Bale Bandung

Hailuki: LKPJ Bupati Bandung 2025 Jawab Kritik dengan Data dan Capaian Nyata

×

Hailuki: LKPJ Bupati Bandung 2025 Jawab Kritik dengan Data dan Capaian Nyata

Sebarkan artikel ini
Waka DPRD Kab Bandung Hailuki (kiri) saat paripurna Nota Pengantar LKPJ Akhir TA 2025 di Gedung Paripurna DPRD Kab Bandung, Selasa (31/3/26).

SOREANG, balebandung.com – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi Demokrat, MA Hailuki, menilai Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Bandung 2025 merupakan jawaban konkret atas berbagai pertanyaan, kritik, dan harapan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten Bandung sepanjang tahun 2025.

Menurut Hailuki, berbagai kritik yang berkembang selama ini dijawab melalui capaian-capaian positif yang terukur dan dapat dibuktikan.

“LKPJ Bupati 2025 ini menjadi jawaban konkret atas pertanyaan dan kritik masyarakat terhadap kinerja Pemda Kabupaten Bandung. Kritik itu dijawab dengan data dan capaian yang nyata,” ujar MA Hailuki menanggapi Nota Pengantar LKPJ Akhir TA 2025 di Gedung Paripurna DPRD Kabupaten Bandung, Selasa (31/3/2026).

Hailuki menjelaskan, sejumlah indikator pembangunan menunjukkan hasil yang positif. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bandung mengalami peningkatan, daya beli masyarakat tetap stabil, dan pertumbuhan ekonomi daerah juga mengalami kenaikan.

“Kalau kita melihat data dari BPS, capaian Kabupaten Bandung cukup baik. IPM meningkat, daya beli masyarakat tetap terjaga, dan pertumbuhan ekonomi juga naik. Ini menunjukkan bahwa program-program pemerintah daerah berjalan dan dirasakan masyarakat,” kata Luki.

Selain itu, Hailuki menilai tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan Pemerintah Kabupaten Bandung juga cukup memuaskan. Hal tersebut, kata dia, terkonfirmasi dari hasil Survei Kepuasan Masyarakat maupun penilaian dari Ombudsman.

“Tingkat kepuasan publik juga cukup baik. Itu bisa dilihat dari survei kepuasan masyarakat dan penilaian Ombudsman. Artinya, pelayanan publik kita mengalami kemajuan,” ujarnya.

Meski demikian, Hailuki mengingatkan masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus menjadi perhatian ke depan, khususnya terkait Indeks Pembangunan Infrastruktur atau City Development Index.

Menurutnya, indeks tersebut penting untuk mengukur sejauh mana kenyamanan hidup masyarakat berdasarkan ketersediaan dan kualitas fasilitas infrastruktur daerah.

“Kita masih perlu meningkatkan indeks pembangunan infrastruktur. Ini penting karena berkaitan langsung dengan kenyamanan hidup masyarakat,” tandas Luki.

Ia menyebut, sejumlah persoalan dasar yang masih banyak dirasakan masyarakat harus menjadi prioritas pemerintah daerah, di antaranya betonisasi jalan, penanganan sampah, penerangan jalan umum, hingga perbaikan drainase dan saluran air.

“Betonisasi jalan harus ditingkatkan, masalah sampah harus lebih serius ditangani, penerangan jalan umum perlu diperluas, dan drainase maupun saluran air juga harus diperbaiki secara lebih merata di seluruh wilayah Kabupaten Bandung,” tegasnya.

Selain persoalan infrastruktur, Hailuki juga menyoroti pentingnya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Meski PAD Kabupaten Bandung mengalami kenaikan, menurutnya realisasi yang dicapai masih belum memenuhi target.

“PAD ini sangat penting karena menjadi kunci kemandirian fiskal daerah. Memang sudah meningkat, tetapi belum mencapai target. Karena itu kita harus menekan kebocoran dan mengoptimalkan aset-aset daerah agar lebih produktif,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan PAD harus menjadi perhatian serius agar Kabupaten Bandung memiliki kemampuan fiskal yang lebih kuat untuk membiayai pembangunan ke depan.

“Kita ingin Kabupaten Bandung semakin mandiri. Maka potensi-potensi pendapatan harus dimaksimalkan dan aset daerah harus dikelola lebih baik agar memberi manfaat yang besar bagi masyarakat,” pungkas Hailuki.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah terhadap mahapatih yang mengubah perkawinan menjadi penaklukan. Perang Bubat sering datang kepada kita dalam kalimat-kalimat pendek. Dalam Carita Parahyangan, ia hanya muncul sebagai jejak singkat: orang-orang berperang di Majapahit. Dalam Pararaton, ia dicatat lebih terang, tetapi tetap ringkas: ada peristiwa Pasunda […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Pangeran Wastu Kancana ditinggal wafat ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana, ketika ia berusia 9 tahun. Ayahnya meninggal dalam Perang Bubat tahun 1357 M. Karena Wastu masih terlalu muda untuk menjadi Raja Sunda, pemerintahan lalu dipegang oleh pamannya, Sang Bunisora, sebagai pejabat sementara raja. Perang Bubat bukan cuma tragedi gugurnya Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Pusat Sumber Daya Komunitas atau PSDK DAS Citarum mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Desakan itu disampaikan menjelang 10 Tahun Hari Citarum yang diperingati setiap 24 Mei. Ketua PSDK DAS Citarum Ahmad Gunawan mengatakan evaluasi diperlukan karena sejumlah program […]

Bale Bandung

PARARATON umumnya diartikan sebagai “Kitab Para Ratu”. Akar katanya adalah ratu. Dalam Jawa Kuno/Jawa Pertengahan, ratu tidak selalu berarti “ratu perempuan” seperti dalam bahasa Indonesia modern. Ratu bisa berarti penguasa, raja, raja perempuan, atau monark. Jadi lebih aman diterjemahkan sebagai penguasa kerajaan. Sumber ringkas juga menjelaskan Pararaton berasal dari “para ratu” yang berarti para penguasa, […]

Bale Bandung

balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan. Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan […]