Bale Kab BandungGaya HidupKesehatan

Aher; Kopi adalah Budaya dan Baik untuk Kesehatan

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan berkesempatan menikmati a cup of coffee saat acara "Sarasehan Urang Gunung" khususnya penggiat Java Preanger Coffee di Vila Puntang Djaya Bandung Resort, Desa Campakamulya, Kec Cimaung, Kab Bandung, Senin (17/10). by Den Humas Pemprov Jabar.
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan berkesempatan menikmati a cup of coffee saat acara “Sarasehan Urang Gunung” di Vila Puntang Djaya Bandung Resort, Desa Campakamulya, Kec Cimaung, Kab Bandung, Senin (17/10). by Den Humas Pemprov Jabar.

CIMAUNG – Minum kopi kini jadi tren atau lifestyle di kalangan masyarakat. Tak mengenal usia muda ataupun tua, minum segelas kopi tak hanya di pagi hari menjadi suatu hal yang dinanti dan wajib dinikmati. Namun, bagaimanakah kopi yang baik untuk kesehatan dan budaya di masyarakat?

Para komunitas atau kelompok kopi, yang terdiri dari para petani dan pengrajin kopi asal Jawa Barat berkumpul dalam acara “Sarasehan Urang Gunung” khususnya penggiat Java Preanger Coffee di Vila Puntang Djaya Bandung Resort, Desa Campakamulya, Kec Cimaung, Kab Bandung, Senin (17/10/16).

Pada kesempatan sarasehan ini, Gubernur Ahmad Heryawan pun membagi tipsnya. Pria yang akrab disapa Aher ini mengaku dirinya bisa minum kopi hingga 5 (lima) cangkir dalam sehari, tanpa khawatir jantungnya berdebar dan tetap bisa relax di kala meminumnya.

Dari sisi kesehatan, Aher menjelaskan bahwa kopi bisa memberikan manfaat kesehatan untuk tubuh kita. Kopi bisa membuat kulit lebih sehat dan bersih, mencegah kanker prostat, mencegah penyakit step pada balita, serta bisa menyehatkan jantung bagi peminumnya.

“Kopi yang original diminum adalah kopi yang tanpa gula sama sekali, itu kopi yang sehat! Walaupun mau ada rasa manisnya pakai madu, bukan gula. Jadi kualitas cara kita minum kopi harus meningkat, ” terangnya.

Bagi Aher, kopi saat ini memiliki nilai jual yang tinggi. Namun, menurutnya nilai jual kopi akan lebih meningkat apabila kita menilai kopi sebagai sebuah paradigma budaya dan kehidupan, bukan nilai ekonomi semata.

“Kopi bukan hanya sebagai pangan, tapi juga sebagai budaya sehingga kita bisa menikmatinya dengan baik. Karena produk pangan dari petani adalah produk dengan harga kehidupan bukan dengan harga ekonomi. Jadi, mari kita hargai kopi sebagai culture jadi bisa dihargai dengan memadai,” ucapnya.

“Saya dukung usaha-usaha kreatif dengan memanfaatkan kopi, seperti kuliner, kriya alat seduh kopi design kemasan kopi, dan lainnya. Dan saya dukung kalau kopi itu digiling bukan digunting,” selorohnya.

Pada acara sarasehan ini, dilakukan pula pencanangan pemberian permodalan atau kredit serta bantuan pembinaan sektor jasa keuangan, yaitu dari Bank BNI dan BJB bagi para petani dan pengrajin kopi di Jawa Barat.

BNI memberikan bantuan CSR berupa Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) untuk pengolahan limbah dan green house kepada Ayi Sutedja sebesar Rp 50 juta, serta program Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara simbolis kepada 5 (lima) orang masing-masing Rp 25 juta. Sementara Bank BJB memberikan program Kredit Cinta Rakyat (KCR) secara simbolis kepada lima orang masing-masing plafon Rp 5 juta.

Program bantuan ini pun disambut baik dan mendapat apresiasi dari Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mulyaman Hadad yang juga hadir pada sarasehan ini. Mulyaman mengatakan hal tersebut seiring dengan upaya OJK yang terus mendorong dunia perbankan di Indonesia agar bisa mempermudah pemberian kreditnya.

“Ini bisa membuka akses keuangan yang lebih besar, sehingga inklusi keuangan yang sekarang didorong oleh pemerintah itu bisa menjadi bagian dari ini. Yang penting adalah sudah terintegrasinya prosesnya, mulai dari kepastian produknya, sertifikasi bibitnya, pembinaan mentalitas kepada para petani kemudian produknya ada yang beli. Nah, kalau sudah seperti itu semuanya kan lancar,” ungkap Mulyaman.

OJK pun saat ini tengah mendorong suistanable finance, terutama terkait pemberian kredit yang tidak hanya bussiness oriented namun juga berorientasi pada lingkungan. Menurut Mulyaman, dunia saat ini tengah fokus pada permintaan produk-produk ramah lingkungan.

“Kita mengedepankan jangan hanya bussiness oriented terutama pada produk-produk seperti ini (kopi). Makanya kita juga dorong lembaga keuangan untuk juga masuk dan memahami prospek yang ada di suistanable finance atau green financing ini,” pungkasnya.

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close