semakin dikenal. Orang-orang yang datang berkunjung bukan lagi hanya warga setempat, melainkan tokoh organisasi, wartawan, dan aktivis dari berbagai daerah. Tanpa disadari, rumah itu menjadi saksi lahirnya banyak gagasan yang kelak memengaruhi perjalanan bangsa.

Namun kehidupan keluarga tidak selalu berjalan mulus. Ada saat-saat ketika kepentingan organisasi berbenturan dengan kebutuhan rumah tangga. Ada waktu yang tidak bisa diulang. Ada peristiwa keluarga yang terlewat karena tugas yang dianggap lebih mendesak. Dilema semacam itu bukan hanya dialami Oto, tetapi hampir semua tokoh pergerakan pada zamannya.

Pertanyaannya sederhana: sampai sejauh mana seseorang harus mengorbankan kehidupan pribadi demi cita-cita yang lebih besar? Oto tidak pernah menjawab pertanyaan itu melalui pidato. Ia menjawabnya melalui pilihan-pilihan yang diambil setiap hari.

Di mata sebagian orang, hidupnya terlihat berhasil. Organisasi berkembang. Pengaruhnya meluas. Namanya semakin dikenal. Namun keberhasilan itu memiliki harga yang tidak selalu terlihat dari luar. Semakin tinggi tanggung jawab yang dipikul, semakin sedikit ruang untuk menjalani kehidupan yang tenang.

Meski demikian, keluarga tetap menjadi sumber kekuatan yang membuatnya terus bergerak. Di tengah kesibukan yang tidak pernah berhenti, rumah menjadi tempat untuk kembali menenangkan pikiran sebelum menghadapi perdebatan, rapat, dan perjalanan berikutnya.

Tahun-tahun berikutnya membawa perubahan yang lebih besar lagi. Situasi politik bergerak semakin cepat. Peristiwa-peristiwa yang sebelumnya sulit dibayangkan mulai terjadi. Dunia yang selama puluhan tahun berada di bawah kekuasaan Belanda perlahan bergerak menuju babak baru.

Dan ketika perubahan itu akhirnya datang, Oto Iskandar di Nata berada di tengah pusarannya.*** bersambung

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Paduan suara FatNU Voice yang diinisiasi Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Bandung melalui Bidang Seni dan Budaya tampil perdana dalam Upacara Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Kabupaten Bandung di Lapang Upakarti, Soreang, Kamis (22/10/2026). Kehadiran FatNU Voice menjadi langkah awal PC Fatayat NU Kabupaten Bandung dalam mengembangkan potensi kader perempuan […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Polresta Bandung menggelar operasi penindakan premanisme dan pelanggaran penyakit masyarakat di wilayah Kecamatan Banjaran dan Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, Kamis (22/10/2026). Dalam kegiatan yang berlangsung mulai pukul 11.00 hingga 17.00 WIB tersebut, petugas mengamankan 21 orang yang diduga melakukan aktivitas berkedok pedagang asongan, juru parkir liar, dan pak ogah, serta menyita sebanyak […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Sebagai bentuk komitmen dalam membangun generasi Qur’ani, BAZNAS Kabupaten Bandung turut mendukung kesejahteraan 1.012 guru ngaji melalui program bisyarah BAZNAS. Dukungan ini menjadi wujud kepedulian terhadap para pendidik Al-Qur’an yang selama ini berperan penting dalam membimbing anak-anak dan masyarakat mempelajari kitab suci. Di tengah besarnya tantangan pendidikan keagamaan, keberadaan guru ngaji menjadi […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 menjadi momentum memperkuat peran santri sebagai calon pemimpin bangsa, penjaga nilai-nilai keislaman, dan benteng moralitas masyarakat Indonesia. BAZNAS Kabupaten Bandung menegaskan komitmennya mendukung kemajuan santri melalui penguatan pendidikan, kepedulian sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat. Komitmen tersebut disampaikan Ketua BAZNAS Kabupaten Bandung, Dr. Yusuf Ali Tantowi, Lc., […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung KDS mendorong sekitar 160.000 santri di Kabupaten Bandung untuk meningkatkan kapasitas diri, berani tampil, dan mengambil peran strategis dalam pembangunan. Santri dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin, pengusaha, aparat negara, hingga profesional yang berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Pesan tersebut disampaikan KDS saat menghadiri Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-11 […]

Bale Bandung

MAJALAYA, balebandung.com – Sebanyak 11 perusahaan menyediakan lebih dari 300 lowongan kerja dalam Job Fair ke-4 Tahun 2026 yang digelar Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bandung bersama SMKN 1 Majalaya, Rabu (21/10/2026). Bursa kerja ini menjadi kesempatan bagi pencari kerja untuk mengakses peluang rekrutmen sekaligus mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja. Ratusan pencari kerja dari Majalaya […]