Bale Bandung

Surga Tersembunyi di Pelosok Desa Drawati

×

Surga Tersembunyi di Pelosok Desa Drawati

Sebarkan artikel ini
Kolam Air Campaka di kaki Gunung Kasur Desa Drawati Kec Paseh, Kab Bandung. by ist
Kolam Air Campaka di kaki Gunung Kasur Desa Drawati Kec Paseh, Kab Bandung. by ist

PASEH – Kolam Air Campaka di kaki Gunung Kasur seakan jadi surga tersembunyi di penjuru Desa Drawati Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung. Gemercak air yang jatuh menimpa batu terdengar riuh. Air bening yang dialirkan langsung dari mata air Campaka, ditampung dalam kolam seluas 5×6 meter dengan kedalaman 20 – 150 centimeter.

Jernihnya air kolam, membuat dasar kolam terlihat dengan mata telanjang. Di dasarnya terlihat batu berbentuk gentong terbalik yang konon dibuat serupa dengan gentong yang berada di makam keramat Kp. Cijagra yang letaknya berada tak jauh dari sana.

Terlihat tiga wanita yang berusia sekitar 30-an asyik bermain air di pinggiran kolam sambil memandangi panorama Tatar Priangan. Ya, letak kolam yang berada di lereng pegunungan menyuguhkan lanskap perkampungan, dan hamparan sawah yang seperti karpet permadani berwarna hijau.

Aroma hutan yang khas membuat siapapun betah untuk membunuh waktu di sana. Seperti yang dilakukan Cucu (60), warga sekitar.”Saya dulu pernah ke sini belasan tahun yang lalu. Saya baru tahu kalau sekarang sudah dibuat seperti ini, sangat nyaman sekali,” ujar Cucu (47), Jumat (24/11).

Tidak sendiri, Cucu datang ke kolam mata air itu bersama dua teman dan satu cucunya. Di kolam itu mereka berenang sekitar 30 menit. “Airnya juga dingin,” ucapnya.

Cucu mengatakan, kondisi kolam saat ini berbeda sejak dikelola swadaya oleh masyarakat. Dulu, air mengalir dari celah batu-batu ke sebuah cekungan yang ukurannya lebih kecil dari kolam saat ini. “Sekarang jadi lebih nyaman, biaya masuknya juga marah cuma Rp. 5.000,” katanya.

Biaya masuk ke kolam ini, memang terjangkau. Pengelola mematok harga untuk biaya pengembangan wisata ini ke depannya. “Baru dikelola oleh masyarakat waktu Idul Fitri tahun ini, baru empat-lima bulan ke belakang lah, kolam ini baru diketahui dari mulut ke mulut,” kata Mimi (40), salah seorang pengelola kolam air.

Lokasinya yang berada di pelosok desa, membuat pengunjung harus berupaya ekstra untuk mendatangi tempat ini. Pasalnya, tak ada papan penanda atau penunjuk ke lokasi wisata baru di Desa Drawati ini. Patokannya hanya deretan rumah warga yang berada di tanjakan yang curam.

Perjuangan tak hanya sampai situ, pengunjung harus berjalan kaki sejauh 500 meter melewati pesawahan warga, sebelum masuk ke hutan. Di sana terdapat sebuah bale yang dibubuhi papan informasi dan larangan bagi pengunjung.

“Tidak boleh membawa sampo dan minuman keras, karena airnya akan dialirkan untuk warga dan irigasi sawah, tujuh desa memanfaatkan air dari kaki gunung ini kebutuhan sehari-hari dan sawah,” ucap Mimi.

Juru Kunci mata air Campaka Pandi (52) mengatakan sumber mata air itu sudah ada sebelum ada pemukiman warga di sana. “Sudah ada ratusan tahun lalu dan juru kuncinya pun terus berganti (12 kali ganti),” kata Pandi saat ditemui di rumahnya di Kp.Campaka, Desa Drawati, Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung, Jumat (24/11/17).

Pandi mengungkapkan, menurut cerita nenek moyangnya, sebelum adanya sumber mata air Campaka, wilayah tersebut hanyalah pegunungan biasa. “Airnya dibawa dari sumber air Gunung Papandayan Garut dan disalurkan ke Kampung Campaka. Katanya dulu dibawa oleh Eyang Campaka dari Eyang Papandayan,” tuturnya.

Selain itu, nama mata air Campaka berasal dari. pohon cempaka yang terletak di sekitar mata air. Bunga tujuh warna diyakini memiliki banyak khasiat. Sebelumnya, kata Pandi, segelintir warga memanfaatkan lokasi tumbuhnya bunga Campaka tersebut untuk sesuatu hajat.

