Bale Kab Bandung

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [26]: Bule Jorok Keturunan Pajajaran

Sebuah Novel Menyambut Hari Jadi Kab Bandung ke-378

Balebandung.com – Pada tahun itu pula Ukur menuntaskan masa perjakanya. Ia menikah. Seorang dara putri Prabu Geusan Ulun bernama Nyai Nonon Saribanon menjadi istrinya[1]. Setelah menikah, Nyai Saribanon pun dipanggil sebagai Nyimas Ukur. Ukur memang pemuda pemalu. Sifat itu serta kesibukannya membuat Ukur disebut-sebut tak pernah mengalami masa-masa pacaran. Barangkali karena bingung, mau nonton dimana kalau pacaran, sementara saat itu belum ada bioskop 21! Teuing kitu ge!

Pengangkatan Ukur sebagai dipati Tatar Ukur dan penguasa Kabupaten Sumedang menggantikan Dipati Rangga Gede, bukan tanpa syarat. Tetapi tanpa syarat eksplisit pun tak ada yang bisa ditawarkan Ukur. Tatar Ukur, demikian pula Kabupaten Sumedang, telah lama menjadi wilayah bawahan Kerajaan Mataram. Dengan atau tanpa perjanjian pun dirinya adalah penguasa bawahan Sultan Agung yang harus tunduk kepada perintah penguasa Mataram itu. Wajar, manakala ditunjuk sebagai pengganti Rangga Gede, Ukur sempat heran manakala dirinya diminta mencap jempol sebuah perjanjian.

Satu di antara banyak klausul perjanjian itu adalah kesanggupannya untuk mengerahkan bala tentara manakala Mataram menyerang pihak musuhnya. Tak ada penunjukan tegas siapa yang disebut musuh, tetapi Ukur tahu itu tak lebih dari Banten, pihak Kumpeni VOC yang kini menguasai Jaya Karta yang diganti bule-bule jorok itu dengan nama Batavia, serta beberapa kerajaan kecil di Madura. Setahu Ukur tak pernah sekali pun Sultan Agung berpikir untuk menguasai Bali, tanah yang menurutnya penuh sihir.

Ukur kini menjadi penguasa sebuah dataran luas. Ke timur wilayahnya dibatasi Sungai Cipamali[2]. Di sebelah barat wilayah Ukur dibatasi Sungai Cisadane, sebelah utara berbatasan dengan wilayah Baghasasi (Bekasi), ke timur dibatasi Sungai Cilutung– wilayah Sindang Kasih yang diberikan kepada Cirebon sebagai pengganti Ratu Harisbaya.

Secara administratif wilayah Tatar Ukur terdiri dari 22 wilayah Kandaga Lante dan 18 Umbul[3]. Hal itu meliputi kabupaten Bandung yang melingkup Timbanganten, Batulayang, Kahuripan, Tarogong, Curug Agung, Marunjung, wilayah Ngabei Astramanggala, Kabupaten Parakanmuncang, Selacau, wilayah Ngabei Cucuk, Manabaya, Kadungora, Kandangwesi (bungbulang), Galunggung (Singaparna), Cihaur, Taraju, Kabupaten Sukapura, Karang, Parung, Panembong, Batuwangi, Saung Watang (Mangunreja), Daerah Ngabei Indawangsa di Taraju Suci, Cipiniha, Mandala, Nagara (Pameungpeuk), Cidamar, Parakan Tiga, Muara, Cisalak, Sukakerta dan sebagainya.

***

Batavia 1628

Batavia adalah wilayah kumuh yang dikuasai bule-bule jorok. Jangan pernah terkesima dengan uraian seorang pelaut bangsa Inggris yang menceritakan kota ini dengan segala bualan, ibarat keterpesonaan seorang anak muda Jasinga yang baru keluar dari kampungnya pertama kali tiba di Jakarta. Itu cerita seabad kemudian[4]. Apalagi orang Inggris itu pun tetap saja menyatakan orang-orang Belanda penguasa Batavia saat itu sebagai orang bodoh.

Tak ada saat itu julukan sebagai Paris di Timur. Tak ada saat itu “…jalan-jalan dibuat lurus dan saling bersimpangan dengan sudut tegak lurus. Setiap jalan dibelah tepat di tengah, dengan sebuah kanal yang dindingnya berlapis dengan batu dan terhubung dengan sebuah tangga batu rendah di kedua sisi”.

Tak mungkin saat itu para pengelana melukiskan Jakarta sebagaimana John Barrow menukis bahwa “…di batas kota Batavia, terdapat kebun-kebun luas milik orang Belanda yang dilengkapi villa bergaya oriental. Sementara di daerah lain, ada tanah yang tadinya banyak kanal dan parit dirubah menjadi taman-taman dan villa yang dihiasi oleh jembatan gantung tempat orang Belanda bersenang-senang.”

