Bale Kab BandungHumanioraLingkungan

Pemkab Ditawari Investasi IPAL Terpadu di 4 Titik

 Ketua Majelis Hakim PTUN Bandung Nelvy Christine SH, MH., saat menggelar persidangan setempat di IPAL PT Kahatex atas gugatan hukum Koalisi Melawan Limbah terhadap izin pembuangan air limbah yang diberikans Pemkab Sumedang ke PT Kahatex, PT Five Star dan Insan Sandang Internusa di Sumedang, Rabu (16/3/16). by Greenpeace
Ketua Majelis Hakim PTUN Bandung Nelvy Christine SH, MH., saat menggelar persidangan setempat di IPAL PT Kahatex atas gugatan hukum Koalisi Melawan Limbah terhadap izin pembuangan air limbah yang diberikans Pemkab Sumedang ke PT Kahatex, PT Five Star dan Insan Sandang Internusa di Sumedang, Rabu (16/3/16). by Greenpeace

MAJALAYA – Sedikitnya empat titik di Kabupaten Bandung bakal dipasangi instalasi pengolahan air limbah (Ipal) terpadu oleh calon investor swasta. Keempat titik itu meliputi Kecamatan Margaasih, Baleendah, Majalaya, dan Kec Rancaekek.

Kabarnya invetasi IPAL Terpadu itu sudah ditawarkan PT Surya Duta Parahyangan (SDP) kepada Pemkab Bandung melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kab Bandung. Nilai investasi IPAL Terpadu di keempat titik ini diperkirakan mencapai Rp 5 triliun.

Kepala DLHK Kab Bandung Asep Kusumah mengaku pihaknya sudah menerima surat penawaran dari calon investor tersebut dan selanjutnya menyerahkan kepada tim DLHK untuk mengkaji terlebih dahulu.

“Memang sudah masuk suratnya ke kantor, tapi kita harus kaji dulu. Apakah ini memang layak atau tidak dijadikan investasi, termasuk kajian tata ruangnya di mana IPAL tersebut cocok untuk dipasang. Sebab untuk investasi itu konsumennya sedikit, hanya 16 industri. Jadi untuk hitungan investasi tentu ini berat apalagi menelan dana sampai Rp 5 triliun,” terang Asep kepada Balebandung saat ditemui di Majalaya, Kamis (25/5/17).

Asep menambahkan, pemasangan instalasi IPAL tersebut cukup mahal sehingga memungkinkan untuk menelan biaya mencapai triliunan rupiah. “Ya, mungkin saja mencapai Rp 5 triliun karena untuk satu titik saja IPAL Terpadu itu membutuhkan dana ratusan miliar,” ujar Asep.

Pihaknya kana terus melakukan komunikasi dengan calon investor tersebut dan melakukan kajian lebih lanjut terkait cocok tidaknya dibangun IPAL Terpadu di empat titik tersebut. “Termasuk kajian konsistensi ke depannya, jangan sampai Ipal Terpadu tersebut hanya berfungsi sementara dan berhenti di tengah jalan,” kata dia.

Tawarkan Investasi

Keberadaan IPAL Terpadu ini dibutuhkan agar limbah industri tidak lagi mencemari lingkungan khususnya Sungai Citarum. Pemkab Bandung sendiri telah lama menawarkan investasi pembangunan IPAL Terpadu kepada para calon investor. Nilai investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan dan pengoperasian sebua IPAL berkisar Rp.48 miliar s/d Rp. 75 miliar.

Investasi di bidang IPAL terpadu ini dianggap dinilai cukup menjanjikan. Mengingat Kabupaten Bandung merupakan daerah sentra industri tekstil terbesar di Jawa Barat yang salah satunya berada di Kecamatan Majalaya.

Dengan tersedianya IPAL terpadu diharapkan para pengusaha industri tekstil di Majalaya akan lebih terbantu dalam pengolahan air limbahnya dengan tarif lebih ekonomis. Dibanding dengan membangun dan mengoperasikan IPAL tersendiri, para pengusaha industri tekstil diyakini bakal lebih memilih IPAL terpadu, karena biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah.

Dampak positif yang ditimbulkan dengan adanya IPAL terpadu, diantaranya tingkat pencemaran air di beberapa aliran sungai bisa lebih berkurang. Karena limbah industri yang selama ini sering dibuang ke aliran sungai, bisa diolah terlebih dahulu di IPAL terpadu. Diperoleh catatan, IPAL terpadu bisa mengolah air limbah secara kimia, fisika dan biologis sebanyak 310 liter/detik.

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close