SOREANG, balebandung.com – Menjelang musim kemarau, warga di lima titik di Kabupaten Bandung mengeluhkan tidak berfungsinya sumur bor Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang dibangun pada 2020 oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) Kabupaten Bandung melalui Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
Kelima titik tersebut antara lain di Kampung Campaka Desa Sukanagara Kecamatan Soreang; SPAM di Kampung Cikertew RT 02/ RW 05 dan RT 02/RW 02 Desa Mekarjaya juga di Kampung Kaca-kaca RT 1 RW 11 Desa Pasirmulya Kecamatan Banjaran, dan di RT 1 / RW 11 Desa Neglasari Kecamatan Ibun.
Warga Kampung Campaka Desa Sukanagara Kecamatan Soreang mengeluhkan saat ini fasilitas SPAM berupa sumur bor dengan pompa air sibel sedalam sekitar 30 meter tersebut tidak lagi mampu menyedot air. Akibatnya, torn atau penampung air sudah lama dalam kondisi kosong dan tidak dapat dimanfaatkan warga.
Selain faktor teknis, lokasi pembangunan SPAM yang berada di atas bukit juga diduga memengaruhi kinerja penyedotan air, sehingga tidak dapat berfungsi secara maksimal.
Ketua RT 2/RW 5 Kampung Campaka, Dedi, menyebutkan bahwa pada awal pembangunan, SPAM tersebut sempat berfungsi dengan baik.
“Awalnya bisa menyedot sampai 1.000 liter dalam 15 menit. Tapi kemudian turun jadi sekitar 500 liter, dan setelah itu sudah tidak bisa menyedot lagi,” ujar Dedi, Jumat (24/10/2026).
Menurut informasi, Program Pamsimas ini didistribusikan dari Anggaran Aspirasi Anggota DPRD Jawa Barat Dapil Jabar II mencakup Kabupaten Bandung.
Dalam mekanisme pengelolaan SPAM, setelah pembangunan biasanya dilakukan serah terima dari dinas kepada Kelompok Penerima Manfaat (KPP) yang bertugas mengelola dan memelihara fasilitas tersebut. Pengelolaan selanjutnya juga melibatkan pemerintah desa setempat.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa fasilitas tersebut saat ini belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Program SPAM sendiri merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan akses air bersih bagi masyarakat, khususnya di wilayah yang belum terjangkau layanan perpipaan. Keberadaan SPAM diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang dalam pemenuhan kebutuhan air minum warga.
Warga berharap adanya evaluasi dan penanganan lebih lanjut agar fasilitas SPAM yang telah dibangun tersebut dapat kembali berfungsi dan dimanfaatkan secara maksimal.
Selain itu, diperlukan juga koordinasi antara pengelola di tingkat masyarakat dengan pemerintah daerah guna memastikan keberlanjutan operasional dan pemeliharaan sarana air bersih tersebut.
Dengan adanya perbaikan dan optimalisasi, warga berharap kebutuhan air bersih di Kampung Campaka dapat terpenuhi secara lebih mudah dan berkelanjutan.***







