ARJASARI, balebandung.com – Pemerintah Kabupaten Bandung mendorong pelestarian seni ketangkasan Domba Garut agar tidak hanya menjaga warisan budaya Sunda, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Tradisi yang lekat dengan identitas masyarakat Pasundan ini dinilai memiliki potensi untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi lokal.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bandung, Irvan Ahmad, menyampaikan hal tersebut saat membuka Gebyar Budaya dalam rangka Milangkala ke-70 DAMAS di Pamidangan Pakusorok, Kampung Pakusorok, Desa Baros, Kecamatan Arjasari, Minggu (25/10/2026).
“Seni ketangkasan Domba Garut merupakan bagian dari warisan budaya Sunda yang harus kita jaga bersama. Pelestariannya tidak hanya penting untuk mempertahankan identitas masyarakat Pasundan, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” ujar Irvan.
Seni ketangkasan Domba Garut bukan sekadar tontonan tradisional, melainkan juga ruang pertemuan peternak dan masyarakat untuk menjaga tradisi yang diwariskan lintas generasi. Kegiatan semacam ini turut membuka peluang ekonomi bagi pedagang, pelaku UMKM, serta warga di sekitar lokasi penyelenggaraan.
Meski demikian, pelestarian tradisi perlu berjalan seiring dengan perhatian terhadap kesejahteraan hewan dan nilai-nilai agama. Penyelenggaraan seni ketangkasan diharapkan memperhatikan keselamatan satwa, mengikuti ketentuan arena, serta menjunjung prinsip tanpa perjudian agar tradisi tetap terjaga dan diterima masyarakat luas.
Gebyar Budaya Milangkala ke-70 DAMAS diselenggarakan DAMAS Kabupaten Bandung bersama Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI). Selain menampilkan seni ketangkasan Domba Garut, kegiatan tersebut diisi pemeriksaan kesehatan gratis, santunan anak yatim, dan makan bersama atau botram.
Rangkaian kegiatan itu memperlihatkan bahwa perayaan budaya dapat menjadi ruang silaturahmi sekaligus kegiatan sosial yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Melalui kolaborasi berbagai pihak, pelestarian budaya diharapkan tidak berhenti pada pertunjukan, tetapi turut memperkuat identitas lokal dan membuka peluang ekonomi di Kabupaten Bandung.***