“Tujuh warna bunga menandakan mata air itu memiliki banyak khasiatnya. Banyak juga warga yang datang ke sini untuk sekedar mandi untuk mendapat keberkahan, namun sekarang pohon tersebut sudah tidak ada,” ujarnya.

Padahal, selain digunakan untuk kebutuhan warga sekitar, sumber mata air ini dialirkan juga ke tujuh desa di Kecamatan Paseh, terdiri Desa Mekarpawitan, Cijagra, Loa, Tangsimekar, Karangtunggal, Cipaku dan Drawati. Jauh dari kesan mistis yang diyakini.

Untuk mencoba kesegaran sumber mata air ini, dibutuhkan tiga jam perjalanan dari pusat Kota Bandung, letaknya berada di pelosok desa. Akses jalan menuju obyek wisata ini hanya dapat ditempuh menggunakan sepeda motor dan mobil pribadi berukuran kecil.

Wisatawan dapat menggunakan Jalan Tol Cileunyi via Rancaekek-Majalaya-Paseh-Mekarpawitan-Drawati-Kp.Campaka atau Jalan Tol Buahbatu via Bojongsoang-Majalaya-Paseh-Mekarpawitan-Drawati-Kp.Campaka. by ist

Example 300250

Respon (1)

  1. Punten min, hanya ingin memberi masukan hehe. Pada dasarnya kolam tersebut namanya bukan kolam campaka melainkan kolam cijagra, mengapa masyarakat awam hanya tahu dan mengenal bahwa kolam trsebut kolam campaka, karena memang lokasinya brada d kmpung campaka, selain itu kurangnya informasi lebih dari masyarakat setempat khususnya pengelola dan pemerintah setempat, mengakibatkan masyarakat hanya tahu nama kolam trsebut dengan nama kolam campaka. Dan memang ini salah satu objek wisata yg saya teliti kali ini untuk menyusun suatu skripsi. Mudah mudahan masukannya dapat di aspirasi, smoga kdepannya masyarakat lebih tahu dan paham bahwa nama kolam ini bukan campaka melainkan cijagra. Hatur nuhun…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

JAKARTA, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menerima Tanda Penghargaan/Jasa Bakti Koperasi Nayaka Mahambra dari Kementerian Koperasi RI atas jasa dan darmabaktinya dalam memajukan perkoperasian Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan kepada Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) dalam kategori Pejabat Negara. Penghargaan itu tertuang dalam Piagam Tanda Penghargaan Menteri Koperasi RI berdasarkan Keputusan Menteri Koperasi RI Nomor […]

Bale Bandung

JAKARTA, balebandung.com – Perjuangan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) mendorong pemerintah pusat mengambil alih pembiayaan gaji dan tunjangan PPPK daerah melalui APBN mulai menunjukkan hasil. Ketua Harian Apkasi yang juga Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan, pemerintah pusat telah menyetujui usulan Apkasi tersebut. Kepastian itu disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Senayan, […]

Bale Bandung

JAKARTA, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menerima Penghargaan Sektor Panas Bumi 2026 pada ajang Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Kamis (20/8/2026). Penghargaan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kinerja, inovasi dan dedikasi dalam pengembangan energi panas bumi […]

Bale Bandung

JAKARTA, balebandung.com –  Bupati Bandung Dadang Supriatna menghadiri pembukaan Konvensi dan Pameran Internasional ke-12 Panas Bumi Indonesia (Indonesia Geothermal Convention and Exhibition/IGCE), di Plenary Hall Jakarta Convention Centre, Rabu (19/8/2026). Kehadiran Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS)  dalam forum internasional yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, investor, serta pemangku kepentingan sektor panas bumi tersebut menjadi salah […]

Bale Bandung

RANCAEKEK, balebandung.com – Kepedulian terhadap aktivitas positif generasi muda di daerah pemilihannya ditunjukkan Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Bandung, Faisal Radi Sukmana, saat menyaksikan Seni Reak yang dtampilkan anak-anak Karang Taruna RW 09, di Jalan Cikijing, Desa Linggar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Minggu (17/8/2026). Seni Reak tersebut ditampilkan dalam rangka menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI sebagai […]

Bale Bandung

BALEENDAH, balebandung.com – Sebanyak 1.088 warga binaan di Lapas Narkotika Kelas IIA Bandung, Jelekong, Kecamatan Baleendah, mendapat remisi dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Dari jumlah tersebut, 12 orang langsung bebas dan kembali ke tengah masyarakat. Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan pemberian remisi menjadi bagian dari proses pembinaan sekaligus kesempatan bagi warga binaan untuk kembali […]