Belum lagi ada “…jalan-jalan yang memiliki lebar antara 114-204 kaki (sekitar 34 m-62m), dan memiliki trotoar selebar 6 kaki (sekitar 1,8 m), yang dihiasi pepohonan, paling banyak dari spesies Calaba, Canarium Cummune atau dikenal dengan pohon kacang kenari dengan bunganya yang berbau harum, serta pohon asam yang bentuknya lebar, elegan, dan menjalar.”

Yang ada saat itu, bahkan hingga kedatangan Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier yang menjabat sejak 1737, adalah kota kumuh yang padat ditinggali manusia. Kota tempat bandit-bandit segala bangsa berkumpul dan bertahan hidup. Di sinilah seorang bandit besar dan pahlawan bangsanya, Arung Palakka, pernah tinggal dan menjadi raja kecil.

Batavia adalah kota yang tengah dilanda persoalan ekonomi seiring lemahnya VOC dalam persaingan perdagangan, termasuk perdagangan gula dengan Brasil[5]. Jumlah pengangguran melesat. Overpopulasi, dengan jumlah yang bermukim di dalam tembok kota saja sekitar 4.000 orang, sedangkan yang di luar benteng tidak kurang dari 10 ribu orang.

Orang-orang VOC itu jorok. Mereka minum air dari sungai yang di pinggir sungai itu setiap pagi mereka berbaris ibarat tentara (memang mereka tentara), jongkok membuang apa yang mereka makan sehari sebelumnya. mereka tak mengenal peturasan, karena penemuan hebat yang awalnya orang-orang bule pandang aneh itu baru dipakai di negara mereka 240-an tahun setelah mereka mendarat di Batavia.

Mereka pun minum air sungai itu begitu saja, tak sebagaimana kebiasaan rakyat pribumi yang harus susah payah menjerangnya dulu hingga mendidih. Kopi? Sebelumnya mereka tak suka. Jadi kebiasaan menjerang air pun belum pada abad ke-17 itu mereka adaptasi.

Pada tahun-tahun Ukur memerintah itu, penguasa VOC adalah Gubernur Jenderal Jan Pieterzon Coen. Orang-orang pribumi menyebutnya Murjangkung. Orang yang dipercaya VOC itu mengambil-alih Jayakarta dari Kesultanan Banten pada 1619. Sebelumnya ia dianggap sukses berdagang lada dan pala di Ambon.

Murjangkung adalah seorang pembelajar dan orang yang ulet. Ia belajar dan tahu bahwa orang-orang pribumi sangat mempercayai mitos. Atas sarannya sendiri dibuatlah mitos bahwa sebenarnya si Murjangkung ini seorang keturunan Jawa. Bahkan keturunan raja-raja Pajajaran. Konon diceritakan bahwa ibu Murjangkung adalah terah Pajajaran, kerajaan Shiwais kuno di Jawa Barat. Dia diusir suaminya, penguasa Jayakarta. Ayahnya adalah saudara Sekender (kata Jawa untuk Alexander yang menyimbolkan penakluk Barat. Jadi, ketika Murjangkung mengambil alih Batavia, ia hanya mengambil kembali hak-hak yang memang menjadi milikya[6]. [bersambung/garda nasional.id]

[1] Prabu Geusan Ulun mangkat sekitar tahun 1603. Jadi pernikahan itu terjadi jauh setelah mangkatnya raja Sumedang Larang itu. Ada pula versi yang mengatakan istri Dipati Ukur itu adalah putri Dalem Ukur.
[2] Dalam naskah klasik Carita Parahyangan yang menceritakan perjalanan Bujangga Manik, tertulis Sungai Cipamali yang saat ini berada di wilayah Cilacap itu sebagai ‘tungtung Sunda’ atau ujung Sunda.
[3] Batas wilayah itu terkuak berdasarkan surat Rangga Gempol III (Pangeran Panembahan Kusumah Dinata VI), bupati Sumedang waktu itu, kepada Gubernur Jenderal Willem Van Outhoorn. Surat itu dibuat Senin, 2 Rabiul Awal tahun Je atau 4 Desember 1690 M. Termuat dalam buku harian VOC di Batavia, 31 Januari 1691 M.
[4] Sir John Barrow, seorang pelaut Inggris, singgah di Batavia pada kurun waktu 1792-1793, dalam perjalanannya menuju Chocin-Tiongkok. Laporan perjalanan itu dirangkum James R Rush dalam buku ‘Jawa Tempo Dulu’.
[5] Lihat Greg Purcell, South East Asia Since 1800, 1965:14.
[6] Lihat Bernard Hubertus Maria Vlekke dalam “Nusantara: Sejarah Indonesia”

Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [25]: Di Tanah Jawa Haram Ada Dua Matahari

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close