balebandung.com – Tahun 1942 menjadi titik balik bagi Hindia Belanda. Dalam waktu singkat, pemerintahan kolonial yang selama puluhan tahun menguasai Nusantara runtuh setelah Jepang masuk. Perubahan itu mengguncang hampir seluruh kehidupan politik, termasuk jaringan organisasi yang selama ini menjadi ruang perjuangan Oto Iskandar di Nata.
Selama bertahun-tahun Oto bergerak melalui pendidikan, organisasi, dan politik. Ia mengenal cara kerja pemerintahan kolonial sekaligus memahami keterbatasan yang dihadapi kaum bumiputra. Ketika Belanda tumbang, ruang gerak yang sebelumnya tertutup mulai terbuka.
Jepang datang dengan slogan Asia untuk bangsa Asia. Sebagian tokoh pergerakan melihatnya sebagai peluang, sebagian lain memilih berhati-hati. Pengalaman hidup di bawah kolonialisme membuat mereka sadar bahwa setiap kekuasaan selalu membawa kepentingannya sendiri.
Di berbagai kota, perubahan berlangsung cepat. Simbol-simbol Belanda diturunkan. Struktur pemerintahan disesuaikan. Organisasi-organisasi mencari cara bertahan dalam situasi baru yang belum sepenuhnya mereka pahami.
Oto tetap aktif berhubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan dari berbagai daerah. Pertemuan berlangsung untuk membahas masa depan Indonesia dan kemungkinan yang dapat muncul dari perubahan politik yang sedang terjadi. Untuk pertama kalinya, pembicaraan tidak lagi berkisar pada perbaikan nasib bumiputra di bawah pemerintahan kolonial, tetapi tentang bagaimana bangsa ini akan mengatur dirinya sendiri.
Perdebatan berlangsung panjang. Pendidikan, pemerintahan, hubungan pusat dan daerah, hingga bentuk negara menjadi bahan pembicaraan. Tidak semua tokoh memiliki pandangan yang sama, tetapi mereka sepakat bahwa masa depan Indonesia harus dipersiapkan sejak sekarang.
Bagi Oto, perjuangan memasuki babak baru. Selama ini ia dikenal sebagai tokoh organisasi, pendidik, dan juru bicara kepentingan rakyat. Kini perhatian para pemimpin pergerakan mulai tertuju pada satu tujuan yang lebih besar: kemerdekaan.
Situasi perang membuat semua rencana berjalan dalam ketidakpastian. Kabar dari luar negeri berubah dari waktu ke waktu. Tidak ada yang tahu kapan perang akan berakhir atau bagaimana nasib Jepang. Namun pembicaraan tentang Indonesia merdeka semakin sering terdengar di berbagai forum.
Nama-nama yang kelak tercatat dalam sejarah mulai terlibat dalam pertemuan-pertemuan penting. Oto berada di antara mereka. Pengalamannya dalam organisasi dan politik membuat pandangannya diperhitungkan, terutama ketika pembahasan menyangkut hubungan antara pemerintah dan masyarakat.
Perjalanan panjang yang dimulai dari ruang kelas, organisasi Sunda, hingga Volksraad membawanya ke fase yang berbeda. Untuk pertama kalinya, kemungkinan lahirnya sebuah negara merdeka tidak lagi terdengar sebagai cita-cita yang terlalu jauh.
Di berbagai daerah, semangat yang sama mulai tumbuh. Orang-orang membicarakan masa depan dengan cara yang berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya. Kemerdekaan belum diumumkan, tetapi gagasannya sudah menyebar ke mana-mana.
Oto memahami bahwa kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali. Karena itu ia memilih tetap berada di tengah proses yang sedang berlangsung. Perdebatan boleh berbeda, strategi boleh berubah, tetapi tujuannya semakin jelas.
Indonesia sedang bergerak menuju sebuah babak baru, dan Oto Iskandar di Nata ikut berada di dalamnya.*** bersambung







